Prolog

15 1 0
                                        

"Bunda, aku jalan sendiri aja ya gak usah di antar," katanya sambil berjalan menuju pintu.
Bundanya hanya mengangkat jempol sebagai tanda setuju.

Annisa Salsabilla
Perempuan yang selalu tampil ceria, padahal hatinya sangat rapuh. Ia tetap tersenyum walaupun hatinya bersedih. Ia menutupi kesedihannya dengan tertawa.

Annisa berjalan dengan santai, karena masih jam 06.15, bel masuk di sekolahnya pukul 06.30 masih ada waktu 15 menit lagi. Ia bersekolah di SMA PRADIPTA, sekolah favorit di kotanya. Jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh, wajar saja Annisa lebih memimilih jalan kaki. Selain mengurangi polusi bisa juga sebagai olahraga pagi baginya.

Ia berhenti di depan pagar, menunggu seseorang yang seharusnya tidak dia tunggu. Gibran.

Gibran Izha Saputra
Laki-laki yang mampu membuat Annisa tergila-gila. Wajahnya bisa di bilang biasa aja, tapi manis, giginya yang putih tertata rapi didalam mulutnya. Postur tubuhnya juga biasa aja tidak terlalu tinggi, malah bisa dibilang pendek. Dia sangat dingin kepada Annisa, hanya kepada Annisa.

"Akhirnya yang ditunggu dateng juga," kataku lirih.
"Hai Gibran. Selamat pagi" Sapaku dengan semangat.

Gibran melengos begitu saja, tidak mengindahkan sapaanku. Aku tau, pasti Gibran tidak akan membalasanya, setidaknya aku sudah mengucapkan selamat pagi kepada Gibran.

Aku berlari menuju kantin, aku tau pasti Gibran tidak langsung ke kelas. Dia akan sarapan terlebih dulu di kantin. Annisa berlari kecil mengikuti kemana arah Gibran berjalan.

"Bran, tuh curut ngikutin lu mulu, kek gak ada kerjaan aje" Tegar menyenggol bahu Gibran, lawan bicaranya.

"Yarin aje" jawabnya datar tak berekspresi.

"Gibran aku naik duluan ya" aku berjalan sedikit berlari sambil melambai-lambaikan tangannya.

Gibran hanya diam tak menggubrisnya, ia lebih memilih bermain game online kesukaannya. Mobile legends.

"Gila gak tau malu tuh curut" Tegar lagi-lagi menyenggol bahu Gibran.

Di kelas.

"Haa-i" teriakku dengan suara tersenggal-senggal.

"Selaw-selaw gak usah buru-buru, mau cerita apa?" Tanya sahabatnya yang sudah sangat hafal tentang Annisa.

Putri Nadine Alfa
Perempuan yang tak kalah ceria dari Annisa, dia sahabat Annisa yang sangat setia mendengarkan ceritanya. Padahal ceritanya sangat tidak bermutu, dan sudah pasti itu-itu aja.

AddictedWhere stories live. Discover now