Kegaduhan di Restoran

39 0 0
                                        


Jemari Diana Anggraini sibuk memutar-mutarkan ponsel sementara pikirannya berkelana tak tentu arah. Wanita berambut sebahu itu sedang memikirkan suatu strategi, bukan strategi pengembangan bisnis restorannya ke luar kota, tetapi mengenai perkataan—lebih tepatnya pernyataan—temannya yang tidak masuk akal dan sangat berisiko.

Jika ingin hidupmu lebih berwarna, peliharalah berondong, Diana.

Wanita yang akrab dipanggil dengan sebutan Diana itu menghela napas. Tangannya menaruh ponsel di meja, kemudian dirinya merebahkan diri di sofa panjang berwarna biru gelap yang sejak tadi didudukinya. Matanya kini tertuju pada langit-langit ruang keluarga yang di tengahnya terpasang sebuah lampu kristal kecil dengan lima buah bohlam sebagai penerang.

Mengapa hidup ini begitu membosankan? Batinnya berteriak. Dia bahkan kini tidak tahu apa yang diinginkannya. Padahal kehidupannya begitu sempurna. Menikah dengan pengusaha di usia yang sudah layak, memiliki bisnis restoran Jepang yang terdiri dari beberapa cabang, rumah yang indah dan nyaman untuk ditempati, ditambah dengan suami yang mendukung segala keputusannya.

Diana memandangi kepingan-kepingan kristal yang mengelilingi bohlam. Dia ingin seperti kristal yang memantulkan cahaya agar ruangan terlihat lebih terang dan berwarna. Lebih tepatnya, dia bosan menghadapi kehidupan yang begitu-begitu saja. Pernikahannya selama lebih dari tujuh tahun hanya diisi dengan kesibukan membangun usaha dan sesekali berwisata bersama Prambudi, suaminya, yang berbeda usia dua tahun di atasnya.

Diana kembali memikirkan perbincangan dengan temannya barusan. Memelihara berondong? Diana tahu, berondong yang dimaksud bukanlah berondong jagung yang biasa dimakannya ketika menonton di bioskop bersama pacar yang kini jadi suaminya, melainkan istilah atau sebutan bagi pasangan pria yang lebih muda daripada dia.

Kepala Diana menggeleng, mengenyahkan segala pikiran tentang berondong, tetapi sia-sia. Diana bahkan kini mulai berkhayal tentang pria seperti apa yang mendampinginya apabila dia tidak bersama suaminya saat ini.

Lamunan Diana buyar sewaktu ponselnya berdering. Lekas Diana bangkit duduk dan meraih ponsel pintar dan menggeser layarnya. "Halo?"

"Halo, bu Diana. Maaf mengganggu waktunya. Saya Max, supervisor restoran cabang Blok M."

"Ada perlu apa?"

"Ada masalah terjadi di sini. Uang di kasir hilang, sementara kasir yang bertugas tidak mau mengaku kalau dia yang mengambilnya. Kami butuh akses CCTV untuk membuktikan siapa pelakunya, sedangkan Vendor yang biasa mengurus tidak bisa dihubungi, makanya saya mau minta tolong kepada ibu untuk membuka passwordnya."

Diana mendesah lirih, tidak terdengar oleh lawan bicaranya. "Baik, saya akan segera ke sana."

"Terima kasih, bu. Maaf merepotkan."

Telepon dimatikan. Diana kembali menghela napas. Ada-ada saja, manusia mana yang mencuri sewaktu berjaga?

Diana bangkit berdiri, lalu berjalan ke kamar untuk berganti pakaian. Dia mengenakan kemeja polos berwarna putih dengan dilapisi blazer hitam. Celana kulot hitam menutupi kakinya yang jenjang. Duduk di meja rias, Diana melapisi bibir tipisnya dengan lipstik SK-II berwarna merah muda, memoles pipinya dengan blush-on bermerk sama, dan menggunakan eye shadow berwarna natural.

Setelah puas dengan tampilannya, Diana bangkit berdiri, mengenakan heels Zara berwarna hitam, memasukkan ponsel ke dalam tas Versace mungilnya, mengambil kunci kontak, lalu berjalan menuju garasi. Wanita berambut sebahu yang kini tampil monokrom dengan dua kancing kemeja bagian atas yang terbuka itu menyalakan mesin mobilnya.

Setelah mobil menyala, dia menekan remote untuk membuka pintu garasi, kemudian menekan pedal gas secara perlahan. Mobil Audi A4 berwarna hitam metalik itu meluncur perlahan menapak jalanan depan rumah Diana yang lengang lantaran hari sudah siang menjelang sore.

Usaha Konspirasi yang Nyaris GagalHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora