Pagi ini kembali hadir, pagi yang sangat ingin dia lewati. Tapi inilah semesta, dia tidak bisa melakukan sesuatu diluar kendalinya. Bagaimanapun sulitnya hari ini, harus bisa dia lewati bukan?
Namanya Park Hanna,seorang siswi berusia 18 tahun. Tapi siapa sangka masa SMA nya bisa semenyedihkan ini? Memang benar yang orang katakan. Jika kita tidak mempunyai pegangan kita akan diinjak, terlebih jika kita berada dikalangan bawah.
Dihargai? Mungkin itu yang sangat gadis itu inginkan. Dia hanya ingin menikmati masa SMA nya begitu tenang seperti siswi lainnya, tapi lagi lagi ini lah semesta. Kita harus mengerti agar bisa menaklukkannya.
"Apa kau bodoh?" Kalimat sarkas itu lagi - lagi membuat Hanna ketakutan.
"Sudah kukatakan bukan,ambil buku materi milik Ryujin bodoh!." Bentakan kasar itu berhasil membuat tubuh Hanna bergetar bukan main.
"Aa-aaku tidak berani" hanya jawaban itu yang bisa Hanna keluarkan.
"Wah, kau bermain - main dengan ku? Ambil buku itu atau kau kuhabisi?"
"Tolong, bebaskan aku kali ini. Aku benar - benar tidak bisa melakukannya,Yuna" ucap Hanna dengan susah payah.
Yuna memang gadis yang paling ditakuti disekolah ini. Kenapa? Tentu saja karna kekayaan yang dia punya. Ah tidak, kekayaannya itu semua milik orang tuanya bukan miliknya. Tapi karena kekayaan orang tuanya lah yang membuat Yuna semena - mena kepada orang lain, dia selalu menindas siapapun yang ada dibawahnya, dia terlalu jahat jika disebut sebagai manusia.
"Urus dia". Ucap yuna memerintahkan anak buahnya yang sedari tadi mengikutinya dan hanya mereka balas dengan mengacungkan ibu jarinya.
Tidak butuh waktu lama, tubuh Hanna yang semula berdiri tegap dipaksa berlutut dihadapan Yuna. Hanna ingin sekali memberontak, tapi Hejin dan Sana memengaginya terlalu kuat. Ditambah tubuh Hanna yang memang sudah lemas karna terus ditampar oleh Yuna.
"Kasih dia pelajaran, agar tidak bisa ngeremehin perintah kita lagi!" ucap Yuna dengan tatapan mengintimidasinya.
"Tenang, serahkan saja kepada kita."
🦋
Pelajaran kelas 11 sudah dimulai sejak 10 menit yang lalu, semua mendengarkan penjelasan Yeon-ssaem dengan sangat khidmat. Yeon-ssaem bukan guru yang galak, juga bukan guru yang lemah lembut. Dia tergantung dari perilaku murid - muridnya, itu sebabnya meskipun dia termasuk guru yang santai dan asik dia juga disegani karena ketegasannya.
"Maaf ssaem, tadi ada masalah ditoilet" ucap Hanna yang baru memasuki ruang kelasnya.
"Kau tau,kalau kau telat?" Tanya Yeon-ssaem yang dijawab anggukan Hanna.
"Kalau begitu, sudah mengerti konsekuensi jika telat? Tolong keluar dan jangan mengganggu kelas." lanjutnya tegas.
Hanna tidak bisa melakukan apapun lagi selain menuruti perintah guru tersebut. Dia juga tidak bisa memberontak meskipun itu bukan kesalahannya. Dia tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan jika tadi Yuna dan teman - temannya melakukan pem-bullyan kepadanya.
Hanna bingung harus kemana saat ini. Dia menyayangkan pelajaran yang sudah ia lewatkan, tidak bisa dipungkiri jika pelajatan Yeon-ssaem termasuk pelajaran kesukaannya.
"Hannah, kenapa kamu ada disini? Bukannya bel sudah berbunyi?" Tanya Junho-ssaem selaku wali kelas Hanna ketika berpapasan dengan Hanna dilorong.
"Emm Maaf ssaem, tadi saya telat masuk kelas jadi saya disuruh keluar" ucapnya dengan senyuman canggung.
"Eemm. Tapi, bukankah hari ini kelasmu tidak ada pelajaran olahraga?" Tanya Junho-saem saat melihat Hanna mengenakan seragam olahraga. Padahal seingatnya murid - muridnya hari ini tidak ada kelas olahraga.
Hanna kebingungan menjawab pertannya Junho-ssaem bagaimana. Haruskah dia jujur? Atau berbohong lagi? Dia hanya takut kalau kejujurannya membuat masalah semakin runyam. Tapi dia juga tidak mau jika seperti ini terus menerus.
"Maaf ssaem, baju saya basah karnaaa..." Dia benar - benar bingung, antara mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Dia terus saja menggigiti bibir bawahnya hingga rasanya ingin sobek.
"Tadiiii ada yang tidak sengaja menumpahkan air kebaju seragam saya" lanjutnya sambil disambung dengan senyuman khasnya.
"Hem baiklah, jika ada apa - apa katakan saja. Jangan sungkan - sungkan" jawab Junho-ssaem sambil tersenyum.
"Ah benar, sebentar lagi akan ada murid baru dikelasmu. Tolong beritahu yang lain ya Hanna" lanjutnya yang hanya dibalas senyum khas milik Hanna.
