Prolog

42 2 0
                                        

Pagi yang demikian temaram dengan matahari sembunyi dibalik awan, terdiam memandang langit, terdengar kicau burung saling bersautan menandakan telah datang hari. Angin berhembus semilir melambaikan dedaunan berjatuhan di tanah, terlihat matahari tersenyum memandangi langit, terdiam tertengun sesaat awan hitam mulai perlahan mendekat, akan berubahkah cuaca hari ini.... 

Dengan wajah sedih menatap awan hitam, matahari bersembunyi dibalik awan putih. Mulai terdengar sayup sayup geludug menggelegar di angkasa. Cuaca mulai syahdu, berterbangan burung-burung memasuki sarangnya. 

Dunia terasa demikian gelap, jalanan mulai sepi. Terlihat katak keluar dari persembunyiannya, pertanda hari akan turun hujan. Awan sedikit demi sedikit mengeluarkan tetesan air ke tanah, semakin lama semakin banyak hingga membasahi tanah. 

Awan hitam seolah memuntahkan peluru air hujan ke tanah hingga tampak menggenang menutupi lubang aspal jalan raya, sehingga kendaraan yang lalu lalang banyak terjerembab di kubangan tersebut. 

Matahari yang bersembunyi dibalik awan putih menatap sedih melihat hal itu, meminta awan hitam segera berlalu. Namun awan hitam itu tidak beranjak dari tempatnya,  semakin memuntahkan butiran2 air ke tanah tanpa memperdulikan tatapan matahari kepadanya. Seolah-olah tak pedulikan tatapan matahari, awan hitam itu semakin keras memuntahkan isi dalam kantungnya hingga tiada tersisa lagi.

Sang katak berlarian ke sana kemari menampakkan kegirangannnya akan turun air hujan, tetapi sesaat tertegun saat air mengalir semakin derasnya menghampirinya. Itu pertanda akan datang banjir mengacaukan suasana hari itu. 

Air yang mengalir deras disertai sampah semakin banyak meluluh-lantakkan apa yang ada di depannya, tanpa pedulkan sekitarnya menabrak dan menyambar semua membuat pohon dan ranting yang berjatuhan jadi ikut terbawa mengotori jalanan, bahkan selokan penuh dengan air hingga meluap menutupi jalan membuat kendaraan yang berlalu-lalang terhenti.

Tampak manusia saling berlarian menyelamatkan diri dari amukan air yang mulai menutupi ruas-ruas jalan, ada yang berteduh di bawah pohon rindang dan emperan toko bahkan masuk ke dalam rumah.

Namun mereka pun berlarian lagi begitu pohon tempat mereka berteduh tumbang kena hempasan petir yang menyambar tanpa ampun tanpa mempedulikan adanya manusia bahkan makhluk hidup lainnya di bawah pohon tersebut.

Begitulah kehidupan yang ada di dunia ini, apabila terkena suatu masalah mereka cenderung menghindar bahkan seolah-olah tidak tahu menahu dengan menutup mata dan telinga, namun begitu keliatan mendengar sesuatu yang lain mereka dengan santainya berkomentar tanpa mengetahui lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi. 

Cerita AlamStories to obsess over. Discover now