Untuk Tuan

9 0 0
                                        

(Yang tunas, seketika pupus)
Tuan, setinggi gemintang harap ku
(Yang merekah, seketika layu)
Sedari awal, memang Tuan tidak pernah salah.
Tuan tidak membuatnya ada, atau menyuruhku ngada-ada
'Dia' muncul sendirinya, di balik pintu, belakang abdomen, solar plexus
(Yang membara, seketika menciut)
Tuan tidak pernah mengerti, karena aku tak meloloskan kata,
Karena ku tahu, Tuan tak mau untukku yang nanti-nanti
(Yang Ada, ingin meniadakan)
Tuan tidak mau sendiri diantara banyaknya sejoli
(Yang datang, maunya pergi)
Tuan, sebanyak buih di lautan ku coba menerima,
Nyatanya satu tidak pernah menjadi dua
Matahari tetaplah bintang
Batu tetaplah batu
Wahai Tuan, aku tidak menampik yang hadir, ' dia ' tidak ku usir
(Seketika bungkam)
' dia' masih mendekam di solar plexus
Aku mahluk ber-Tuhan
Tuan, aku mengandalkan garis tangan dan memercayai ' sebab-akibat '
Seketika aku menggantungkan inginku padanya, pasti tak sama dengan sekedar menggantungkan harap ku padamu.


JaghanaWhere stories live. Discover now