Prolog

54 12 6
                                        

  Hujan telah membungkus ibu kota dengan lebatnya. Malam itu tak ada bintang gemintang. Tak ada bulan, hanya pemandangan lebatnya hujan. Disaat suram inilah tragedi 11 tahun yang lalu terjadi dengan cepatnya.
  Tragedi yang dapat membuat luka masa lalu itu kembali menganga.
 
                        ——°∞°——

  Darah segar mengucur dari kepala bocah itu. Ia menangis sekencang kencangnya. Melihat mobil yang ditumpanginya telah hancur separuhnya. Tak lagi ia sanggup melihat wujud ayahnya yang dipenuhi darah dan tak tampak lagi bentuknya. Hancur. Mobil itu tampak basah oleh darah. Sangat mengenaskan.
  Bocah itu memegangi kepalanya yang bersimbah darah. Tangannya gemetar merasakan dinginnya darah. Ia terlalu belia untuk melihat semua ini. Mentalnya akan terganggu.
  Kebahagiaan itu tak dirasa olehnya. Entah ia mengerti atau tidak. Siapa yang bersalah? Siapa yang pantas dihukum atas ketidak Adilan untuk anak itu. Lantas, bagaimana ia akan bertahan. Dengan rasa sakit, kesepian, sedih yang mendalam dihidupnya.
  Siapa yang akan bertanggung jawab. Jangankan bertanggung jawab, pelaku pun ia tak tahu. Ingin membalas dendam, hatinya terlalu suci untuk melakukan perbuatan keji itu. Hati bersih belum ternodai.
  Namun tak ada satupun orang yang akan dihukum, karena bocah itu sedang menjalani takdir yang sedang mengalir.
  Tangan bocah itu mendingin. Ia berkeringat dingin. Bibirnya gemetar memanggil ayahnya.
  "Ayah......" Lirihnya. Bibir mungil itu tak gentar memanggil ayahnya.
  Rasa takut mulai menjalari hati nya , ketika sang ayah tak kunjung menyahut panggilannya.
  "Ayah...... Hiks~ hiks~ ayah...." Matanya memanas, hingga air mata itu meluncur dari mata tanpa dosanya.
  Kedinginan malam menusuk kulit bocah itu. Resah, takut, sedih, sepi. Rasa itu bergulat di hati bocah itu.
  Ia takut. Ia resah. Ia merasakan yang namanya sedih. Ia merasa kesepian.
  Hingga matanya sayu tak tahan lagi. Matanya melemah . Tertutup. Hitam. Gelap. Bocah itu tak sadarkan diri.

                       ——°∞°——

  Seorang pemuda terbangun dari mimpi buruknya yang selalu terulang setiap malam jika ia resah. Nafasnya memburu. Dadanya terasa sesak tak tertahan. Matanya memanas, ingin menangis. Ia merasa kedinginan, tapi tubuh nya penuh dengan keringat. Seperti tengah menahan sesuatu.
  Perlahan ia merasakan tangannya hangat. Ada yang menggenggam erat disitu, ditangannya. Tulus dengan kesederhanaan hati.
  Membuat pemuda itu tenang, lebih merasa aman.

                       ——°∞°——

  Makasih yang udah mau baca... Semoga bisa jadi pembaca setia Seterinje ya....
  Gimana bagian prolognya....? Seru gak? Mohon vote dan coment. Ok? Jangan lupa buat coment ya...
  Pengalaman pertama nulis di wattpad, ini juga dukungan dari teman teman (anggap aja nama mereka si "Madinah legends" dan si"rajawali") makasih ya udah bantu SeteRinje jadi PD buat nulis di wattpad....
Jadi buat para pembaca SeteRinje maklum aja ya..... Kalau ceritanya dikit ngebosenin....
                                                Thanks....^^

find outWhere stories live. Discover now