Misteri Rumah Tua
Saat baru saja menjejakkan kaki di desa ini, suasananya masih sama seperti dulu, sangat asri. Pepohonan nan hijau juga sawah dan ladang yang terhampar luas yang memanjakan mata. Luar biasa! Kekayaan alam tanah air sungguh mempesona. Setelah lelah dengan kesibukan kota beserta hiruk-pikuknya, kini aku bisa merasakan ketenangan dan menikmati segarnya udara pedesaan yang sejuk. Suasana seperti ini tak akan pernah bisa kurasakan di kota.
"Amel, jangan lupa tutup cerminnya!" Suara berat Nenek terdengar dari luar pintu kamar.
"Iya, Nek!" jawabku saat sedang merebahkan diri di tempat tidur yang usang.
Baru saja beberapa menit yang lalu aku tiba di desa ini. Tempat di mana Ayah dilahirkan. Suasana hunian yang berdebu serta lembab membuatku merasa iba pada Nenek. Di usianya yang kian senja, ia hanya tinggal seorang diri, hingga tak ada siapa pun yang mau membantu merawat rumah dan pekarangan.
Sudah lama kami tak bersua. Ayah juga Ibu tak pernah sekali pun menceritakan tentang keadaan Nenek padaku. Karena terlalu sibuk bekerja.
Ini malam pertama aku menginap di rumah Nenek. Untuk yang ke dua kalinya kembali ke desa ini, semenjak kurang lebih lima belas tahun lalu. Waktu itu usiaku baru tujuh tahun.
Malam itu hujan begitu deras, angin kencang mematahkan dahan-dahan pohon. Daun jendela yang lupa dikunci, tertutup keras olehnya. Aku beranjak dari tempat tidur memerhatikan keadaan di luar rumah. Sepertinya akan badai. Tadi, Nenek berpesan padaku, jika ada angin kencang beserta hujan, semua cermin harus ditutup dengan kain.
Kuraih beberapa helai kain dari dalam lemari besar usang penuh sarang laba-laba yang ada di ruangan itu, lalu menutup cermin meja rias di sampingnya.
Malam semakin larut, Nenek pun sudah masuk ke kamar untuk segera beristirahat setelah selesai menyisir rambutnya. Aku masih asyik menggeser-geser layar gawai, sekedar melihat-lihat kembali hasil bidikan gambar siang tadi. Saat masih dalam perjalanan menuju kediaman Nenek.
Pada foto kelima, diambil dari pemandangan air terjun. Tak sengaja kamera telepon pintarku menangkap gambar seorang ibu dengan dua anaknya yang sedang duduk di atas batu berukuran besar. Kuperbesar foto itu dan memandanginya dengan seksama, ada sesuatu yang aneh. Sesosok wanita tengah menyeringai ke arah kamera berdiri di antara ibu dan anak itu, dengan rambut panjang tak terawat juga pakaian serba putih lusuh. Di lehernya bersimbah darah. Terkejut dengan apa yang kulihat, seketika itu bulu kuduk meremang. Tak sadar andriodku pun terlempar ke lantai.
Angin kencang masih berembus. Petir menggelegar. Aliran listrik tiba-tiba padam. Dalam gelap, kuraih gawai yang terjatuh dari tangan, cahayanya lumayan menerangi sekeliling.
Dari gemericik bunyi rintik hujan, samar-samar terdengar tangis pilu seorang wanita. Suaranya seperti dari arah ruang tidur Nenek yang bersebelahan dengan kamarku. Kuperlambat langkah, memastikan suara itu dari arah mana datangnya. Kucoba untuk membuka pintu. Keringat bercucuran saat tangan seseorang mendadak menyentuh bahu dari belakang. Tubuh terasa kaku, jantung pun berdetak kencang. Untuk berteriak saja aku tak kuasa, apalagi menoleh. Tuhan, siapa yang ada di belakangku saat ini?
Syukurlah, listrik kembali menyala. Kupalingkan wajah ke belakang dengan rasa takut setengah mati, ternyata tak ada siapa-siapa. Rumah klasik model panggung dengan empat kamar ini hanya ada aku dan Nenek saja, dan aku sendirian di kamar ini. Lalu, siapa yang menyentuh bahuku tadi?
Aku kembali ke tempat tidur, dengan keringat yang masih bercucuran. Memaksakan mata untuk terpejam. Namun, tak bisa. Semoga malam ini cepat berlalu dan pagi segera tiba.
Gawai berdering. Ada sebuah pesan masuk dari Ayah.
[Mel, jangan lupa besok bersihkan makam Nenek.]
DU LIEST GERADE
Rumah Tua
HorrorPengalaman mistis Amel yang hendak berkunjung di rumah Nenek. Namun, misinya sempat terhalang oleh hal-hal yang aneh dan menyeramkam. Bagaiman kelanjutan kisah Amel? Apakah tujuannya dapat terwujud? Kuy! Pantengin ceritanya. ~Nunung AR~
