1

91 9 0
                                        

"Gis, Lu yakin?"

Agysta yang sedang mengemas barangnya pun beralih menatap sahabatnya itu. Agysta tersenyum hangat lalu menggenggam tangan wanita didepannya.

"Gua yakin, karena ini tugas Gua." balas Agysta, lalu ia merogoh tas nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Ia menyerahkan uang itu pada Alea lalu tersenyum.

"Gua titip Ariel, Ari sama Arya, Gua percaya sama Lu. Nanti tiap bulan Gua transfer uang buat mereka ke rekening Lu," tambahnya. Alea pun tersenyum dan mengangguk. "Mereka aman sama Gua. Lu jaga diri, ya."

Alea pun membantu Agysta mengemas barang-barang nya. Setelah semua barang selesai dikemas, mereka keluar dari kamar Agysta. "Lu beneran berangkat Mba?" tanya adiknya, Arya.

Agysta tersenyum lalu mengangguk. "Ini kerjaan Gua. Jagain Ariel sama Ari, jangan di tangisin. Nih buat beli pulsa, ada apa-apa kabarin Gua." balas Agysta lalu menyerahkan selembar uang bernilai 100 ribu rupiah.

"Yuk, Gis." Agysta melirik Alea sekilas. Lalu ia kembali menatap adiknya. "Ikut kaga?" tanya Agysta yang diangguki Arya.

☘☘☘

"Belajar yang bener ya, nurut sama Abang, sama kak Alea. Nanti kalo udah selesai, Mba Agis langsung pulang kok." ucapnya pada Ariel dan Ari. Kedua adiknya itu mengangguk lalu memeluk Agysta. Agysta pun membalas pelukan kedua adik tirinya itu.

Setelah beberapa saat, ia melepas pelukan mereka dan beralih ke Arya. Untuk pertama kali nya dalam 20 tahun terakhir Agysta kembali memeluk adiknya itu. Arya pun tak menolak, tapi tak membalas pula.

Agysta pun melepas pelukannya. Ia menatap adiknya yang kini lebih tinggi darinya itu. "Yakin ga mau meluk Gua? Nanti kangen," goda Agysta. Arya pun tersenyum, namun dimata nya terdapat genangan air mata yang terlihat jelas.

Agysta kembali memeluk adik kandungnya itu. Kini Arya membalas pelukan itu, membuat beberapa butir air mata membasahi mereka. Cukup lama mereka berpelukan, hingga suara peringatan membuat mereka terpaksa melepas pelukan itu.

"Cengeng Lu, cowo apa cewe?" tanya Agysta sambil menghapus jejak air mata adiknya. "Gua titip Ariel sama Ari, kalo butuh apa-apa bilang sama Alea aja." tambahnya. Lalu ia beralih merengkuh sahabatnya itu.

"Gua pamit ya," ucapnya. Alea mengangguk lalu menggenggam tangan Ariel dan Ari. Agysta pun menarik koper-koper miliknya menjauhi mereka sambil melambaikan tangannya.

Dari kejauhan ia masih bisa melihat kedua adik tirinya itu menangis dalam pelukan Alea. Sebenarnya ia tak rela meninggalkan ketiga adiknya, tapi ini juga demi mereka. Terutama Arya yang harus membayar biaya kuliah tiap semesternya.

Agysta juga sebenarnya segan menitipkan kedua adik tirinya pada Alea mengingat sahabatnya itu memiliki anak bayi dirumahnya. Namun apa boleh buat, Alea pun tak keberatan walau Agysta telat mengirimi uang sekalipun.

Dengan menghembuskan nafasnya gusar, ia melangkah masuk kedalam pesawat yang akan membawanya ke negara yang terkenal dengan genre musik nya, Korea Selatan.

☘☘☘

Kesembilan pria itu turun satu persatu dari mobil, berjalan mengendap-endap masuk kedalam gedung, berharap tak ada satu pun penggemar yang memotret mereka dengan keadaan baru bangun tidur.

Setelah berhasil masuk kedalam gedung, mereka dipandu untuk menuju satu ruangan yang dipenuhi perlengkapan make up. Jadwal pertama mereka hari ini adalah tampil disalah satu acara variety show.

"Serim hyung, kau duluan saja." ucap salah satu member dengan nametag Koo Jungmo. Serim yang merasa di panggil pun hanya mengangguk dan duduk di salah satu tempat yang sudah disediakan.

