Prolog

9 1 0
                                        

Noona, sedang apa?”

Yang ditanya mendadak terkesiap, setelah mendengar suara serak pria khas bangun tidur menggelegaar di telinganya. Wanita tersebut baru saja menjauhkan ponsel dari telinganya. Ah, pemuda itu yakin, pasti kekasihnya sudah mendapat panggilan alam dari sang atasannya untuk segera bergegas menuju kantor. Tetapi, menemukan seraut wajah cemas dihadapannya, Jeon Jungkook tidak benar-benar yakin jika yang berhubungan dengan Song Jinae adalah urusan kantor.

“Kook?” Jinae memasang senyum sumringahnya, menjeda sejenak demi mengisi oksigen untuk paru-parunya, “Sudah bangun, ya?”

Kedua mata Jungkook menyipit, pasalnya sinar mentari dibelakang tempat Jinae berdiri berhasil membuatnya gagal menatap wajah cantik si wanita di pagi hari. Mengerti, akan keinginan Jungkook, Jinae berusaha mendekat 'kan dirinya pada sang lawan, namun ketika sudah berada di langkah terakhir, tubuhnya mendadak ambruk di atas tubuh Jungkook yang masih shirtless, sehingga menimbulkan rasa panik dan ngeri secara bersamaan tatakala menatap ekspresi nakal Jungkook.

Noona, seksi sekali.”

“Jung... Jangan mulai lagi.” Jinae mendadak gugup.

“Memang kenapa? Noona, cantik—walau hanya pakai kamisol.”

Astaga! Rasa-rasanya, Jinae ingin pingsan ditempat sekarang juga, jika harus dihadapkan dengan sesosok bayi kelinci yang dalam sekejap berubah menjadi induk harimau.

Ini semua memang ulah Jungkook tadi malam, yang membuatnya terpaksa berjalan sedikit pincang. Sebab, biarpun Jungkook bisa terlihat menggemaskan dalam waktu lama, jika kondisinya memungkinkan, maka pemuda itu akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Eh, tapi kalau dipikir-pikir, setiap hari pun kondisinya selalu memungkinkan—jadi buat Jungkook, aman terkendali untuk membuat pacar tersayangnya mengemis minta lagi.

Masih saling menatap, Jungkook menatap sang lawan kelewat seduktif. Membelai setiap inci permukaan wajah mulus Jinae, lalu berbisik menggoda, “Apa permainan ku semalam sangat ganas? Sehingga tubuh Noona, ambruk ditubuhku atau— Noona ingin dipuaskan, lagi?”

“JUNGKOOK, STOP!”

Tawa si muda Jeon tersebut menggelegar hampir ke tiap sudut ruangan apartemennya. Melihat wajah Jinae yang semakin memerah akibat ulahnya justru sangat menggemaskan, membuat Jungkook jadi mencium pujaan hatinya berkali-kali.

“Aku bercanda, Noona. Tidak mungkin aku menghantam mu sepagi, ini. Lagipula, kau harus berangkat ke kantor 'kan?” ujar Jungkook yang kini telah menyandarkan kepalanya di kepala ranjang, sementara Jinae berada disampingnya selalu.

“Jadwal masuk kantorku hari ini pukul sepuluh, sayang. Padahal aku ingin sekali berangkat pukul tujuh, tetapi—apa boleh buat, barusan Taewon mengabari ku tiba-tiba.” jawabnya dengan nada lesu. Pemuda itu tahu, jika kekasihnya ini bukan tipe-tipe wanita pemalas. Jinae itu sosok wanita tangguh, pekerja keras, bahkan pernah si cantik bermarga Song tersebut mengatakan padanya jika ia akan berusaha keras menghidupi pacar berondongnya yang masih berstatus sebagai anak kuliahan ini selagi ia mampu. Tetapi, Jungkook tahu posisi. Disini, dia adalah laki-laki, mau tua ataupun lebih muda tiga tahun dari sang kekasih, Jungkook tidak ingin menjadi pria yang tidak tahu diri. Beruntungnya, pemuda itu punya simpanan tabungan yang dapat ia pergunakan untuk menghidupi Jinae.

“Lebih baik, seperti itu, Noon. Jadi, kau masih punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama ku 'kan?” celetuknya seraya menaikkan kedua alisnya.

Jinae malah tak habis pikir, kenapa prianya ini? Ada apa dengan isi otaknya? Pandai sekali dalam merayu dan menggodanya, membuatnya terkadang gemas sendiri. “Baiklah, Kook. Aku masih punya banyak waktu untuk mengurusmu. Jadi, mari bangun dari alam mimpimu, akan ku buatkan roti panggang selai kacang kesukaanmu.”

Mendadak ranjang kamar pemuda itu hampir ambruk, jika saja Tuhan tidak sayang pada si Jungkook petakilan. Sebab, setelah mendengar roti panggang selai kacang, Jungkook akan mendadak merubah dirinya macam bayi besar.

“Baik, Noon. Aku bangun dari mimpiku!”

••••

Angin di siang hari mungkin akan membuat siapapun merasa sedikit ketakutan, sebab dengar-dengar kabarnya angin yang sering berhembus disiang hari akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Jadi, wajar saja jika disiang bolong tak banyak orang yang berkeliaran.

Tetapi mungkin, berdiam diri di dalam mobil selama kurang lebih dua jam pun akan membuat siapapun merasa jenuh sekaligus pegal ditambah kedua jelaganya seolah tengah mengawasi gerak-gerik seseorang, sehingga membuat hawa didalam sana sudah panas kini makin panas.

“Seokjin. Cepatlah nikahi gadis itu! Mereka tidak akan pernah berpisah, jika tidak ada orang ketiga di dalamnya. Aku jamin itu, ku mohon secepatnya. Supaya aku pun dapat memilikinya.”

Kim Seokjin mungkin tidak akan tahan dengan segala rentetan ocehan gadis disampingnya ini. Selalu banyak menuntut, bahkan enggan membantunya dalam melakukan hal apapun. Namun, membayangkan gadis yang ia puja tengah tertawa ria, bermesraan bahkan bergulat dengan panasnya diatas ranjang justru membuat sesuatu yang ada didalam sana semakin tidak tahan.

“Tutup mulutmu, Choi Taewon!”

Gadis bawel tersebut akhirnya bungkam tanpa kata, sementara si lawan tengah berusaha mengatur nafasnya, dan tak lupa menetralkan isi kepalanya.

“Kau pikir mudah memisahkan adik tiriku dengan gadisnya?” Seokjin menjeda, “Pikir dengan logika! Jangan kau pikir segalanya dapat berubah secara instan. Jika kau menginginkan Jungkook, ambil saja sendiri.”

Taewon mencebik kesal, bagaimana bisa sahabatnya yang satu ini dapat memarahinya disaat seperti ini. Taewon bahkan sempat berpikir, jika marahnya Seokjin ini mirip nenek-nenek bungkuk yang hampir wafat, “Hei, aku punya logika, tentunya aku sudah menyiapkan rencana-rencana ini dengan matang.”

Seokjin mengangkat sebelah alisnya.

“Aku jamin, jika kau mau mengikutiku, maka hubungan Jungkook dan Jinae akan hancur secepat mungkin.” []

🌼

Hello, gaisss? Bagaimana dengan prolognya?

Ini masih pemanasan ya gengs, belum ke intinya.

Kalau udah sampe intinya, aku takut kalian jadi ikut-ikutan emosi nih😂

—Piiiii

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 28, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

EpochStories to obsess over. Discover now