Perpustakaan sore ini sepi. Hanya ada beberapa penjaga di bagian akses buku dan segelintir orang yang benar-benar mencari buku. Tadinya kupikir tempat ini akan ramai, karena di lobi sesak, penuh dengan mahasiswa yang berteduh.
Tujuanku bukan sepenuhnya untuk membaca buku. Walaupun penampilanku sangat meyakinkan dengan laptop yang menyala di depanku, beberapa buku tergeletak disampingnya, ditambah raut wajah layaknya seseorang yang penuh beban, penampilanku sudah mendukung untuk dikatakan mahasiswa rajin yang sedang mengerjakan tugas. Masa bodoh. Aku hanya butuh ketenangan untuk menyembuhkan suasana hatiku yang buruk.
Tiba-tiba aku merasa lelah. Kuhentikan kegiatan mengetik. Kuedarkan pandanganku kesekelilingku. Aku masih bisa melihat lobi perpustakaan dari dalam. Hujan masih deras dan mahasiswa yang berteduh masih menetap.
Baru saja bola mataku hendak beralih, kemudian pandanganku terhenti. Di sana, seseorang baru saja bergabung di lobi untuk berteduh. Begitu tiba, ia mengacak-acak rambutnya agar segera kering, sambil berbicara kepada temannya yang juga kehujanan.
Sadar bukan sesuatu yang asing, pandanganku tak segera beralih. Tubuhku diam, tapi pikiranku bergemuruh. Tidak tahu harus bereaksi apa.
Aku tidak asing dengan ekspresi wajahnya saat ini. Dia sedang berpikir, mungkin tentang skripsi. Aku tidak tahu. Aku juga tidak asing dengan model rambutnya, model rambut ala Adipati Dolken. Dari dulu dia memilih aktor itu sebagi role model dalam hal penampilan. Itu juga berkatku yang sering stalking tentang aktor favoritku itu, dia pun ikut-ikutan stalking. Katanya dia suka gayanya. Aku juga tidak asing dengan model pakaiannya. Kesukaannya dengan kaos hitam polos dan celana longgar. Juga tas yang ia pakai, jam tangannya, sepatunya, bahkan sampai cara bicaranya. Gaya bicaranya tenang, seakan ia sudah membagi tenaganya dengan sistematis dan tak mau menghambur-hamburkannya begitu saja.
Perasaan sialan. Sosoknya mengabur dalam pandanganku, bersamaan dengan hadirnya buliran-buliran air yang perlahan menetes dari mataku. Kubuang pandanganku ke bawah. Kuseka air mata itu dengan kasar. Bukannya berhenti. Mataku justru semakin panas. Pikiranku kacau, perasaanku berantakan.
Sudah sejauh ini, kenapa perasaan itu masih sama? Sekarang, kalian boleh bertanya, kenapa aku bukannya pergi padanya dan menyapa, malah memilih untuk diam sambil berusaha mengunci air mata?
Jawabannya kuawali dengan sebuah sapa yang tak terucap, "Nan, kamu apa kabar? Aku kangen"
KAMU SEDANG MEMBACA
Say Something
RomansaSepertinya semesta memiliki konspirasi untuk menyatukan dua manusia yang merasa memiliki ikatan satu sama lain. Mereka dipertemukan di masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Walau sempat berpisah, semesta dengan senang hati mempertemukan keduanya...
