Kabar sudah menyebar luas, hanya perlu tindakan lanjut.
Luciana, gadis yang pendiam dan tak pernah berbicara kepada orang-orang diluar sana merasa amat sangat tenang, karena ia tak perlu keluar karena dalam masa lockdown.
Namun, yang ia khawatirkan...
Earphone terpasang di telinga, berbaring di kasur kamar tidurnya yang bertembok warna abu-abu, nuansa kamar yang sedikit gelap, namun terlihat nyaman untuk ditempati, meski sedikit menakutkan.
Luciana hanya terpaku pada layar ponselnya untuk melihat keadaan dunia melalui berita di internet. Dia mengetahui jika Coronavirus sudah menyebar ke hampir seluruh negara, tapi dia amat percaya jika dia tidak akan terjangkit oleh penyakit itu, karena dia adalah anak anti-social.
"Luciana! Makan siang sudah siap!" suara teriakan dari lantai bawah ruang makan amat keras sehingga tetangga sebelah dapat mendengar. Namun, Luci, nama panggilan gadis ini, hanya diam dan tetap membaca berita.
Decitan lantai kayu tangga yang nyaring mulai terdengar sampai ke kamar Luci, dan masih saja, ia tidak menghiraukan suara itu. Tiba-tiba saja, pintu didobrak dari luar dan muncul sosok wanita paruh baya, berbadan besar dan berambut pirang.
"Nona muda, sudah berapa kali aku memberitahumu untuk turun dan makan siang? Ini sudah waktunya!" jarinya menunjuk kearah jam dinding diatas.
Perlahan, Luci melepas earphone dan mendengus kesal. "Ibu, aku tidak lapar, aku akan makan nanti, janji, bu," tapi itu tidak membuat ibunya tersenyum sedikitpun, sebaliknya, ibunya meninggalkan ruangan dengan wajah yang sedih. Luci merasa bersalah akan itu, tapi dia hanya bisa diam dan merenung apa yang baru saja dia perbuat kepada ibu satu-satunya.
"Papá, espero que sigas aquí*," keluhnya sambil berjalan ke jendela kamarnya, melihat sekitar.
Dilihatnya anjing tetangga, Rodric, yang tertidur diluar rumah, dengan udara sedingin ini. Seketika, otaknya sekarang mulai memikirkan masa depan dunia ini, dan membayangkan, akan ada banyak zombie berkeliaran di negaranya, seperti yang ada di film yang pernah ditontonnya. Tapi itu hanyalah kejadian yang konyol, mana mungkin ada zombie di dunia ini?
Lamunannya seketika buyar setelah dia mendengar suara teriakan di gang kecil sebelah rumah.
"Tolong, cegah dia!" seorang wanita seumuran ibunya mencoba berlari untuk mengejar seorang remaja yang membawa tas hitam di tangan kirinya. Bergegaslah Luci berlari turun melalui balkon, agar tidak diketahui oleh ibunya. Ia turun melalui tangga dan menaiki sepeda BMX miliknya dan mengayuhnya secepat mungkin.
Remaja itu menoleh ke belakang dan melihat kearah Luci. "Maldita sea! ¿Quién me persigue?*" Tanpa melihat jalan, remaja itu tersandung dan terjatuh ke trotoar, tas yang ia bawa pun terlempar jauh ke depan. Luci bergegas kearah tas itu, menghentikan sepedanya, mengambil tas itu dan pergi kearahnya.
"Ya Tuhan..." laki-laki itu mencoba duduk dan menahan rasa sakit di wajahnya. Tak disadarinya, Luci sudah ada didepannya.
"Apa maksudmu mencuri tas ini?!" teriak Luci kepadanya.
Wanita yang berteriak tadi langsung menghampiri dan melihat laki-laki itu. "Javiero? Itukah kau? Tak kusangka kau akan melakukan ini!" Tanpa pikir panjang, Luci memberi tas itu ke wanita disebelahnya, dan seketika dia beranjak pergi.
Luci menggelengkan kepalanya dan mendengus. "Bukankah kau Javiero-" "Tunggu, kau mengenalku?" tanya Javiero. "Aku sering mendengar tentangmu. Bahkan ibuku selalu menggosipkan kau. Aku lelah akan hal itu. Oh ya, Luciana," Luci memberikan tangan kepada Javiero untuk membantunya berdiri. "Senang bertemu denganmu, kukira kau banyak bicara, ya? Ternyata kau ini anaknya, anti-social," goda Javiero. "Kau benar, aku hanya berbicara pada diriku sendiri dan-" "Hei, sekarang kau mempunyai teman bicara, kau bisa berbicara padaku kapan saja, Luci," katanya, tersenyum. "Oh ya, aku harus bergegas pergi, aku ada urusan, ciao!" dengan cepat, Javiero berlari kencang ke arah rumah besar dan tua yang diisukan tidak ditinggali siapapun.
Luciana tersenyum senang karena akhirnya, rasa takutnya mulai berkurang, karena ada orang yang berbicara padanya. Diambilnya sepedanya lagi dan dinaikinya sampai ke rumah. Rasa bangganya tidak dapat terbendung sama sekali, maka ia langsung ke kamar melalui tangga balkon, membuka ponselnya lagi dan mencoba mencari sosial media milik Javiero. Dia bertanya-tanya, kenapa laki-laki sepertinya tidak bersama remaja lain?
Selang beberapa waktu dia mencari Javiero di sosial media miliknya, akhirnya ia menemukan akun bernama @iamjaviero, namun, hal ini membuatnya agak sedikit merinding.
"Laki-laki ini... Berbeda sekali," dia mencoba stalk akun itu dan menemukan satu foto aneh. Tiga anak kecil yang mengenakan gas mask, berlatar belakang hutan, tapi hutan itu sama sekali tidak asing baginya. Hutan belakang rumah. Tempat itu adalah tempat dimana Luci selalu menyendiri.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Tiba-tiba, suara sirene dari mobil ambulans berbunyi keras, serta suara megaphone yang berbunyi di depan rumah Luciana. "Tempat ini sudah memasuki masa lockdown, harap tetap tinggal di rumah!" beberapa saat kemudian, suara ambulans menghilang dan menjadi sunyi lagi.
"Mungkin, aku akan temui dia lagi."
•••
* : • Papá, espero que sigas aquí : Ayah, kuharap kau masih disini. • Maldita sea! ¿Quién me persigue? : Sialan! Siapa yang mengejarku?