Rama dan Shinta

6 1 1
                                        


Kamu tidak akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan semua orang yang kamu miliki dan kamu sayangi. Sesaat yang lalu kamu melihat dan memeluk mereka, kemudia sekejap berikutnya mereka tak lagi bisa kamu jangkau. Jangankan memeluk, melihat pun tak lagi bisa.

Kamu tidak akan mengerti bagaimana rasanya sendirian didunia ini. Merasa kesepian ditengah keramaian. Bahkan merasa kesakitan saat memaksakan wajahmu tersenyum saat hatimu menangis.

Jika kamu tidak pernah mengalaminya, maka kamu tidak akan pernah mengerti apa arti kehilangan yang sesungguhnya.

Maka jangan mengajariku arti kata, yang kamu sendiri tak bisa memahaminya.

Aku membaca lagi kalimat terakhir yang kuketik dilaptop. Rasanya cukup untuk hari ini. Tidak perlu memaksakan menyelesaikan satu bav saat otakmu sudah kelelahan.

Tidak ada target yang kukejar. Aku membiarkan segalanya berjalan apa adanya. Lagipula aku menulis bukan karena ingin terkenal.

Aku menulis agar tetap waras. Dengan menulis aku bisa bicara dan cerita apa saja yang kumau. Tanpa harus berdebat atau berselisih paham  dengan orang lain. Aku merasa bebas saat menulis. Bebas memuji, dan bebas memaki siapapun dalam tulisanku. Bebas menceritakan apa saja yant kuinginkan.

Kurentangkan tanganku, meregangkan otot-otot yang kaku karena terlalu lama berdiam diri didepan laptop.

Mungkin aku perlu keluar sebentar untuk menyegarkan pikiran.
Cafe yang kemarin tak sengaja kudatangi rasanya pas untuk dikunjungi kembali.

Dan disinalah aku, duduk ditempat yang sama dengan saat pertama aku datang kemarin.

Bel pintu cafe berdenting, dan aku melihatnya lagi.

Ini kedua kali aku melihat gadis itu memasuki cafe ini dengan wajah ceria, dan berubah mendung saat melihat kearahku.

Katakan aku ge-er. Tapi aku tak mungkin salah melihat arah pandangnya.

Lalu seperti waktu sebelumnya, ia berjalan ke bar. Berkata sesuatu pada bartender lalu berjalan kearah tangga, dan menghilang dari pandanganku.

Ada yang menarik dari gadis itu. Buku yang digenggamnya. Walaupun aku tidak bisa membaca judulnya, aku tahu persis buku apa yang gadis itu bawa.

Dan rasa penasaranku pun terusik. Perlahan kusesap kopi yang mulai dingin dihadapanku. Lalu beranjak menuju tangga.

Kususuri anak tangga perlahan sambil mengamati dekorasi sepanjang tangga itu.
Pemilik cafe ini jelas tahu dan paham sekali dengan konsep yang diusung untuk cafe ini.
Sepanjang sisi tangga ini penuh dipasang hiasan dinding handmade yang bernuansa coffee and people.
Mulai dengan gambar-gambar biji kopi, lalu hasil racikan kopi dalam cangkir yang menggugah selera, sampai gambar orang yang begitu menikmati secangkir kopinya.

Sampai diujung tangga, aku menyapukan pandangan. Dan melihat gadir itu duduk dengan nyaman disalah satu sudut ruangan.

Tanpa suara aku mendekati dan duduk dihadapannya. Dia masih belum sadar akan kehadiranku.

Aku mengamatinya. Rambutnya hitam legam, dibiarkan terurai dengan jepitan kecil yang manis disalah satu belahan rambutnya.

Alisnya tidak terlalu tebal tapi berbaris rapi diatas matanya yang belum dapat kulihat jelas karena dia menunduk.

Seakan tersadar, dia mengangkat wajahnya. Aah..mata coklat yang indah, memandangku dengan pandangan waspada.

Dahinya berkerut.

Aku tersenyum.

"Hai..."

Gadis itu masih menatapku dengan tak nyaman.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 06, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

READ  MEWhere stories live. Discover now