“Nah kan, gue bilang juga apa. Temenin gue aja,” ujar Radith dengan nada puas sambil membersihkan luka di mukaku dengan menggunakan kapas dan
cairan antiseptik. Rambut hitam sepanjang bahu yang ia biarkan tergerai begitu saja membuatnya tampak makin cantik.
Aku mendorong tubuhnya menjauh. “Muka lo kedeketan, geli tau.”
Ia hanya tertawa riang, memonyongkan bibirnya dengan pose ‘pengen-cium’ untuk menggodaku. Benar-benar menjijikkan. Kalau aku tidak mengenalnya hampir seumur hidup, aku pasti akan benar-benar menyangka dia homo dan akan dengan senang hati menolak ajakannya sharing apartemen.
“Tapi gue ngga nyesel, paling ngga dia tau muka gue, ngomong sama gue dan gue kenalan sama dia! KENALAN LHO!”
Radith menutup sebelah telinganya, merasa terganggu dengan teriakanku. “Tapi lo bonyok tuh. Kayak ngga ada cara lain aja buat kenalan, orang kita
sekelas sama dia.”
Aku menggelengkan kepala. “Gapapa! Yang penting gue kenalan! Aduh, lo mesti liat mukanya tadi. Lagi nangis aja cantik banget, keliatan lemah, pengen banget gue peluk trus gue lindungin, gue bawa pulang...”
“Udah gila lo kayaknya!” ujar Radith dengan ikhlas, sambil menutup kotak P3K dan merebahkan tubuhnya di atas karpet, berguling-guling dari kiri-kanan seperti anak kucing untuk menggoda Dhanu yang sedang berusaha membangun menara LEGO didekatnya.
“Om Bima, liat deh, tapi papa beliin aku ini lho... cantikkan?” tanya Dhina sambil berjalan berputar-putar di sepanjang ruang tengah yang ia jadikan catwalk dadakan sambil mengibaskan baju princess nya.
“Iya, cantik. Kayak emaknya...” gumamku yang langsung disambut dengan gamparan keras dipaha dan tatapan tajam dari Radith. Ah, aku lupa, menyinggung soal orangtua Dhanu dan Dhina adalah dosa besar dirumah ini.
“Tapi tetep papa yang paling cantik,” kata Dhanu, kembarannya sambil melingkarkan tangannya ke leher Radith dan menciumnya. “Dhina cantik nomer dua, trus aku baru om Bima.”
Aku hanya bergeleng takjub. Bener-bener didikan yang ngga sehat. “Om sih ganteng, bukan cantik kali. Udah ah, kayaknya gue mau tidur aja deh. Gue ngga sempet belanja, pada jajan aja sana.” Aku beranjak, berusaha melarikan diri dari pembicaraan absurd mereka yang aku yakin akan terus berlanjut. Entah bakal jadi apa anak-anak ini nantinya.
***
“Jadi, udah lo sapa lagi?” tanya Radith sambil duduk disebelahku sambil memainkan bibirnya yang berwarna merah. Aku selalu curiga ia memakai lipstick, gincu atau apapun itu setiap pagi sekalipun dia tidak pernah mengaku.
“Siapa? May? Ya belumlah. Malu gue, apalagi muka gue lagi jelek gini.”
“Sampe tau jebot juga kaga bakal nambah bagus kali, Bim,” ujarnya sambil menyeringai usil. “Eh, liat tuh, daritadi dia ngeliatin lo mulu.”
Mataku langsung tertuju kearah yang Radith tunjuk. May sedang memperhatikanku! Mungkin berlebihan, tepatnya dia terlihat sedang memperhatikan ke arahku! Rambutnya yang hitam diikat menjadi dua, bibirnya merah, pipinya putih merona. Dia tampak seperti gadis desa yang manis dan sangat polos. Astaga! Hanya dengan melihatnya, rasanya otakku jadi kram.
Dia berjalan kesini! Dia berjalan kearahku!
“Dith, dia kesini! Dia kesini!” kataku berusaha tenang sambil mengguncang-guncangkan lengan Radith dan membuatnya tampak sangat kesal dan terganggu.
“Iye, gue tau! Gue ngga buta! Lebay lo ah, jauh-jauh sana gue mau ngerjain tugas nih!” ujarnya sambil mendorongku dan mulai fokus lagi menyalin semua tugas dari buku tugasku.