Disana hanya terdapat 7 kursi, jadi dua orang yang tidak mendapat kursi akan di make up di sofa panjang yang tersedia. Beberapa dari mereka tertidur kala produk-produk itu menempel di wajah mereka.

Hingga suara sang manager mengembalikan kesadaran mereka. "Serim, nanti setelah ini temui aku dan kalian segera bersiap-siap ya." ujar manager mereka yang dibalas anggukan dari masing-masing member.

Manager mereka yang menyadari ada hal yang berbeda dari para member pun membisikkan sesuatu pada sang pemimpin. "Ada apa dengan mereka?" tanya managernya.

Serim pun melihat para anggota nya lalu kembali menatap managernya. "Mungkin mereka kelelahan kemarin. Allen juga belakangan ini tidak bercerita sedikit pun pada kami." jelas Serim.

Manager nya pun sedikit memijat pelipisnya lalu merogoh saku celananya. Ia menekan beberapa digit angka pada benda persegi panjang yang ia pegang, lalu setelahnya ia menempelkan benda itu pada telinga kanannya.

Ia menjauh dari kerumunan para staff untuk berbicara dengan seseorang diseberang sana. Serim pun hanya terlihat acuh dah kembali fokus pada make up nya.

☘☘☘

"Kenapa ga dibawa aja adek Lu?" tanya Sofia, teman Agysta selama ia bekerja di negara asing tersebut. Agysta yang sedang menata barangnya pun beralih duduk di pinggir ranjang, tepat disebelah Sofia.

"Adek Gua yang pertama lagi kuliah, terus yang dua lagi masih kecil. Ga mungkin Gua bawa kesini, nanti kalo Gua kerja mereka ga ada yang urusin." jelas Agysta. Sofia pun mengangguk lalu menatap jendela besar didepannya.

"Ini negara impian Gua banget sih. Dari dulu Gua selalu mau kerja di negara ini," ujar Sofia. Agysta pun mengikuti arah pandangan Sofia dan menghembuskan nafasnya.

"Lu punya pacar?" tanya Sofia lagi. Kali ini ia mengunci tatapannya pada wanita disebelahnya itu. Agysta pun balas menatap Sofia lalu tertawa kecil yang membuat Sofia menatapnya bingung.

"Kok ketawa? Kan Gua nanya." ketus Sofia. Agysta segera menggeleng lalu kembali menatap teman baru nya itu. "Jangan kan pacaran, Sof. Gua tegur sapa ama cowo aja bapak Gua udah maju duluan, gimana mau pacaran?"

Sofia pun mengangguk kecil lalu kembali menata barangnya. Agysta juga melakukan hal yang sama, namun sebelumnya ia mengangkat panggilan telfon dari seseorang.

"Ah, baiklah. Saya bisa kapan saja, asal bukan hari ini." ucapnya sambil meraih satu baju pada kopernya. Setelah selesai berbicara dengan orang diseberang sana, Agysta meletakkan ponselnya dan kembali fokus menata baju-bajunya.

"Baru sampe, udah dapet kerjaan aja." ujar Sofia asal. Agysta membalas dengan tersenyum lalu meletakkan koper-koper kosong miliknya ke sudut ruangan. Agysta pun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang king size yang berada di belakangnya, diikuti Sofia disebelahnya.

"Malem mau ke Namsan Tower ga? Sekalian cari makan." tawar Sofia yang dibalas anggukan dari Agysta. "Gua apa Lu dulu yang mandi?" tanya Agysta.

Sofia tampak berfikir lalu ia tersenyum pada Agysta. "Lu duluan deh, Gua mager banget." balas Sofia. Agysta beranjak dari tidurnya lalu menatap Sofia heran. "Gua jadi heran, kok bisa orang mageran kayak Lu jadi Psikiater."

Sofia pun melempar bantal yang terdapat di dekat nya ke Agysta, namun bantal itu tak mengenai Agysta sedikit pun. Agysta segera berlari menuju kamar mandi yang terdapat disebelah pintu masuk dengan baju dan handuk di tangannya.

Tak lupa ia mengejek Sofia sebentar sebelum masuk kedalam kamar mandi. Sofia pun tak marah, ia hanya tertawa melihat tingkah ke kanak-kanak an temannya untuk beberapa bulan itu.

☘☘☘

My CravityHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora