"Itu salah jisung!! Ga seharusnya kamu punya perasaan itu ke kakak! Aku ini kembaran kamu!!"
"Aku ga peduli!! Yang penting aku cinta dan aku sayang sama kakak!!"
"Kenapa sih kak... aku cuman pengen bahagia...hiks..aku cinta sama kakak..."
Oh Tidak...Jisung menangis. Satu" nya kelemahan Jaera di dunia ini adalah melihat adik kembarnya itu menangis. Apa lagi tangisan itu karenanya, hati Jaera terasa hancur melihat tangisan sendu adiknya saat ini.
Jaera tidak tau harus bagaimana lagi. Jisung yang notabene nya adalah adik kembarnya sendiri menyukai bahkan mencintai dirinya bukan sebagai seorang adik. Melainkan sebagai seorang pria.
Itu salah!!!
Jaera sangat menentang hal itu. Karena tidak sepatutnya Jisung memiliki persaan seperti itu terhadapnya.
Tapi Jisung itu memiliki sikap keras kepala seperti dirinya. Jadi akan sangat sulit untuk membuat perasaan itu hilang darinya.
Jaera berjalan mendekati adiknya yang saat ini menangis sesegukan.menangkup wajah Jisung dengan kedua telapak tangannya meski Jaera harus sedikit berjinjit karena walaupun lebih muda 2 menit dari kakaknya tubuh Jisung beberapa centi lebih tinggi darinya.
Sambil menghapus air mata adiknya dengan ibu jari, Jaera menggeleng sambil bergumam.
"Jangan nangis...kakak ga suka. Maaf in kakak udah ngebentak kamu ya..."
Jaera menarik jisung kepelukannya. Masih sambil sesegukan dan berusaha berhenti menangis Jisung membalas pelukan sang kakak dengan melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Jaera dan membenamkan wajahnya yang berantakan karena air mata ke perpotongan leher sang kakak.
Setelah 5 menit dalam posisi demikian, Jaera perlahan melepas pelukannya dan mengajak Jisung duduk di tepi ranjangnya.
Ya,saat ini mereka berada di kamar Jaera karena tiba" tadi Jisung datang sambil membuka pintu kamar kasar dan memarahi kakaknya prihal Jaera yang terlalu akrab dengan teman laki" nya di sekolah tadi.
Jisung merasa cemburu.
Karen itu lah Jisung langsung memberitahu Jaera tentang persaannya.
Jaera menatap dalam pria yang hidungnya memerah akibat menangis di hadapannya saat ini.
"Jisung mandi ya, kakak masak makan malam dulu."
Sang adik mengangguk patuh dan perlahan berjalan ke pintu. Tapi saat hendak memegang knop pintu, Jisung berbalik menatap kakaknya.
"Kak..."
"Ya?"
"Kakak ga marah lagi sama aku kan?"
Jaera tersenyum tulus."ga kok"
Pria bersurai hitam itu pun tersenyum dan menghilang di balik pintu kamar Jaera yang tertutup.
Setelah Jisung pergi, Jaera menghela napas panjang dan berdoa dalam hati.
"Tuhan...tolong buat adikku menyadari...bahwa...persaannya ini salah..."
Si kembar yang berjenis kelamin berbeda itu melaksanakan makan malam dalam diam. Hanya terdengar suara dentingan sendok maupun sumpit di meja makan.
Orang tua mereka sedang melakukan perjalan bisnis ke Jepang dan akan pulang 2 hari lagi.
Selesai menghabiskan makanannya Jisung membantu Jaera menaruh piring di wastafel.
"Biar Jisung yang cuci, tadi kan kakak udah masak."
"Ga papa sung, biar kakak aja. Jisung istirahat aja ya."
"Ga. Jisung aja. Nanti kakak capek. Kakak istirahat aja. Ga ada penolakan."
Jaera tidak bisa membantah lagi ketika Jisung sudah berkata demikian.
Keduanya kini fokus menonton tv dengan Jisung yang menaruh kepalanya di pangkuan Jaera.
Setelah acara tv yang mereka tonton berakhir, mereka memutuskan untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul 22.15 WKS dan besok mereka harus sekolah.
Setelah saling mengucapkan kata "selamat malam" keduanya masuk ke kamar masing.
Hampir tengah malam, hujan mengguyur bumi dengan derasnya dan diiringi sambaran petir serta suara gemuruh yang menggelegar.
Jisung meringkuk di dalam selimutnya dengan gemetar ketakutan. Ya...Jisung takut hujan deras dan petir.
Biasanya dia akan berlari ke kamar sang kakak dan tidur bersama. Tapi Jisung ragu Jaera mau menerimanya tidur bersama setelah mengetahui perasaan Jisung yang sebenarnya kepadanya.
Jadi yang bisa dilakukannya saat ini hanya meringkuk membungkus diri di dalam selimut sambil memanggil kakaknya dengan suara lirih hampir tidak terdengar.
TUARR!!!
"AAAGGGHHHKKK!!! KAKAK!!!"
"JISUNG!!!"
"sshh..kak...aku takut..."
"Kamu ga perlu takut. Kakak di sini hm? Lagian kenapa ga ke kamar kakak langsung sih kek biasa?"
"A...aku takut kakak ga mau tidur sama aku lagi..."
Jaera mengerti maksud adiknya.
Tapi Jaera tidak mungkin melakukan itu. Dia sangat menyanyangi Jisung. Karena mereka berdua seperti...
"Satu jiwa yang memiliki dua raga"
Begitu kata Jisung.
Tapi memang benar. Jaera sangat menyanyangi Jisung sebagai adik kembarnya. Namun, Jisung menyanyangi Jaera sebagai kakaknya sekaligus seperti wanitanya.
"Ga mungkin kakak ngelakuin itu. Kamu itu adik kakak, dan kakak sayang banget sama kamu. Kakak ga mungkin ngebiarin kamu ketakutan sendiri di sini. Lain kali langsung ke kamar kakak ya, seperti biasa.hm?"
"Iya kak. Aku juga sayang banget sama kakak.."
"Sebagai kakak sekaligus milik ku kak..."
Jaera tersenyum. Dia tidak bodoh. Dia mengerti maksud perkataan adiknya itu.
"Ayo tidur lagi. Bisa-bisa besok kita bangun kesiangan gegara ngobrol terus."
"Emm"
Keduanya pun mulai memasuki alam mimpi masing".
Jaera tersentak ketika sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Detik berikut nya dia menghela napas setelah tau pelakunya adalah Jisung.
"Pagi kak"
Cupp
"Mulai sekarang aku mau morning kiss nya di bibir, ga mau di pipi lagi."
Jaera berbalik dan ingin protes. Namun tidak jadi karena melihat wajah Jisung yang kelihatan pucat.
"Kamu sakit?"
"Ngga"
"Muka kamu kok pucat gitu?"
"Ga papa kok kak. Nanti habis sarapan baikan lagi kok.ya udah, kita makan?"
Jaera mengangguk.
YOU ARE READING
INCEST (Park Jisung) END✔
Romancei love my twins...that's is wrong??? if it can't...why god make me feel it??? i just want happy
