“Huah! Kasur! Puja kasur ajaib!” seru Radith sambil menghempaskan tubuhnya keatas kasur setelah melemparkan backpack nya ke ujung ruangan. Sambil tiduran tangan kirinya sibuk berkutat dengan HP nya, rutinitas normal. “Mau kemana kita?”
“Ke gunung!” jawabku menirukan suara Dora the Explorer sambil membongkar isi tasku, menarik keluar sepotong celana pendek lalu dengan buru-buru aku mengganti celana jeansku dengan celana pendek dan merebahkan tubuhku dikasur sebelah. Rasanya aneh tiduran menggunakan celana panjang apalagi yang berbahan jeans.
“Tiffany sama Alcazar, lo milih mana?”
“Hmmph?” tanyaku sambil bergumam, membenamkan separuh wajahku ke dalam bantal. Separuh dari jiwaku sudah bersama dengan Iwasa Mayuko di alam mimpi.
Radith beranjak dari kasurnya, menggeserku dengan pantatnya dan dengan seenaknya merebahkan tubuhnya disampingku, membuatku sedikit tergusur. Dengan semangat ia menunjukkan layar HP nya tepat didepan wajahku. “Coba liat deh. Katanya si Alcazar ini lumayan tapi kalo diliat dari wesitenya, Tiffany lebih oke. Iya ngga?”
Sambil menyipitkan mata, aku berusaha keras memahami apa yang ia maksud. Setelah seharian disiksa dengan keliling Pattaya untuk memuaskan hasrat belanja May dan Radith yang membuatku merasa lebih seperti babu daripada... teman, sulit rasanya bagiku untuk membuka mata dan memaksa otakku untuk bekerja.
Website dengan warna dominan pink dan hitam yang dipenuhi dengan kilau-kilau yang akan berbunyi bak tongkat sakti ibu peri dengan berbagai wajah cantik nan elegan bertebaran dibawahnya. Apa ini? Theater? Ballet? Ah, pasti bukan... ini terlalu biasa untuk seorang Radith dengan seleranya yang luar biasa.
“HOH! KABARET SHOW?” tanyaku antusias begitu otakku mulai bisa menerjemahkan rangkaian gambar venue dan wanita-wanita cantik berpakaian seksi yang sangat khas. Aku langsung terduduk dengan semangat, rasa kantukku dan Iwasa Mayuko tiba-tiba lenyap entah kemana.
Radith mengangguk dengan girang, merasa ditanggapi. “Nanti malem, kita nonton yuk. Mumpung ada si May, jadi anak-anak bisa sama dia, kita bisa seneng-seneng dengan tenang.”
“Yey!” Aku dan Radith langsung ber-high five ria dan menari ala tarian minta hujan suku indian sambil melepas kaos dan mengibas-ibaskannya untuk merayakan rencana kami. Wajah-wajah cantik para penari kabaret langsung memenuhi pikiranku. “Eits, tunggu. Rasanya ini terlalu normal deh buat lo. Pasti ada yang aneh disini,” kataku sambil menghentikan jogetanku secara tiba-tiba.
Radith hanya menyeringai, “Banci, Bim. Kabaretnya isinya banci semua hehehe.”
Dengan kesal aku langsung menggeplak kepalanya menggunakan kaosku sebelum kukenakan kembali. “Tuh kan! Ngga beres lo ah, males gue.” aku mendorongnya menyingkir lalu kembali merebahkan tubuhku.
“Lo liat deh, mereka ngga keliatan kaya banci kok! Kayak cewek tulen! Lo liat deh si preview nya,” ujarnya berusaha menyodorkan HP nya didepan mataku lagi. maaf aja, kali ini ngga mempan!
“No way!”
“Ayolah, masa udah jauh-jauh sampe Thailand tapi ngga nonton yang kayak gini sih. Rugi banget lo, apa bedanya coba kalo gitu sama Indonesia? sekali-kali harus lah cobain yang ngga bisa ditemuin di tempat lain. Ya? Ya?”
“Udah gila lo! Periksain sana! Ato lo periksa diri lo sendiri gih!”
Radith memanyunkan bibirnya, dan mulai dengan aksi serangan grepe-grepe nya yang langsung membuatku geli dan langsung berusaha menyingkir sejauh mungkin sebelum ternodai.
“Kampret lo! Jangan deket-deket! Syuh syuh!” usirku yang sambil memeperkan tubuh ke tembok, dan cepat-cepat bersembunyi di dalam gorden. Sejak di Thailand dan melihat begitu banyak fenomena krisis gender, percintaan sesama jenis dan perubahan perilaku Radith yang makin ‘liar’ aku jadi parno sendiri.
