OO:: penawar ingatan

1.4K 179 43
                                        

"Cewek di pojok tanyain Sen

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Cewek di pojok tanyain Sen."

Hansen yang semula sedang mengelap gelas kaca itu menoleh pada pemuda lebih muda yang tengah disibukkan dengan catatan di depannya. Menautkan alis seolah mengatakan bahwa dirinya juga tengah sibuk, Ettan melirik Hansen sambil tak lama berdecak, "Bentar doang atuh lah! Gue sibuk!" ucapnya tak tahan.

Dengan sebelah tangan lainnya memegang telepon, Ettan menggerakan telapak tangannya mengusir Hansen untuk segera menghampiri pelanggan yang baru beberapa menit lalu mendudukkan diri di ujung meja.

"Sibuk apaan sih, telponan sama pacar emang sebuah kesibukan? Kebucinan itumah," nyinyir Hansen sambil melangkah mendekati Ettan.

"Bukan pacar anjir, ini si Hannah nyuruh gue minta resep pudding sepupu Jacob."

"Emang lo nggak takut dapur lo berasep kaya waktu itu?" Hansen ingat beberapa waktu lalu Ettan bercerita bahwa Hannah sang adik sedang belajar membuat kue, dengan skill pas pasan, gadis itu berhasil membuat dapur mereka penuh asap dan makanan yang ia panggang sukses menghitam.

"Takut mah jelas, tapi gimana ya Sen dia lagi belajar dan ngotot banget nyuruh gue minta resep ke Alana." Ettan melepas pena yang tengah ia pegang dan menggaruk pelipisnya lelah.

Hansen melirik catatan di depan Ettan sejenak dan mulai melangkah pergi menghampiri pelanggannya yang mungkin sudah menunggu, "Ya udah sabarin aja." sembari berjalan mendekat, Hansen menyempatkan diri melirik jam di pergelangan tangannya sebelum menarik napas pelan.

Sudah tengah malam. Bar tempatnya bekerja semakin ramai pengunjung, banyak dari mereka kadang memilih mengistirahatkan pikiran dengan pergi ke tempat semacam ini, untuk melupakan masalah yang mereka alami atau hanya sekedar bersenang-senang dan menghabiskan uang. Hansen beberapa kali menjadi pendengar bagi pelanggan pelanggannya, selain membuat minuman mungkin Hansen juga seorang psikolog dadakan, karena mereka butuh saran dan Hansen membantu sebisanya.

Padahal menurut Hansen, tempat seperti ini tidak pantas untuk menjadi tujuan peristirahatan diri, yang mana selain musiknya yang super kencang, kadang pula ada keributan tidak jelas yang malah menambah pusing. Tapi hal itu sudah tidak asing lagi bagi Hansen.

Lagipula cowok itu juga tidak terlalu peduli dengan motif orang-orang ke tempat ini. Hansen hanyalah seorang berkemampuan meracik minuman yang kebetulan memiliki takdir untuk bekerja di sebuah Bar. Cowok itu tidak bisa mengeluh apapun jika sumber penghasilannya berasal dari tempat yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benaknya itu. Bahkan ketika dirinya masih remaja sekalipun.

Sampai didepan stood bar, Hansen segera menyapa perempuan yang sedang sibuk memainkan ponselnya itu, "Mau pesan apa, kak?"

Surai hitam sebahu milik perempuan berpakaian hitam itu bergerak seiring kepalanya menengadah, menatap Hansen yang tengah memasang wajah ramah sebagai formalitas. Mata hitamnya terpaku sejenak, tapi tak lama terlihat bergerak melirik papan menu yang berada di belakang Hansen.

tiga pagiStories to obsess over. Discover now