Ep 01 - Love You Too

163 16 2
                                        

Kediaman Keluarga Satria, 04.45

"Mah." 

"Hmm."

"Capek banget ya Mah?"

Satria terus mencoba untuk membangunkan istrinya, Dinda, yang semalam harus pulang larut malam karena ada closing event yang harus ia selesaikan. Satria aja yang cuman jemput berasa capeknya, nggak kebayang gimana capeknya sang istri yang udah standby dari subuh disana.

"Bangun yuk Mah, subuh dulu." ajak Satria.

"Iya Mas. Titip bangunin anak anak ya."

"Iya. Kamu wudhu duluan gih."

Dinda beranjak dari kasurnya dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk wudhu. Keluar dari kamar mandi Dinda melihat kedua anaknya, Katya dan Dwito duduk di kursi depan kamar mandi dengan muka bantal mereka, menunggu giliran wudhu.

Pagi itu, Selasa 12 November 2017, keluarga Satria memulai harinya seperti biasa. Menunaikan ibadah subuh berjamaah, mandi, dan bersiap siap untuk berangkat kerja dan sekolah. Biasanya pukul 06.15 mereka semua sudah siap.

Satria merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan otomotif, dan Dinda adalah seorang event organizer yang sering handle event besar seperti pameran buku, travel, batik, dan pameran  lainnya. Keduanya adalah teman dibangku SMA, yang sebetulnya saling taksir tapi sama-sama nggak berani mengungkapkan perasaannya. Untungnya saat bekerja mereka dipertemukan kembali, tepatnya saat Dinda harus menghandle pameran mobil perusahaan Dimas. Kisah mereka pun dimulai dari situ.

3.5 tahun menjalin hubungan, Satria dan Dinda pada akhirnya menikah. Selang 1 tahun, mereka dikaruniai seorang putri, Katya. Lalu ditahun selanjutnya mereka mendapatkan anak laki-laki, Dwito. 

Keduanya betul-betul menurunkan sifat Ayah dan Ibunya. Katya adalah seseorang yang pemberani, memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa untuk seusianya, dan juga merupakan anak yang extrovert. Hal ini tercermin dari perannya sebagai Ketua OSIS di SMPnya.

Berbeda dengan Katya yang extrovert, adiknya yang berbeda 1 tahun, Dwito, cenderung introvert. Kalau cara Katya ngecharge dirinya adalah bersosialisasi dengan orang lain, Dwito lebih memilih untuk melakukan banyak hal sendiri, terutama berolahraga. Walaupun begitu, tetap saja sama seperti Katya, Dwito juga punya jiwa leadership yang menurun dari Ayahnya. Ibaratnya kalau Katya adalah leader yang bawel, Dwito adalah leader yang kalem. Ini terbukti dari keberhasilannya berperan sebagai kapten tim bola di SMPnya.

Keluarga Satria adalah keluarga yang dikenal dengan kesederhanaannya. Rumah mereka nggak besar, tapi cukup membuat mereka berempat betah untuk menghabiskan waktu bersama. Karir Satria dan Dinda juga cukup baik, walaupun tidak cepat untuk mereka bisa mencapai posisi ini. Katya dan Dwito juga hanya ada di 10 besar,  dan hal ini nggak menjadi masalah. Karena menurut Ayah Ibunya, selain nilai di kelas, ada hal yang jauh lebih penting dari itu.  Yaitu sikap dan perilaku kita terhadap orang lain, baik ke keluarga, teman, atau bahkan masyarakat luas.

Kesederhanaan ini adalah kunci kebahagiaan mereka sebagai keluarga. Walaupun tetap saja konflik muncul setiap harinya, namun dengan komunikasi yang kuat, mereka selalu berhasil menghadapi semua konflik ini bersama-sama.

Rutinitas pagi mereka setelah bersiap-siap adalah berangkat ke tempat kerja dan sekolah. Mereka selalu berangkat menggunakan 2 mobil. Mobil pertama berisi Satria, yang berkantor di Sudirman, dan anak-anaknya yang bersekolah di Kebayoran Baru. Sedangkan mobil yang satu lagi hanya ada Putri. Karena pekerjaan Putri sebagai event organizer membuat Putri memiliki jam kerja dan lokasi meeting yang cukup random setiap harinya.

"Yakin nggak mau dirumah dulu?" kata Satria kepada Dinda yang sama sama sedang bersiap siap di kamar mereka.

"Iya Mas. Soalnya kemarin belum selesai urusannya di venue." jawab Dinda dengan suaranya yang masih agak lemas. 

A Life to Remember (Park Sungjin)Stories to obsess over. Discover now