1

38 1 0
                                        

     Laki-laki itu terus memperhatikan Nine dalam diam. Ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang jarang terlihat. Pria tinggi itu masih dalam balutan seragamnya saat maniknya menangkap seorang Nine yang sedang berjalan santai dengan menenteng sekantong besar baju kotor didekat apartemennya. Nine masuk ke sebuah laundry langganannya dengan sedikit menyibak anak rambut yang menutup mata lalu tersenyum pada penjaga laundry sebelum menyerahkan kantong itu dengan sungkan.

    Bibirnya makin merekahkan senyum saat melihat Nine menghela napas lega setelah kantong besar telah diurus oleh orang yang tepat. Tangannya memasukkan dompet kedalam saku celana pendek beberapa detik setelah Nine keluar dari laundry tersebut. Mengacak rambutnya pelan sebelum kedua mata mereka bertemu pada satu garis lurus.

   "Oi, Joong!" Nine melambaikan tangannya pada Joong dengan senyum lebar yang menampilkan gigi kelincinya yang lucu. Joong, pria tinggi itu balas menaikkan tangannya kecil. Nine membawa langkahnya mendekat pada Joong, ia memperhatikan Joong dari atas hingga kebawah beberapa kali. "Kau masih menggunakan seragam?"

   "Hmm, Pavel memintaku menemaninya survey tadi"

   "Ah! Untuk acara tahunan fakultas teknik itu?" Joong mengangguk kecil pada Nine. Maniknya tidak pernah bisa lepas dari segala ekspresi yang Nine buat, bahkan bibirnya ikut tersenyum saat pria yang lebih mungil darinya itu nampak excited dengan pembicaraan mereka.

  "Apa kau sudah makan?" bibir sewarna peach cerah itu merenggut lucu, lalu menggelengkan kepalanya kecil. Tidak tahan lagi, Joong membawa tangannya untuk mengusap rambut Nine. Sangat lembut dan candu. "Kau ingin makan apa?"

  "Kau tidak ingin berganti baju dulu? Ini sudah cukup malam" mata bulat Nine mengerjap cepat pada Joong.

  "Mau mampir ketempatku dulu atau-"

  "Kita beli makan dulu lalu ke tempatmu, kau butuh mandi agar tidak bau" Joong menggelengkan kepala menahan geli. Nine menutup hidungnya dan menjauhkan diri dari Joong saat mengatakan itu.

   "Aku bau tapi kau tetap dekat-dekat denganku"

   "Tentu saja. Kau kan dekat dihati" Nine mengedipkan sebelah matanya sebelum berjalan lebih dulu meninggalkan Joong dibelakang. Laki-laki tinggi itu mematung ditempat. Jantungnya berdegup terlalu cepat hingga rasanya menjadi sangat candu. Bibirnya tersenyum semakin lebar layaknya orang gila. 'Bagaimana bisa Nine menjadi semanis itu? Apa ia tidak lelah menjadi gula?'

.

.

.

   Joong barusaja tiba digedung apartemen Nine bersama motor besar milik Pavel, ia meminjamnya. Nine kemarin memintanya untuk pergi bersama ke panti asuhan di kota tetangga, survey katanya. "Sorry, aku merepotkanmu" Nine mengambil helm yang diberikan Joong dan memakainya cepat.

  "Ben dan Dome kemana?" tanya nya begitu Nine naik keatas motor.

   "Ben sedang ada urusan dengan Profesor, Dome harus berangkat bersama anak-anak yang lain karena membawa beberapa barang" Nine menyamankan diri sebentar lalu mendekatkan wajahnya pada Joong. "Kau tahu lokainya bukan?"

  "Aman"

  "Oke. Ayo berangkat" jemari Nine sudah nyaman berada di jaket Joong. Membiarkan Joong memimpin perjalanan kali ini.

   "Apa aku terlalu kencang?" Joong merasakan Nine menggeleng pelan dibahunya.  "Sudah sarapan?" Nine menggeleng lagi. Joong tiba-tiba membelokkan motornya kearah makanan cepat saji dengan layanan drive thru. Ia meminta Nine memesan beberapa yang bisa dibawa ketempat panti.

   Sesampainya disana ia bertemu dengan Dome dan teman-temannya yang lain. Maniknya memincing saat melihat sosok Pavel mengekori Dome. Pria itu menghampirinya sesaat setelah mata mereka bertemu.

   "Kau kesini bersama Joong?" Nine menganggukkan kepalanya kecil.

   "Aku meminta tolong padanya-"

   "Dia barusaja sampai subuh tadi, dan sekarang ia menyetir kesini?" kedua alis Nine bertemu ditengah. Ia butuh kejelasan lebih. "Joong baru saja tiba dari Australia tadi subuh jika kau ingin tahu"

  "Untuk apa ke Australia?"

  "Ayahnya seorang volunteer amal disana, sebuah gereja tua yang menampung anak-anak yatim piatu untuk disekolahkan"

  "Hmm.. aku-"

  "Pavel, kau juga disini?"pria berotot itu mengangguk. Tangannya langsung terbuka dan berlabuh dipinggang Dome saat pria itu mendekat.

  "Bukankah kau barusaja tiba dari Australia?" Joong mengangguk kecil lalu mengalihkan pandangannya menuju Nine. Bibirnya tersenyum tipis sebelum menyerahkan berkantong-kantong makanan cepat saji itu pada Nine.

   "Suruh saja mereka memakan ini, kau juga harus makan" ia mengusak pelan rambut Nine sebelum pergi mengajak Pavel bersamanya. Ini menimbulkan tanda tanya besar dikepala Nine

.

.

.

Am I?Donde viven las historias. Descúbrelo ahora