- Chapter 1 -

597 53 76
                                        

"Cepat!" ujar Alfhen kepada istrinya yang baru saja melahirkan buah hatinya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Cepat!" ujar Alfhen kepada istrinya yang baru saja melahirkan buah hatinya. Sang Nephilim itu menuntun istrinya yang seorang manusia tak tentu arah demi menghindar dari para monster yang turun dari langit dan menciptakan sebuah lubang yang disertai kilat berwarna oren yang bercahaya terang. Langit pun berwarna hitam kelabu seiring datangnya monster aneh yang menyeramkan tersebut. Monster itu muncul begitu saja dari langit sesaat setelah buah hatinya lahir ke dunia.

Semua orang berhamburan menyelamatkan diri mereka dan berpencar ke segala arah dan alat transportasi berhenti dengan acak. Ada yang ringsek karena tertimpa reruntuhan bangunan, ada juga yang bertabrakan satu sama lain.

"Aku tak kuat lagi, Alfhen!" ujar sang istri yang bernama Viona dengan napas yang hampir menipis. Ia tertatih-tatih dan beberapa kali tersandung karena tubuhnya masih lemah pasca melahirkan. Bahkan darah segar tak henti-hentinya meluncur dari kaki Viona. Menciptakan jejak darah yang segar di aspal yang sudah hampir terkoyak karena hentakan para monster itu.

Alfhen berusaha membopong Viona namun tidak dalam jangka waktu yang lama. Kekuatannya tak cukup karena sebagian besar aliran energinya telah mengalir ke darah buah hatinya yang tengah tertidur dengan pulas di pelukan sang ibu.

Alfhen melihat sesosok monster berlari mengejar dirinya dari belakang. Monster tersebut memiliki tanduk dan gigi yang sangat tajam. Berbulu dan berbadan besar.

"Sial!" umpat Alfhen saat ia melihat monster tersebut semakin mendekat sementara langkahnya tak secepat langkah monster itu.

Ia terus berlari menghindar dengan wajah yang sangat panik, seakan kematian berada sejengkal di depan wajahnya. Sesosok makhluk aneh dengan bentuk yang berbeda muncul dari arah depan. Sosok dengan mata satu dengan gigi layaknya gergaji mengejar mendekatinya dan juga Viona yang sudah tak sanggup berkata-kata.

Alfhen berhenti. Keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya. Ia memutar kepalanya ke segala arah. Mencari celah untuk bersembunyi. Hanya ada beberapa rumah kecil di sisi kanan dan kiri Alfhen.

Alfhen memutuskan untuk pergi ke kanan, menuju sebuah rumah yang dijadikan toko hewan. Suara gonggongan dan raungan dari fauna yang ada di toko tersebut terdengar dengan kuat seakan meminta tolong kepada Alfhen yang juga sedang membutuhkan pertolongan.

"Ayo kita sembunyi disana," ujar Alfhen seraya menuntun Viona yang melemah sambil terus mendekap sang anak di pelukannya. Ia berjalan perlahan karena Viona tak mempunyai tenaga yang cukup untuk sekedar berjalan.

Saat Alfhen mendekati toko hewan yang hanya 4 langkah lagi dari dirinya, sebuah kaki berbulu dengan kuku yang menjulang tajam membelah pandangannya dan membuat Alfhen tersentak.

Alfhen segera mundur dengan cepat ke posisinya semula. Kepulan debu sudah membaluri wajah Alfhen hingga kini ia terlihat seperti korban kebakaran.

Seperti cahaya terang yang memukul tanah, seseorang muncul entah dari mana. Membuat Alfhen dan Viona terpukau dengan cahaya yang memancar dari tubuh orang itu. Aspal yang dipijaknya pun tiba-tiba berubah menjadi es beku, menjalar ke segala arah terkecuali tempat dimana Alfhen dan Viona berpijak.

EPIC [Completed] Where stories live. Discover now