بسم ا لله الرحمان الرحيم
Terlahir sebagai perempuan bukan kutukan yang sadar batasan,
Tentu impian yang diangan amat jauh
Menelusuri nilai alamiah semesta
Menjuru ke penjorok hikayat dunia
Menggali wawasan sedalam Atlantik
Menyelesaikan rute sampai kata ‘cukup’ sebelum maut
Kilas balik itu semua, ada bahagia yang lebih lagi
Yang adalah Menjadi Ibu dan Teman.
Menunggu sebentar bersamaan pandangan lurus, kemudian menutup laptop perlahan, kepala menoleh ke belakang melihat pada kedua insan yang sama-sama memejam terlelap.
Tanpa bisa menahannya bibirku dengan bebas mengulas senyum, seraya merasai bongkahan penuh syukur titipan sang pemberi keindahan.
Berjalan mendekat menuju ranjang gerak halus perlahan menimang bayi gembil bibir kemerahan merekah bagai buah delima yang mengatup polos, MasyaAllah sekali.
Menimang-nimang kecil ke kanan bergeser ke kiri.
Gerakan seirama dengan senandung Lullaby nyanyian tulusku khas seorang Ibu.
Terhela sebentar, melirik jam dinding yang ternyata sepertiga malam terlewati.
Ingin ku menaruhnya pada box khusus tempat tidurnya. Namun, hatiku tergelitik tak rela sampai bersorak mengatakan: “Baby harus mengerti, Buna sayang sekali! Karunia paling indah yang Allah titip untuk Ayah dan juga Bunda. Jangan lelah sayang, tumbuhlah bersama Ayah Bunda.”
Ranjang berderit dari arah belakang, (karena posisiku menimang bayi membelakangi suamiku) serta merta kutatap kembali bayiku dan syukurnya masih juga terlelap.
Ku lihat suamiku mata terpejamnya terbuka sedikit, seraya menguap menghalau kantuk lantas bergumam,
“Sayang, Baby kok’ dipindah, di sini aja bareng kita?,"
Aku membalasnya tersenyum, menaruh amat perlahan tubuh kecil yang masih ringkih, amat berharga anak kami pada bed khusus ranjang bayi.
Menepuk-nepuk pelan sayang, tak ketinggalan untuk selalu mencium dahi halusnya penuh kasih.
Alhamdulillah, Yaa Robb’
Ku tatapnya dengan ikhlas kembali, sampai tak sadar terhanyut pilu akan masih kalahnya semesta dengan bayiku, sambil ku tuai harapan----rapalan khusus istimewa yang tak hentinya terpanjatkan.
“Kamu ngetiknya udahan? Kenapa gak bilang aku?”
Suara dengan khas bangun tidurnya menyapa telingaku menenangkan.
Polos, gemas, juga haru sampai-sampai kubalikkan badanku meraih lengannya.
Tertawa sebentar melihat piama yang dikenakannya, bergambar karakter Tata BT21. Sontak saja aku teringat alasan konyol namun manis ia berkata tadi sore.
Ketika anakku, tepatnya putra kami masih terlelap lucu dipelukanku. Dia—suamiku kembali dari petualang mencari nafkahnya (begitu lelakiku menyebut tempat kerjanya).
Suara kendaraan roda empat itu berhenti, terdengar pijakan kakinya bergantian berbunyi, pijakan kanan dan kiri.
Putra manisku menggeliat, mungkin ia merasakan penantian pulang hero-nya setelah seharian menunggu. Unch sayangna, Buna!
Aku terkesiap, nyatanya selalu begitu ketika merasakan kehadirannya.
Mengelus bayiku sayang seraya mengucap desir Hamdalah.
YOU ARE READING
Modestly
RomanceONESHOT manis, bucin, haru, hikmah, pembelajaran dsb. hhh pokoknya imagine yang mungkin di luar nalar menurut sebagian people. mampir ya!
