Di sepertiga malam, aku bangkit dari tidurku. Melangkahkan kaki ini menuju mesjid pusaka. Sebelumnya, aku mengambil wudhu terlebih dahulu di hanafiyah dekat gedung Al Azhar. Aku berjalan menyusuri gedung gedung di pondok ini.
Aku menengadah keatas, bintang-bintang bertebaran diatasnya. Bulan pun tersenyum kepadaku, berkali-kali aku melafalkan kalimat tasbih melihat keindahan-Nya.
Aku bersyukur bisa hidup di lingkungan pondok. Meski sebelumnya aku selalu menyalahkan takdir. Iya, karena takdir yang memisahkanku dengannya.
Aku membuang nafas kasar, selalu saja mengeluh atas kehendak-Nya. "Sudahlah rai kalo emang dia jodohmu Alloh akan mempertemukanmu kembali dengannya" Batinku menyemangati diri sendiri.
Tak terasa, aku sudah sampai di depan mesjid pusaka. Segera aku masuk kedalamnya, menggelarkan sejadah hijau milikku.
Selesai sholat tahajud dua rokaat juga sholat taubat, aku bersimpuh dihadapan-Nya, menengadahkan tangan meminta ampunan-Nya.
Aku menunduk, menangis, malu akan segala dosa yang telah aku lakukan dulu.
"Ya Alloh, betapa hinanya diriku dihadapanmu. Hamba memohon ampun atas semua dosa-dosa, atas kedzoliman hamba. Ya Alloh bawalah ARI LUTFY SYAUQILLAH ke jalanmu. Entah mengapa rasa ini selalu ada, hamba kembalikan rasa ini hanya kepadamu Ya Rabb. Karena engkaulah pemilik rasa ini. Ya Alloh berilah hamba segala sesuatu yang terbaik menurutmu. Terimkasih atas segala nikmat yang telah kau berikan. Jaga dan lindungi mereka orang-orang yang aku sayangi juga menyayangiku. Balaslah kebaikan mereka yang telah berbuat baik kepadaku. Hanya kepada-Mu lah hamba serahkan segala urusan. Rabbanaa Aatinaa Fiddunyaa Hasanah Wa Fil Aakhiroti Hasanah Waqinaa Adzaabannaar Subhaanaka Robbil Ijjati 'Ammaa yaasyifuun Wa 'alal mursaliin walhamdulillahi robbil aalamiinn Aamiin"
Tanganku refleks mengusap air mata yang mengalir di pipi, aku bangkit mengambil Al quran lalu membuka surah Arrahman. Meskipun bacaanku belum lancar aku akan terus mencoba untuk belajar memperbaiki diri.
Aku teringat ucapan Umi "Jangan putus asa untuk memperbaiki diri. Karena suatu saat nanti kamu akan menjadi madrasah pertama untuk anakmu. Betapa malunya nanti, jika anakmu memintamu untuk belajar mengaji sedangkan kamu saja tidak bisa. Lebih baik merasakan pahitnya mencari ilmu sekarang, daripada merasakan pahitnya kebodohan ketika tua nanti"
Aku tidak mau anakku sepertiku. Aku mau anakku terlahir dari ibu yang cerdas. Makanya aku selalu berusaha belajar mengaji setiap sore di rumah umi.
Butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk menyelesaikan surah Arrahman. Selesai membacanya kupeluk lalu kucium Alquran "semoga suatu hari nanti menjadi penerang di alam kuburku aamiin" batinku.
Aku meletakkan Alquran kembali pada tempatnya. Lalu aku kembali bersujud, seolah mengadu betapa rindunya aku terhadap dia, masa laluku.
Oke guys ini cuma prolog, maaf kalo ceritanya ya gitulah namanya juga masih belajar hehe.
Nanti di part selanjutnya aku mau cerita dari awal sebelum masuk pesantren lalu akhirnya Rai hijrah.
Nanti aku juga mau pake alur maju mundur cantik haha. Jangan lupa vote sama komen ya biar aku semangat nulisnyaaa.
Jangan lupa follow juga @putriswhy
YOU ARE READING
SYAUQI
RomanceDear Masa Lalu, Entah mengapa rindu ini selalu datang untukmu, menyebutkan namamu di sepertiga malamku seakan menjadi candu. Aku tau rasa ini tak seharusnya ada, seperti rasamu kepadaku yang sudah lenyap entah kemana. Omongan buruk tentangmu, aku ta...
