Prolog

3.1K 198 21
                                        

Cassielle Valemont or Cassielle Emrys Dravenmoor

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Cassielle Valemont or Cassielle Emrys Dravenmoor

Cassielle Valemont or Cassielle Emrys Dravenmoor

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aveiro Emrys Dravenmoor

Peran Pendukung :

Halord Morvain, Juan Valemont, Elara Whitemore

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Halord Morvain, Juan Valemont, Elara Whitemore

Brice Notaras, Matteo Vasilis, Gavin Argyros, Odette Acheron, Elyna Duskbane, Luca Norveil

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Brice Notaras, Matteo Vasilis, Gavin Argyros, Odette Acheron, Elyna Duskbane, Luca Norveil

Ethan Corvinus, Dante Albrecht, Dallas Notaras, Bianca Dravenmoor, Darren Dravenmoor, Freya Bathory

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ethan Corvinus, Dante Albrecht, Dallas Notaras, Bianca Dravenmoor, Darren Dravenmoor, Freya Bathory

Ethan Corvinus, Dante Albrecht, Dallas Notaras, Bianca Dravenmoor, Darren Dravenmoor, Freya Bathory

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Akademi Eboncrest


Peringatan: Konten ini untuk pembaca 18 tahun ke atas. Mohon membaca dengan bijak.


Dia bukan monster. Dia berbeda... dan aku tak bisa berpaling.

****

Badai salju mencakar kulitnya, menggigit hingga ke sumsum tulang. Napas Cassiella memburu, dadanya naik turun dengan ritme yang nyaris putus, paru-paru terasa terbakar setiap kali udara dingin menusuk ke dalam. Ia berlari. Berlari tanpa menoleh. Tidak berani menoleh. Ia tahu—monster itu masih di belakangnya.

Darahnya meraung di telinga, dentumnya lebih nyaring daripada suara angin. Setiap langkah terasa sia-sia. Monster itu terlalu cepat. Terlalu ganas.

Sial! Kakinya terpeleset, menghantam keras salju yang menutupi batu licin. Tubuhnya terempas. Nyeri menghantam lutut, tapi rasa sakit itu bukan apa-apa dibandingkan teror yang mencekiknya.

Ia menoleh. Dan menyesal melakukannya.

Bayangan itu menjulang, menelan cahaya yang tersisa. Nafasnya berat, uap putih membentuk siluet liar dari mulut yang menganga—dan di baliknya, taring. Panjang. Tajam. Berkilau seperti belati yang menunggu untuk merobek kulitnya.

"Tidak..." bisiknya parau, lebih mirip doa yang sudah kehilangan harapan.

Merah. Warna itu. Warna yang ia benci, tapi tak pernah bisa lari darinya. Warna darah. Warna mereka.

Monster itu maju. Satu langkah, dua langkah. Hanya sejengkal jarak yang memisahkan mereka. Cassiella memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram salju, menerima ketidakberdayaannya. Jika ini takdirnya, ia tak ingin melihat bagaimana akhir itu datang.

Lalu—suara itu.

Brak!
Dentuman keras memecah udara. Disusul percikan yang menodai putihnya salju dengan warna pekat yang memuakkan.

Hening.

Tidak ada gigitan. Tidak ada rasa sakit. Hanya keheningan yang menusuk sampai ke inti tulangnya. Perlahan, ia membuka mata. Pandangannya kabur, basah oleh air mata dan salju yang beterbangan.

Monster itu tak lagi berdiri. Tubuhnya tergeletak di tanah, tak bernyawa. Darah hitam mengalir, merusak kesucian hamparan putih. Dan di antara noda itu, seseorang berdiri.

Seorang anak laki-laki.

Rambutnya acak-acakan, napasnya berat, namun geraknya tenang. Matanya... mata yang menatapnya seolah menelanjangi jiwanya. Bukan tatapan biasa. Tatapan itu gelap. Dalam. Mengikat.

Tangannya berlumuran darah—hangat, basah, menetes ke salju—namun ia tidak tampak terkejut. Tidak terguncang. Ia... indah.

Langkahnya membawa tubuh itu mendekat, menelan ruang di antara mereka. Cassiella ingin mundur, tapi tubuhnya membeku. Nafas tercekat saat sosok itu berlutut di hadapannya. Dekat sekali.

"Kau terluka?" suaranya rendah. Dalam. Mengalun seperti bisikan yang menggedor syaraf.

Cassielle membisu. Lidahnya kelu, tubuhnya bergetar, tapi bukan hanya karena dingin. Ada sesuatu di tatapan itu—sesuatu yang berbahaya, tapi memabukkan.

Sebuah tangan terulur. Jari panjang, berlumuran darah. Harusnya menakutkan. Tapi tidak. Bagi Cassielle, tangan itu seperti undangan. Penuh dosa. Penuh rahasia.

Senyum tipis melengkung di bibirnya. "Sekarang kau aman," katanya. Nada itu lebih seperti janji... atau ancaman yang terasa manis.

Cassielle menelan ludah. Matanya jatuh pada tangan itu, lalu naik ke wajahnya. Begitu dekat. Begitu... mengancam. Jemarinya gemetar ketika ia akhirnya menyentuhnya. Hangat. Licin. Darahnya atau darah monster itu—ia tak peduli.

Satu pikiran bergaung di kepalanya, menenggelamkan suara badai:

Dia bukan monster. Dia berbeda.

Dan untuk pertama kalinya, Cassielle memilih mempercayai salah satu dari mereka. Meski setiap detak jantungnya berdentam keras, seperti pintu yang ia tahu tak seharusnya ia buka.

****

To be continued...

Hai. Aku buat cerita ini terinspirasi dari anime Vampire Knight. Kalian sudah ada yang pernah nonton animenya atau belum? Nanti alurnya aku buat sedikit berbeda ya.
Jangan lupa dibantu vote sama komennya biar makin semangat akunya🥰🥰

CRIMSON BOND [✔️]Stories to obsess over. Discover now