Mairin membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Ia tidak mau suara berisik akan membangunkan ayahnya yang tengah tertidur pulas di sofa ruang tengah. Televisi masih menyala, menyiarkan siaran berita tengah malam. Biasanya Mairin akan mematikan televisi jika ayahnya sudah ketiduran, tapi untuk kali ini Ia membiarkan segalanya tidak berubah agar ayahnya tidak mengetahui bahwa Ia sudah pulang.
Mairin menghembuskan nafas lega ketika Ia berhasil berada di dalam kamar dan menutup pintu kamarnya lagi dengan cepat tanpa menimbulkan suara. Buru-buru Ia meletakan tas ranselnya di atas meja belajarnya. Mairin segera mengganti bajunya dengan baju tidur. Tak usah mandi tak apalah. Lebih baik tidur dalam keadaan gerah dan berminyak dibandingkan harus berpapasan dengan ayahnya dan Ia akan diinterogasi lagi seperti hari kemarin. Mairin tidak ingin ribut di tengah malam seperti ini.
Mairin meregangkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya begitu lelah dan terasa pegal. Di kasur tipisnya Ia membuka lagi buku yang Ia pinjam dari perpustakaan kampus tadi siang. Sebenarnya itu buku yang pernah Ia baca, beberapa kali malah. Bukan karena Ia sangat menyukai buku itu, tapi karena tingkah cerobohnya tadi siang yang akhirnya Ia salah mengambil buku. Ini semua karena Dennis, seorang mahasiswa jurusan Biologi yang juga menjaga perpustakaan di waktu senggangnya saat tidak ada jam kuliah. Itu semua Ia lakukan agar punya uang tambahan untuk menambah uang kuliahnya. Dennis adalah mahasiswa yang pintar dan gigih, sejauh yang Mairin tahu dan itu juga yang membuat Mairin secara diam-diam menyukainya.
"Maii ..., Udah pulang yaaa??" Itu suara ayah Mairin. Mairin diam saja, sengaja tidak menjawab karena Ia malas. Mairin langsung berpura-pura tidur.
"Maiiii, hooooiii...." Tak peduli siang atau malam, ayah Mairin memang suka sekali berteriak. Mairin tetap diam. Menyahut malah akan membuat buruk keadaan.
Sejurus kemudian, suasana kembali lengang. Mairin mengangkat kepala dari bantal. Menengok ke arah pintu yang masih tertutup. Ia pun bangun dan berjinjit pelan sekali ke arah pintu untuk mengecek apakah ayahnya masih berdiri di sana atau tidak. Mairin menempelkan telinganya ke daun pintu. Sepi. Mairin tersenyum dan kembali berjinjit ke arah tempat tidurnya. Ia kembali berbaring dan dalam waktu yang sebentar saja, Mairin sudah jatuh tertidur lelap.
* * * * * * *
"Pulang jam berapa semalem?" Tanya Ayah Mairin dengan ketus. Mairin mengurungkan niatnya mengambil lemper yang ada di atas meja makan.
"Jam sebelas 'Yah."
"Abis ngapain sampe pulang semalem itu? Nge lonte kamu, hah?" Perkataan ayah Mairin barusan begitu menusuk hati. Mairin langsung tidak berselera makan. Ia ingin buru-buru pergi.
"Kalo orang tua nanya itu ya dijawab!" Cetus ayahnya sengit, merasa kesal karna Mairin diam saja.
"Ayah asal ngomong, makanya Mairin ga jawab!" Mairin tak kalah sengit. Ia bergegas keluar rumah. Langkahnya terhenti ketika ada seseorang di depan pintu. Mairin langsung membuang muka.
"Eh Mai, ada Bapak?" Tanya orang itu ramah namun di mata Mairin terlihat menyebalkan.
"A..yaahh..." Panggil Mairin dengan malas. Terdengar suara ayahnya menggerutu dari dalam.
"Apa? Duit jajan kan? Dasar ..." Kalimat ayah Mairin terkunci demi melihat seseorang yang sedang berdiri tersenyum di ambang pintu.
"Ehh Pak Latief, masuk Pak." Ayah Mairin berubah ramah terhadap orang yang ia sebut Pak Latief.
"Gimana? Katanya mau bayar hari ini?" Pak Latief masih menjaga senyumnya yang terlihat menyeramkan sebab Mairin masih berdiri di depannya.
"Ahh ..ya, ayo pak kita bicarain ini sambil duduk. Maii ... Bikinin kopi..."
Ayah Mairin berusaha ramah.
Mairin tidak menoleh. Ketika Pak Latief masuk untuk duduk di ruang tamu, Mairin buru-buru melangkah keluar. Ayah Mairin jadi emosi.
"Heeii ... Mairin ... Kurang ajar kamu ya!!! Orang tua lagi ngomong maen jalan ajaa!!!" Ayah Mairin muntab.
"Sudah, saya juga tidak lama. Saya cuma mau nanyain uang saya. Gimana? Sudah ada?" Pak Latief menyeringai lebar sambil menengadahkan tangannya kepada ayah Mairin.
"Aduhh, maaf banget ni Pak. Saya belum punya duit buat ngelunasinnya."
Dengan sungkan ayah Mairin menjawab. Wajahnya menunduk, tak berani melihat wajah Pak Latief.
Dikiranya Pak Latief akan marah. Namun yang terjadi diluar dugaan. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang berantakan. Ayah Mairin mendongak demi melihat Pak Latief yang tertawa bukannya marah.
"Sudah, begini saja. Hutangmu ku anggap lunas, kalau ..." Pak Latief menggantungkan kalimatnya.
"Kalau apa pak?" Ayah Mairin makin penasaran.
" Mairin menikah denganku." Ucap Pak Latief pelan diselingi tawa kecil. Wajahnya yang seram terlihat sangat gembira. Seolah keputusannya ini adalah hal yang paling tepat.
Tadinya ayah Mairin bingung, tapi lama kelamaan Ia berfikir bahwa itu adalah syarat yang sangat brilian.
"Bapak serius?" Ayah Mairin memastikan.
"Ya iya lah. Tapi sebelumnya kita harus bikin surat perjanjian." Ucap Pak Latief serius. Ayah Mairin mengangguk mantap. Ia berfikir, kenapa tidak dari dulu saja Pak Latief memberikan syarat mudah seperti ini. Jadi Ia tak perlu menjadi tukang cuci motor di pinggir jalan demi membayar hutang.
Mereka berdua segera mengurus keperluan untuk membuat surat perjanjian.
Mairin masih semangat berjalan menuju kampus. Perutnya agak keroncongan karena Ia belum makan sejak semalam. Tapi tak apa, yang penting Mairin sudah lolos dari bahaya yang menjengkelkan. Tanpa Ia tahu, bahaya yang jauh lebih besar sedang menantinya.
*******†**
VOCÊ ESTÁ LENDO
My Cute Debt Collector
RomanceMairin, seorang gadis muda, pintar dan ceria. Ia mempunyai ayah yang suka sekali berjudi dan berhutang. Tak tahan dengan tabiat buruk ayahnya, maka, ibunya pun pergi meninggalkan Mairin dan ayahnya. Setelah sang ayah meninggal, Mairin yang cantik ha...
