"PACAR HALU"

25 1 1
                                        


"Cin, minta dong es krim lu. Keknya enak banget" ucapku seraya menarik mangkuk bening yang berisikan es krim coklat bertopping keju itu.

"Ehh.. enak aja lu, es krim lu juga ada cebong. Masih aja minta es krim orang"

Cindy berusaha mempertahankan mangkung es krimnya yang berada di genggamanku.

"Ya Allah, pelit banget sih lu! Gue minta dikit doang. Kan punya gue rasa vanila, punya lu rasa coklat. Salah gue pengen ngerasa punya lu?"

Seolah tidak peduli dengan ucapan Cindy, aku pun berusaha merebut mangkuk bening Cindy dengan gesit dari genggamannya.

Tapi entah kenapa, seketika tangan Cindy menjadi pasrah dan mengalah telak terhadap perebutan yang sedang aku lakukan.

Cindy hanya terdiam menatap lekat ke arah belakangku. Matanya terbelalak dan jelas terlukis senyum tipis di wajahnya.

"Karin.. Karina.." ucapnya seraya menepuk-nepuk keras tanganku.

"Apaan?!"

"Liat tuh.. liat.. Ya Allah, nikmat mana yang telah aku dustakan.."

Cindy terus menatap lekat tanpa berkedip sedikit pun. Senyumnya pecah menampilkan pagar besi hitam yang menancap di sela-sela giginya.

"Ada apaan sih?"

Rasa penasaranku pun membuat kepalaku berputar 180 derajat kebelakang berusaha mencari sumber perhatian Cindy.

"Ya Allah Cindy, itu malaikat apa manusia? Ganteng banget anjirrr..."

"Nah lu baru ngeh kan? Liat tuh! Kulitnya putih, mulus, bibirnya tipis merah muda, rambutnya ikal bewarna coklat, sorot matanya tajam memikat jiwa, wahh... daebak! Lihat tuh, hidung kecilnya yang mancung.. Ya Allah"

Cindy terus bergumam seraya menepuk-nepuk telapak tanganku yang mulai lemas menggenggam mangkuk es krimnya.

"Lihat alisnya Cin, lihat! Hitam tebal, badannya busett!! Tinggi, kurus idaman gue banget bangsat!!"

"Itu oppa gue cebong. Ga usah sok ngerebut punya orang, kan gue dulu yang ngeliatnya"

"BODO AMATT!!! Siapa cepat ngajak kenalan, dia dapat"

Aku pun bergegas, beranjak dari kursi kayu bernuansa vintage menuju kearah pria yang sedari tadi telah mencuri perhatianku dan Cindy.

Aku terus berjalan dengan penuh percaya diri, mengepalkan kedua tanganku mengisi keberanian untuk membuka suara saat berhadapan dengannya.

"Hallo"

Aku tersenyum seraya menyapa dengan tangan yang melambai lembut di hadapannya.

Dia dan temannya hanya terdiam, saling bertukar pandang dan terlihat menebak apa yang akan aku lakukan terhadap mereka.

"Eh.. Hallo" balas temannya dengan ragu.

"Hallo aku Karina. Hallo juga kamu cowok ganteng.."

Dia hanya terdiam tidak membalas ucapan salamku dengan sepatah kata pun.

Aku mulai merasa konyol dan terus tersenyum hingga gigiku terasa kering ditiup angin.

"Astaga, respon kek apa kek. Udah gue bela-belain buat negur duluan, malah dikacangin kayak gini"

"Ahahaha.. iya iya gue paham, jabat tangan dulu kan?" ucapku konyol terus mempertahankan senyum terpaksaku.

Dia hanya terdiam tidak merespon. Beberapa orang di dalam cafe mulai melemparkan pandangannya kepadaku. Keadaan terasa sangat canggung.

L E M O NLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora