Prolog

8 2 0
                                        

Dia sudah lama duduk di sudut itu, diam begitu saja hampir tidak bergerak sama sekali dalam beberapa menit. Sesekali ia memejamkan matanya, sesekali ia menarik panjang nafasnya, sesekali ia ingin menghepaskan fikirannya. Ditangannya memegang sebuah buku harian berwarna merah muda dengan gambar setangkai bunga daisy, sebuah nama tertoreh di sudut kanan bawah sangat kecil hampir tak terlihat. Namun jelas saja, nama itu terbaca jelas olehnya, bahkan bukan hanya untuk hari ini saja melainkan sudah menghantui hidupnya sejak ribuan hari yang lalu. Nama yang terus mengusik setiap langkahnya, hingga ia sering menciptakan tanya atas nama tersebut Alia Putri Pramesti.Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15, suasana di kedai kopi ini semakin ramai. Ale menyudahi lamunannya,Ia segera berdiri dari kursi rotan yang di cat dengan warna putih tak lupa sebuah meja berbentuk bundar diameter 50 cm dengan pot kaca berisikan tanaman hidroponik didalamnya memberi kesan teduh. Ia mulai mengenakan ransel dan menenteng tas yang berisikan laptop. Ia sudah pulang dari kantor sekitar pukul 19.00, dan duduk di bangku ini sekitar pukul 19.30 hingga pukul 22.20.

Ale sedang mengendarai mobilnya, jalanan malam di Jakarta terlihat lenggang. Sesekali ia menambah laju kecepatan mobilnya. Tak butuh waktu yang lama, ia sudah berada di depan rumahnya. Belum sempat membuka pintu mobil, seorang wanita telah membukakan pintu untuknya. Ale tersenyum, wanita itu juga tersenyum.

"Kok baru pulang Le?" tanya Kinan dengan nada lembut

"Tadi ada Rapat Nan" jawab Ale bohong

"Oh aku kira kamu lupa jalan pulang" Balas Kinan kemudian tertawa kecil

"Ah mana bisa aku tinggalin istriku begitu aja? Nanti diambil orang gimana?"

Kinan tersenyum lagi,

Ale keluar dari mobil lalu mulai melangkah masuk ke ruang tengah, ia meletakkan tas dan mulai membuka dasi. Kinan memeluknya dari belakang,

"Bukan masalah aku yang diambil orang Ale, tapi masalah aku yang nggak mau ditinggal sama kamu!". Bisik Kinan

Ale tersenyum, tangannya memegang tangan Kinan. ia membalikkan badannya, matanya menatap dalam mata Kinan. Kinan tersipu, lalu membenamkan kepalanya dipelukan Ale.

"Sudah makan?" tanya Kinan kemudian

"Belum" jawab Ale kemudian. Ale tak sedang lapar, hanya saja ia tahu bila menanyakan hal tersebut pasti Kinan sedang belum makan. Karena sejak awal menikah Kinan memang lebih suka makan malam bersama Ale dibanding makan sendiri. Begitulah Kinan, baginya Ale adalah setengah dari hidupnya.

Sejak awal pernikahan Ale dan Kinan, Kinan menjelma menjadi wanita yang begitu sempurna dimata Ale. Ia selalu bangun begitu pagi sebelum adzan subuh berkumandang, lalu menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan sarapan. Tidak lupa dengan secangkir teh hijau, atau susu putih dengan brown sugar, atau kopi panas selalu disuguhkan pada Ale setiap pagi hari. Katanya ini adalah amanat dari Sang Ayah sebelum ia menikah dulu "Kalau pagi jangan lupa buatkan untuk suamimu secangkir minuman hangat, diminum atau tidak itu pilihan dia yang jelas kamu sudah membuatkan untuknya! Karena itulah salah satu bakti seorang istri untuk suaminya" begitulah dulu ia menceritakannya pada Ale dengan sangat polos. Tentu saja Ale yang mulanya tak terbiasa dengan hal seperti itu pada akhirnya mengalah agar bisa membuat Kinan senang.

Kinan adalah seorang penulis yang kemudian memutuskan untuk berhenti menulis sejak menikah dengan Ale. Tentu saja Ale sempat sedikit khawatir, ia berfikir kalau saja menikah dengannya membuat Kinan mengubur mimpinya. Namun jawaban Kinan selalu tak terduga, dan meremukkan hati Ale "Dulu aku menulis Le untuk menemukan duniaku, tapi sekarang duniaku adalah kamu jadi aku tidak perlu menulis lagi". Jujur saja ucapan-ucapan Kinan selalu mampu menghancur setengah dari jiwa-jiwa Ale, hanya saja Ale merasa belum mampu untuk membalas semua ketulusan Kinan.

"Mulai sekarang kamu nggak usah bawa kunci rumah lagi ya Le" ucap Kinan pagi itu. Tepatnya pagi pertama setelah mereka menikah dan pindah ke rumah Ale.

"Kenapa?" tanya Ale kemudian

"Biar aku aja yang bukain pintunya"

"Janganlah Nan, aku nggak selalu bisa pulang cepat. Kadang bisa sampe jam 12 malam loh"

"Nggak papa, nanti aku bukain kok pintunya tenang aja!"

" Kasian kamunya lah, nanti kebangun"

" Tidak Le, itu bukan masalah. Kita harus punya waktu untuk saling berbincang, meskipun hanya sebentar saja. Setidaknya kita bicara, pasti suatu hari nanti aku juga ingin mendengarkan cerita kamu di kantor. Apa yang terjadi dengan kamu, apa yang bikin kamu seneng susah dan lain-lain. Ataupun sebaliknya, mungkin aku juga ingin cerita hal-hal yang aku lalui dalam satu hari itu"

"Tapi bener ya, gag bakal nyusahin kamu?"

"Ya enggaklah, kan aku istri kamu" ucap Kinan kemudian tersenyum

"Makasih Kinan, aku baru tahu kalau punya istri bisa sebahagia ini" balas Ale

KitaWhere stories live. Discover now