Jakarta, 21 November 2019
To: Devin
Aku masih ingat kala itu. Aku berjalan berdua bersama temanku di sore hari. Sebenarnya, temanku adalah temanmu. Aku berbincang dengannya. Aku tak begitu ingat apa yang sedang kami bahas saat itu. Yang kuingat hanyalah aku tengah berbagi keluh kesah. Entah apa yang sedang membuatku resah. Hingga tiba akhirnya dia mengucapkan namamu. Dan sejak saat itu, semuanya dimulai.
Devin. Kuingat jelas namamu disebut olehnya. Aku tak mengenalmu kala itu. Begitu pun sebaliknya. Aku ingat bagaimana ia mempertemukan kita, Dev. Aku hanya melihatmu. Begitu pun sebaliknya. Tak ada sapaan. Tak ada jabat tangan. Saat itu aku berasumsi bahwa kamu merupakan tipe orang yang pemalu. Namun terkadang sebagian dari diriku mengatakan bahwa kamu merupakan orang yang angkuh. Maafkan atas persepsiku, Dev. Aku memang sering menduga-duga hal. Dan dugaanku saat itu ternyata salah.
Aku mulai menyadari dugaanku yang salah ketika kamu mulai tersenyum ke arahku. Kubalas senyumanmu. Kita pun akhirnya berbicara. Oh ya, maafkan aku. Maafkan aku karena kamu yang harus selalu membuka pembicaraan saat sedang bersamaku. Aku tak tahu apa yang harus kubicarakan. Apakah aku harus menanyakan tentang kabarmu hari itu? Tentang cuaca hari itu? Tentang kota asalmu? Atau tentang alasan langit berwarna biru?
Maaf, Devin. Aku tak tahu bagaimana harus memulai suatu obrolan denganmu. Aku ini gadis yang pendiam, pun mudah merasa canggung. Aku merasa lega ketika kamu memulai pembicaraan. Iya, tentang sebuah lagu. Kamu masih ingat kala itu? Kamu menyanyikan sebuah lagu. Dan ketika kamu bertanya apakah aku mengetahui lagu yang kamu nyanyikan, aku menjawab tidak tahu. Ya, bagaimana? Aku memang tidak tahu.
Apakah kamu tahu apa yang kulakukan selepas pertemuan pertama itu? Aku pulang dan mulai mendengarkan lagumu itu. Aku terus mengulanginya, Devin. Kurasa aku menyukainya. Atau apakah aku yang justru menyukaimu? Tidak, kurasa itu terlalu cepat, Devin. Lagipula, aku tak percaya pada cinta pada saat kali pertama bertemu. Abaikan saja pembahasan ini ya, Devin. Anggap saja sebagai angin lalu.
Devin, surat ini kutujukan kepadamu. Namun, aku tak akan pernah berani mengirimkannya untukmu. Surat ini akan kusimpan di tempat yang mana orang lain tidak akan tahu, termasuk sahabat bahkan keluargaku. Jika kamu membaca surat ini, tentunya kamu akan bertanya-tanya, "Untuk apa kamu menuliskan surat dan ditujukan kepadaku?" Entahlah. Aku hanya ingin menuangkan apa yang ada di dalam pikiranku pada lembaran kertas. Dan mengapa kutujukan kepadamu, Devin?
Aku tidak akan menjawabnya pada surat ini. Kamu akan menemukan jawabannya nanti pada surat-surat berikutnya.
Tertanda,
A.
YOU ARE READING
Surat untuk Devin
RomanceTentang aku dan Devin yang kuceritakan dalam bentuk surat. Tidak, semua suratnya tetap kusimpan. Aku tidak akan mengirimkan surat-suratku kepadanya.
