3

47 0 0
                                        

Seperti biasa, hari ini May tampak sangat menarik. Tubuhnya yang mungil, tampak sangat bersemangat melakukan latihan Jab dan Straight dengan musuh yang tidak terlihat seolah sedang meluapkan semua emosi yang ditahan selama bertahun-tahun. Padahal, dengan tubuh semungil dan sekurus itu, mungkin pukulannya tidak lebih sakit dari tabokan ibuku waktu aku kecil dulu.

“Hey!” kata May menyapaku setelah melakukan beberapa pukulan terakhir dan mematikan timer-nya, mengambil sebotol softdrink dari ujung matrasnya. “Nih, sebagai permintaan maafku.”

“Lagi? Ini udah hampir sebulan dan mau berapa lama lagi kamu mau nyogok aku?” Walaupun bilang gitu, toh, softdrink-nya tetap kuambil. Pamali. Prinsipku, rejeki itu ngga boleh ditolak. Takut ngga dapet lagi.

May tersenyum, merapikan ikatan rambutnya yang dikuncir kuda tinggi-tinggi. “Sampai aku denger kamu maafin aku.”

Maafin sih udah, tapi kalau misalnya aku bilang, aku tahu May pasti akan berhenti mendatangiku dan menimbunku dengan segala macam barang sogokannya. Bukannya matre, tapi aku cukup menikmati kehadirannya didekatku walaupun kadang hanya sebatas melempar benda dan kabur.

“Kamu trainer disini?” tanyanya membuka pembicaraan sambil duduk selonjoran diatas matras didepanku, melakukan peregangan.

“Bisa dibilang begitu.”

“Oh, tapi aku ngga pernah ngeliat kamu ngelakuin apa-apa selain duduk-duduk disini.”

Jlebb. Tertohok.

“Aku ada disini selama 6 jam setiap hari, dan kalau kamu ngarepin aku melakukan exercises selama 6 jam, aku bisa mati muda,” jawabku berusaha memberikan alasan. Padahal alasanku yang sebenarnya adalah, aku hanya ingin duduk bersantai sambil memperhatikannya dan membiarkan pikiranku melayang kemana-mana. “Lagipula, tugasku hanya mengawasi dan membantu 3 orang. Member baru, siapapun yang nanya dan cewek cantik...”

May tertawa mendengar jawabanku. “Ah, okay... kamu ngga takut pasanganmu marah?”

Aku mengernyitkan dahi. “Pasangan? Siapa?”

“Ehm, cowok cantik yang selalu disebelahmu itu.”

Otakku berputar lebih keras, mencoba menerka setiap kemungkinan. Sebenarnya bukan hal yang sulit, toh kenyataannya aku termasuk type orang yang terteman dengan orang yang itu-itu saja. Tapi... entah kenapa ini terasa jauh lebih menjijikkan.

“Radith maksudmu? Yang suka dikuncir ala frozen itu?”

“Hah?”

“Dikepang maksudku.”

May mengangguk bersemangat. “Iya, iya! Rambutnya bagus banget. Aku suka tatanan rambut dia tiap hari.”

“I’m straight! Dia bukan pacarku, dan rambut kamu jutaan kali lebih bagus dari rambut dia yang ketombean itu. Wajah kamu juga milyaran kali lebih cantik. Dan... ah, dia punya pacar CEWEK!”

Ah, I see... jadi kalian, biseks?” tanyanya dengan wajah polos, matanya membulat seolah-oleh ia telah menemukan benua Amerika lebih dulu daripada Colombus.

ASTAGANAGABONARJADIDUA! Kalau bisa, biarkan aku menangis dipangkuan ibunda tercinta. Jauh-jauh aku merantau untuk mencari jodoh yang lebih baik, ujung-ujung malah dikira homo dan biseks. Sial. Mungkin salahku tidak bisa menghalau Radith yang nempel terus bak ulat pohon nempel di rambut. Tapi apa boleh buat, ketika kita pergi kesebuah tempat asing dimana kita menjadi minoritas dan disitu kita mengenal satu orang yang sudah kita kenal luar dalam dari kecil, maka kita akan sangat susah untuk lepas dari dia. Entah aku yang nyari, atau dia yang nyari. Prinsip utamanya, kita sama-sama terlalu kesepian dan ‘aneh’ di lingkungan yang baru.

I Don't Wanna Be In LoveWhere stories live. Discover now