Kelas XI, di senin itu.

14 2 0
                                        

Pagi itu, adalah senin yang benar benar cerah. Hari pertama datang ke sekolah di tahun ke dua di bangku sekolah putih abu abu.

Namaku Karsa Langit Atmajaya, biasanya teman temanku memanggilku "Karsa" Ternyata kelasku dipecah kembali, ya tapi tetap saja, sebagian teman teman kelas lama ku, tetap bersamaku.

Aku menuju ke kantin sembari menunggu temanku untuk pergi bersama ke kelas baru.

"Woy sa! Gila ga nyangka sekelas lagi kita"

Tiba tiba suara itu seperti pengeras suara terdengar dari telinga kiriku, ternyata itu adalah suara Saka.

Saka ini adalah sahabatku sejak kelas 10, dia sebenarnya pendiam, malu, dan sedikit sulit berbicara di depan banyak orang. Hanya didepanku saja ia terlihat gila.

Kemudian kami berdua pergi ke kelas baru sekaligus menyimpan tas.

"Sa, tau ga?" Ucap Saka

"Gatau" ku jawab sembari membuka jaket

"Yeh denger dulu Karsa!" dia membalas dengan menaikkan sedikit nada bicaranya

"Iya iya apaan dah" ucapku

"Kan gua liat tuh daftar nama temen temen kita yang di kelas baru ini.." Saka memulai

"Teruss?" tanyaku

"Ternyata kita sekelas woy sama Bumi!" ucapnya dengan excited

"Bumi? Ya emang kita tinggal di bumi sak sak" ucapku bercanda dengan sedikit penasaran

"Wah gila unsos lu sa, gua aja yang pendiem gini mah tau kali yang bening kek apa" ucapnya dia merendahkanku

"Emang, Bumi siapa?" tanyaku polos

"Ah karsa! Yaudah deh gua jelasin, dia itu perempuan yang sempurna dah di mata cowo" ucapnya seolah membanggakan Bumi

"Sempurna? Emang dia kaya gimana?" tanyaku penasaran

"Nih ya sa, dia tuh udah cantik, pinter, jago gambar, suaranya bening. Sumpah sa, cocok tenan lah karo kowe" ucapnya sambil mengeluarkan kata kata emasnya.

"Mana ada cewe kaya gitu, ojo ngawur kamu" ucapku menyepelekan

"Yehh dasar spanduk pecel lele! Mangkanya jangan belajar terus, sekali kali liat lah sekitar. Ah ribet ngomong sama lu, nanti juga lu bakal penasaran sama Bumi" Ucap Saka

Tak lama setelah kami berbincang, bel masuk berbunyi dan kami para murid harus melaksanakan upacara pagi di lapangan.

Yogyakarta pagi menjelang siang itu seperti di sorot oleh sinar matahari, terasa panas sekali. Selepas upacara, para siswa pun masuk ke kelas masing masing dan memulai pelajaran.

"Ntar lu liat aja Bumi kek gimana" ucap Saka

"Iyaa iya dah ah" ucapku merasa kesal Saka selalu membicarakan Bumi.

Kemudian pelajaranpun dimulai, dan karena kami ini belum mengenal semua murid satu sama lain, maka seperti murid baru lagi, kami memperkenalkan diri masing masing di depan wali kelas kami.

Setelah diriku memperkenalkan diri, aku bermain hp dan fokus membuka instagram sampai tiba tiba

"Ya, sekarang bagian kamu cah Ayu" ucap Bu Tien wali kelasku

"Nggih bu" dan terdengar suara lembut dari depan kananku

"Selamat siang temen temen, nama saya Shani Bumi Nara Utami, kalian bisa panggil aku Shani atau Bumi" ucapnya dengan lembut

Reflekku langsung menyimpan HP dan mengalihkan pandanganku kepada dia, karena aku sangat penasaran bagaimana perempuan yang dikagumi hampir satu angkatan itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku langsung penasaran terhadap satu orang perempuan yang bahkan sebelumnya tidak ku kenal sama sekali.

"Gimana? Cantik kan? Bener kan?" Ucap Saka sambil menyenggol ku

"Ya cantik luarnya kan belum tentu cantik dalemnya sak" ucapku

"Ah karsa! Yaudah deh gua yakin ntar juga lu bakal tertarik" ucapnya seolah meyakinkan

Setelah semua murid di kelas melakukan perkenalan, Bu Tien memberi tahu bahwa di hari pertama ini tidak ada pelajaran dan hanya sekolah setengah hari. Kami para murid sangat senang mendengar kabar itu, begitupun dia.

Setelah Bu Tien keluar kelas, aku masih terpaku memperhatikan Bumi. Dan tiba tiba

"Liatin teros sampe mampos" saka menyeletuk di sebelahku

"Apaan sih sak" ucapku

"Udah sana coba ajak ngobrol" balasnya

Akupun merasa hal itu perlu di coba, agar lebih tau bagaimana sifat asli sang perempuan yang selalu dikagumi itu. Akupun berjalan menuju mejanya, dia duduk sebangku dengan Dinda, aku mengenal Dinda, karena kami pernah lomba bersama di provinsi.

Ketika itu, Bumi dan Dinda sedang asik mengobrol, lalu aku datang dan hanya berdiri diam di samping Bumi.

"Eh, Hai Karsa!" Ucap Dinda yang menyadari kehadiranku

"Eh emm Dinda, apa kabar?" ucapku basa basi

"Yaa kaya yang kamu liat, sehat kok" balasnya

"Alhamdulillah" ucapku seperti kehabisan topik untuk mengobrol

"Ohhiya sa, kenalin! Ini Bumi!" ucap Dinda mengenalkanku pada Bumi

Kami berdua langsung saling mengulurkan tangan dan saling berjabat tangan

"Shani"

"Karsa"

Kami hanya terus berjabat tangan sampai...

"Udah kali kenalannya" ucap Dinda

"Eh sorry" kataku sambil melepaskan tangan Bumi

"Iya gapapa sa" ucapnya lembut

Jantungku berdetak cukup cepat karena aku belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya

"Btw, ko namanya ada Buminya?" ucapku mencari topik

"Kalo kata cowo cowo sih, dia ini udah sempurna tapi tetap membumi! Ya ga shan?" ucap dinda sambil tertawa

"Ih apaansi din, ga gitu" ucapnya sambil sedikit mendorong Dinda

"Terus kenapa dong?" ucapku masih penasaran

"Kata mamahku sih waktu itu aku lahir setelah gempa bumi persis" ucap Shani menjelaskan

"Ga pusing tuh goyang goyang di perut?" ucapku bercanda

"Kayanya sih abis itu langsung minum pa***ex, ahahaha" balas Shani bercanda juga

Kami bertiga pun tertawa setelahnya.

"Karsa Langit Atmajaya, namanya keren loh sa" ucap Shani

"Hehe makasih shan" ucapku

"Aku banyak mendengar tentang kamu, kamu yang pintar, jago main piano, sering travelling, dan suaranya Bagus" ucap shani seolah tahu semua tentangku

"Ko tau?" ucapku

"Semua perempuan di angkatan ini tau tentangmu sa, kan kamu eksis di sosmed" ucap Shani menyindirku

"Hehe iyanih" ucapku tersipu malu

Akhirnya kami berdua melanjutkan perbincangan sambil menikmati gudeg di kantin atas. Mulai saat itu, aku semakin penasaran dengan dia.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 24, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Tentang Senja Yang Mungkin HilangStories to obsess over. Discover now