Hari ini adalah Sabtu kedua di bulan Desember dimana Mew mendapatkan perlakuan dingin dari partner kerjanya, Gulf. Jangan berpikir Mew tidak menyadari perbedaan tingkah Gulf yang begitu kentara atau berpikir bahwa Mew tidak melakukan usaha apapun untuk membuat hubungan mereka jelas dan kembali baik-baik seperti sebelumnya. Mulai dari menggoda Gulf di lokasi syuting, meminta waktu Gulf untuk sekedar bertanya keadaannya hari ini, hingga Line dari Mew yang diabaikan, semua terasa belum cukup.
Merasa frustasi dengan semua pendekatan yang ia lakukan untuk tahu hal apa yang mengganggu pikiran Gulf akhir-akhir ini, membuatnya menyerah dan membiarkan hubungan mereka bergantung seiring dengan bergantinya hari. Dingin dan semakin dingin hingga mustahil untuk tidak diketahui oleh semua staff.
Boss, manager Mew menepuk pundaknya dari belakang dengan pelan membuatnya menengok sambil memandang dengan tatapan "aku sudah tahu apa yang ingin kau tanyakan". Mew kembali mengalihkan pandangannya pada buku yang tengah ia baca diikuti dengan tarikan napas yang dalam.
"P'.... apa tidak sebaiknya kau coba lagi untuk bicara dengan Gulf?" tanyanya sambil menatap ragu Mew
"Kau berkata seolah aku baru melakukannya satu kali." jawab Mew tanpa menoleh pada orang yang duduk di sampingnya
"Bukan begitu. Aku tahu kau sudah mencobanya berulang kali bahkan diluar jadwal kerja bersama tetapi ini sudah dua minggu berjalan dan hubungan kalian masih tidak menunjukkan bahwa akan membaik dalam waktu dekat. Apakah harus berjalan hingga minggu ketiga?"
Mendengar pernyataan managernya, Mew memalingkan wajahnya tepat sejajar dengan wajah Boss dan menatap dengan pandangan menghardik. Wajah Boss langsung berubah kaku mendapat tatapan ingin membunuh dari Mew. Boss mencoba tersenyum kaku sambil mengusap punggung kanan Mew yang kini sudah kembali menatap buku di tangannya. Akhirnya ia bisa bernapas lebih nyaman.
Hari telah menggelap dan matahari meredup sempurna, hanya sinar lampu satu satunya sebagai penerang saat Mew berjalan mendekati Gulf yang bersender pada pilar gedung produksi di dekat parkiran.
"Menunggu jemputan?" tanya Mew sambil menatap Gulf yang mencoba menutupi muka tegangnya saat Mew berdiri di sampingnya, tiba-tiba. Setelah dirasa aman, Gulf tersenyum singkat namun dingin.
"Seperti biasanya."
Mew masih menatapnya dalam, berbagai pertanyaan, rasa kesal dan amarah berkumpul dalam diri Mew saat ini. Ingin rasanya ia membentak Gulf karena rasa frustasi yang ia rasakan, namun ia urungkan. Ditariknya napas panjang sebelum akhirnya ia kembali membuka mulut.
"Aku minta maaf."
".............................."
"Aku minta maaf."
Gulf menoleh ke arah sumber suara. Hatinya terusik saat mendengar dua kali ucapan maaf dari partner kerjanya, dan hatinya makin tak berarah ketika matanya bertemu dengan mata lelaki di sampingnya yang menatap dengan pandangan yang selama ini tak pernah ia saksikan.
"Aku tidak akan bicara banyak. Jika kau merasa aku melakukan kesalahan, aku minta maaf. Aku harap kita bisa kembali bersikap professional untuk schedule kita yang lainnya karena aku tidak ingin membuat para staff tidak nyaman."
"......................................."
"Dan jika kau sudah siap menceritakannya, kau bisa menghubungiku." Itu kalimat terakhir Mew sebelumnya ia memutuskan untuk berjalan meninggalkan Gulf yang masih menatap langkahnya dengan wajah yang memerah.
YOU ARE READING
Your Future Needs You
Fanfictionsebuah fiksi yang dibuat untuk memuaskan delulu seorang fans..... atau bahkan ribuan?
