Aku mencintainya ...
Ingin hidup bersamanya menurutku bukanlah sesuatu yang mengada-ada.
Aku mencintainya ...
Ingin menghabiskan masa tua bersamanya bagiku bukanlah sebuah hal konyol.
Aku mencintainya ...
Membayangkan menghabiskan masa tua dengan dikelilingi anak-anak yang mewarisi paras kami berdua bukanlah sebuah hal yang bisa dianggap lelucon.
Karena,ya... aku mencintainya!
Mobilku melaju di tengah hiruk pikuknya kota Samarinda yang dipenuhi dengan hilir mudik orang-orang yang tengah bergembira menyambut detik-detik bergantinya tahun. Pedagang terompet nampak ramai memadati trotoar jalan yang sebenarnya tidak dibolehkan untuk menjajakan dagangan di atasnya karena itu adalah hak pejalan kaki. Namun,sepertinya tak ada yang keberatan,toh tidak ada juga pejalan kaki yang menggunakan hak mereka di atas trotoar,semua nampak menunggangi kendaraan beroda mereka masing-masing. Suara terompet terdengar sesekali bersahutan beradu dengan klakson kendaraan yang memekikkan telinga.
"Ri ... " Gadis manis di sebelahku memanggil,dia Shania. Aku yang fokus menyetir menengok sebentar ke arahnya.
"Iya?"
"Maret nanti anniversary kita yang ke 4 loh" ujar Shania tanpa melihat wajahku,matanya terfokus pada game di ponselnya.
"Gak terasa ya" jawabku sekenanya. Bingung ingin menanggapi bagaimana,salah jawab bisa panjang urusan.
"Udah hampir 4 tahun,mau nunggu berapa tahun lagi?" tanya Shania,masih fokus dengan gamenya. Aku mengernyitkan dahi.
"Nunggu apa emang?" tanyaku.
"Nikah!"
Sontak aku terbatuk mendengar perkataan Shania. Serius ucapannya tadi?
Kedua alisku bertaut. "Nikah?"
Shania menatapku dengan tampang polosnya.
"Iya. Ada yang salah?" mata bulat itu mengerjap dua kali. Dia sangat santai mengucapkan sebuah kata yang bahkan belum ada dalam benakku saat ini. Pernah ada sebenarnya,tapi hanya sekelebat bayang.
Aku mengatur napas,mencoba menguasai keadaan setelah agak kaget mendengar ucapan Shania.
"Kok tiba-tiba kamu kepikiran gitu?" aku mencoba santai sambil tetap fokus menyetir memperhatikan jalan yang semakin larut malah semakin ramai.
"Emang kamu gak pernah kepikiran sampai situ?"
Deg! Ucapan Shania membuat lidahku kelu seketika. Jujur,sampai saat ini aku belum ada rencana untuk merancangnya,membayangkan akan ditanyai perihal ini oleh Shania saja sama sekali tidak pernah terlintas di otakku. Apakah Shania bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu?
Beberapa saat kami terdiam. Hanya suara klakson kendaraan dan musik-musik yang diputar di kedai-kedai pinggir jalan yang terdengar mendominasi.
"Berarti kamu memang gak ada niatan buat serius ..."
Suasana hening beberapa saat sampai aku mendengar sesuatu. Suara isakan pelan yang terdengar tertahan.
Aku menoleh. Kulihat Shania tertunduk,tangannya masih memegang ponsel tapi dengan layar yang hanya menampilkan gambar menu.
Tangan berkutek merah muda itu terlihat sedang mengusap bagian bawah matanya. Heh? Shania menangis?
"Loh,kamu kenapa,Shan?" ujarku panik.
YOU ARE READING
Reinkarnasi
Spiritualmungkin kita telah menulis berlembar-lembar impian dalam angan. namun,sekali lagi perlu diingat. manusia hanya bisa berencana,seterusnya itu urusan takdir. dan yakinlah, takdir apapun yang telah ditetapkan oleh Allah akan jauh lebih baik dari rancan...
