Langit Seoul masih terlihat gelap, padahal jam sudah menunjukan pukul 08.00 waktu setempat. Mungkin karena semalam kota tersebut diguyur hujan deras sehingga awan gelap masih tersisa hingga kini.
Ditempat lain, seorang gadis masih tertidur pulas dan menikmati mimpinya, tak lama mata sipitnya terbuka perlahan dan berusaha menyesuaikan indra penglihatannya. Ialah Hwang Yeji, seorang gadis Sekolah Menengah Atas ditahun kedua.
Ia bangun dari tidurnya lantas segera mengalihkan pandangan pada jam berukuran sedang yang menggantung pada dinding kamarnya.
Mata sipitnya terbelalak sepersekian detik setelah menyadari jam sudah menunjukkan pukul 08.05.
"Ah.. Apa ini?! Bagaimana bisa aku tidur terlalu lama?!" ia memekik dan segera berlari menuju kamar mandi untuk kemudian berangkat sekolah.
Haruskah pergi ke sekolah bahkan sudah jelas terlambat begini? Tentu saja iya. Satu minggu sebelumnya, guru matematika yang merupakan wali kelasnya mengumumkan perihal ulangan harian yang akan dilaksanakan hari ini. Bagaimanapun Yeji harus pergi sekolah.
Yeji berlari sekuat yang ia bisa, ia tidak dapat menanti bus yang baru akan lewat sekitar 30 menit lagi. Sesekali ia berhenti sebentar dan mengatur nafasnya yang terdengar memburu.
Begini lah kehidupan Hwang Yeji semenjak duduk di bangku SMA, ia hidup sendiri ditengah hiruk pikuk kota Seoul. Ia lahir dan dibesarkan di Jeonju, namun kedua orang tuanya sepakat untuk menyekolahkan Yeji di sekolah terbaik yang ada di Seoul.
Mau tak mau Yeji harus mengikuti keinginan orang tuanya, toh ia juga menikmati kehidupannya di Seoul. Ya, walaupun tak jarang ia bangun telat karena tidak ada yang membangunkannya.
Yeji sampai di depan pintu kelasnya dengan nafas yang belum stabil, saat itu pula seorang guru perempuan yang menggenakan rok hitam selutut keluar dari kelas yang hendak Yeji masuki.
"Hwang Yeji" ucapnya dengan nada datar.
Yeji tak bergeming, ia bahkan tak sanggup menatap guru dihadapannya, ia hanya menunduk.
"Telat lagi?" sambungnya.
Yeji mengangguk perlahan dengan kepala yang masih menunduk. Tangannya meremas satu sama lain.
"Temui aku setelah istirahat, sekarang masuk lah." ucapnya lalu pergi melangkah, meninggalkan bau parfum yang samar-samar terhirup oleh indra penciuman Yeji.
"Huft..." Yeji menghembuskan nafasnya lega. Ia segera melangkahkan kakinya kedalam kelas.
"Hey Hwang Yeji! Terlambat lagi, huh?" seru teman sebangku Yeji, Choi Lia.
Yeji dengan lemas menempatkan bokongnya pada kursi tempat ia biasa duduk. Lia menatap Yeji dan kemudian tertawa.
"Apa?" Yeji menoleh lalu menatap teman sebangkunya dengan tatapan datar.
"Aku sudah bilang nyalakan alarm ponselmu." ledek Lia sembari tertawa pelan.
Sebenarnya, Yeji sudah melakukan hal itu. Namun entah kenapa suara alarm selalu tak berhasil membangunkannya. Atau haruskah Yeji memasang speaker super keras sebagai alarm? Tidak, yang benar saja.
Bel istirahat berbunyi tepat waktu. Yeji dan Lia pergi ke kantin seperti biasa. Mereka menempatkan bokong pada salah satu kursi setelah membawa makan siang masing-masing yang harus didapat dengan cara mengantri.
Menu makan siang kali ini adalah bibimbap serta beberapa potong tangsuyuk.
"Bibimbap selalu terlihat menggiurkan, bukan?" ucap Yeji sebelum melahapnya.
"Hum, benar!" jawab Lia dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Telan dulu baru bicara!" omel Yeji yang disambut dengan tatapan sinis dari Lia.
Hubungan pertemanan mereka memang seperti kucing dan anjing. Meski begitu pertemanan mereka sangat tulus satu sama lain
"Permisi, bolehkah aku ikut bergabung? Tidak ada kursi kosong yang tersisa."
Yeji maupun Lia segera menoleh ke sumber suara. Indra penglihatan mereka menangkap sosok laki-laki dengan kulit seputih porselen yang tengah berdiri sembari tersenyum ramah.
Bersambung...
YOU ARE READING
UNPREDICTABLE
FanfictionAnak lelaki yang disukai Hwang Yeji ternyata seorang penyuka sesama jenis?! Mulai update sejak 20 Februari 2020.