🍁
"Hanna pulang" teriak gadis itu ketika memasuki area halaman rumahnya. Memang benar tempat terbaik untuk pulang adalah rumah. Kadang Hanna berpikir untuk tetap berada dirumah saja dari pada menghabiskan waktu diluar. Menurutnya menjajahi dunia luar terlalu kejam, dia ingin dirumah saja dengan orangtuanya dan juga adiknya. Tapi Hanna tau jika dia tidak menghadapi semesta, mereka akan lebih kejam kepadanya.
"Kau harus tau dunia luar sayang, bagaimana bisa kau tumbuh tampa rasa sakit? Rasa sakit itu yang akan mendewasakanmu". Kalimat itu yang selalu orang tuanya berikan kepada Hanna. Bagi Hanna, orang tuanya lah penenang dan pendengar terbaik dihidupnya. Tanpa mereka, entah apa jadinya Hanna saat ini.
"Bagaimana hari ini? Apa menyenangkan?" Tanya ibu Hanna yang terlihat baru selesai mencuci piring di dapur dan menghampiri Hanna yang terduduk lesu di ruang tamu.
"Hanna lelah" keluh Hanna sambil memeluk tubuh ibunya.
"Kalau lelah ya istirahat sayang, kenapa harus dipaksakan?"
"Ibu bilang jangan terlalu banyak istirahat, itu juga tidak baik untuk tubuh kita"
"Ibu tidak pernah mengatakan seperti itu Hanna, ibu hanya mengatakan istirahatlah dengan cukup" Hanna tidak menjawab lagi, hanya menenggelamkan kepalanya didalam pelukan ibunya itu.
"Kau cepat sekali tumbuh. Ibu merindukan Hanna yang dulu selalu merengek meminta permen jika ibu ajak jalan - jalan"
"Haruskah Hanna menjadi kecil lagi bu? Hanna juga ingin menjadi kecil lagi, tidak mengerti rasanya sakit menjadi orang dewada sepertinya lebih menyenangkan". Ucap Hanna entah untuk yang keberapa kalinya, mungkin ibunya itu sampai bosan mendengarkan kalimat yang selalu keluar dari mulut anaknya itu.
"Mulai deh ngelanturnya, udah sana ganti baju terus makan soalnya ibu udah bikinin makananan kesukaan kamu tuh" ucap ibu Hanna mencoba menghibur Hanna.
"Siap laksanakan ibu negara"
🍁
Tidak ada kegiatan yang bisa Hanna lakukan jika berada dikelasnya selain duduk sambil memandangi jendela disampingnya, jika tidak seperti itu dia akan membaca buku atau menulis sesuatu yang bisa menghilangkan rasa bosannya berharap waktu cepat berlalu.
"Selamat pagi" sapa Junho-ssaem ketika memasuki area kelas murid - muridnya.
Hanna yang semula melamun memandangi pemandangan disampingnya langsung mengubah atensinya menuju gurunya itu.
"Hari ini kalian kedatangan teman baru, jadi tolong bersikap baik mengerti" ucapnya sebelum memanggil orang yang akan diperkenalkan kepada teman - teman satu kelasnya.
Tidak butuh waktu lama, pemuda dengan rambut blonde sudah memasuki kelas sambil tersenyum begitu manis. Tapi Hanna benar - benar tidak tertarik dengan siapapun anak baru itu. Baginya, anak baru itu tidak jauh berbeda dengan teman - teman kelasnya yang terlewat kejam.
Bagaimana dia bisa mempunyai teman jika fikirannya kepada teman - temannya selalu seperti itu? Padahal tidak semua murid kelasnya sekejam Yuna, tapi tetap saja dia tidak pernah mau membuka hati dan memberikan sedikit ruang untuk temannya masuk kedalam hidupnya. Tolong siapapun nasehati Hanna agar tidak menjadi egois.
"Silahkan perkenalkan dirimu" ucap Junho-ssaem memecahkan lamunan Hanna.
"Nama saya Hwang Hyunjin, kalian bisa memanggil saya Hyunjin. Saya pindahan dari salah satu sekolah di Australia. Senang bisa berkenalan dengan kalian terimakasih" ucap anak muda yang tengah berdiri didepan teman satu kelas Hanna yang dihadiahi tepuk tangan kagum oleh teman - teman wanitanya. Tidak sedikit juga bisikan - bisikan tentang pujian terlontar karena pemuda itu.
"Emm kau bisa duduk ditempat yang kosong Hyunjin. Semoga kau betah" ucap Junho-ssaem sebelum meninggalkan ruang kelas.
Hanna yang semula tidak perduli mendadak terkejut. Bagaimana tidak? Satu - satunya tempat yang kosong saat ini hanyalah bangku didepannya. Sial, kenapa harus? Hanna malas jika harus berkenalan dengan orang baru. Hanna sangat anti dengan orang asing, baginya hanya membuang waktu.
"Hai, Hwang Hyunjin" sapa anak baru itu ketika sudah berada didepan Hanna dan juga tidak lupa mengulurkan tangan untuk berkenalan.
"Iya aku sudah tau" batin Hanna
Bukannya menjawab, Hanna hanya tersenyum menanggapi sapaan Hyunjin, setelahnya? Dia kembali melamuan dengan jendela kesayangannya.
VOUS LISEZ
My Side.
FanfictionHyunjin tidak suka sendirian. Dan dia juga tidak suka melihat orang lain sendirian. Jika bisa bersama - sama, kenapa harus sendirian? Bukankah berjuang bersama terdengar lebih menyenangkan? -HwangHyunjin
