Aaaahhhh*suara tangisanku, aku diikat, diremas, tanganku di genggam kuat, darahku mengalir khawatir di dalam tubuhku, baju, celana seluruh pakaianku basah, aku memohon ampun.
"masih mau lagi? Masih mau pergi lagi? Kamu masih tau pulang kerumah?". Di sebuah rumah beratapkan daun tumbuhan sagu, dinding papan yang hampir tiap sudutnya termakan oleh rayap, suara bentakan dari mulutnya aku masih ingat. Aku masih merasakan perihnya hal itu ketika membuat tulisan ini, bahkan membuatku tanpa sadar menjudge wanita itu. Nenek berteriak padaku, ibuku hanya menatap dengan sedikit air mata di sudut matanya, haha lucu, tidak perlu berpura-pura aku tahu semuanya.
"nanti kita beli televisi" Nenek berkata padaku sambil melepas tali yang mengikat sekujur tubuh dan yang mengurung nyaliku membuat darahku bersorak.
Umurku saat itu yang sekitar 12 tahun, aku berhenti menangis, membisu tak menjawab ucapan nenekku yang berkata akan membeli sebuah televisi yang bahkan kata-kata itu telah dijanjikan 4 tahun belakangan.
*seringai senyum dihatiku, "huh, terima kasih" aku berbicara dengan hatiku, berargumen dengan pendapat diotakku sendiri.
Aku Yunli, rumahku diujung jalan, di penghabisan kehidupan kampung. Kehidupan payah.
YOU ARE READING
Memangku Bintang
RandomKau lihat rumah diujung jalan sana? biar kuberi tahu, biar kau tak menyusahkan otak dan hatimu untuk tidak terus bertanya-tanya. Dahulu musik terdengar keras, bergenre pop, selalu terdengar gaduh dari dalam, sungguh bahagia. haha kini yang terdengar...
