Kisaran, Medan 20-2-2020
" Bagi kalian orang yang gampang parno, mungkin kalian tidak mau membaca ini,
" Dimalam hari, aku bersiap untuk tidur, sudah siap dengan selimut hangat dan guling disampingku. Sekarang masih pukul 22:00, ketika aku mendengar suara di dapur, aku tetap santai, karena menurutku itu adalah suara kucing atau tikus menjatuhkan barang, namun pernah sedikit terlintas dipikiranku, bahwa mungkin saja suara itu adalah sesosok hantu yang ingin mengganggu tidur malam ku. Karena penasaran, segera kuangkat badan ku dari ranjang, melangkah sedikit gemetar menuju dapur, ku hidupkan lampu dari saklar, dan kubuka sedikit tirai untuk mengintip, begitu kulihat, aku terkejut bukan main, tepat didepanku sesosok wanita bergaun putih, berambut putih panjang, bermuka hancur penuh luka, menyeringai berada tepat beberapa senti dari wajahku. "
Itulah postingan dari facebook yang kubaca sore tadi, benar - benar mengganggu pikiranku. Sejak magrib tadi terus kepikiran, aku takut hal itu akan terjadi padaku malam ini. Berjalan ke dapur sendirian kini seperti uji nyali, tengok sana tengok sini, menggerakan mata serta kepalaku kesana kemari, berusaha mencari apakah ada sesuatu yang mengintaiku, namun aku tak berharap bertemu dengan sesuatu itu.
Oh iya.. perkenalkan, namaku Riana Dawanti, panggil saja aku Riana, sekarang aku duduk di bangku kelas 11 di salah satu SMA di kota Kisaran, Medan. Aku tinggal bersama orang tuaku dirumah klasik penuh asesoris peninggalan tempo dulu dari kakekku. Ya , sedikit horor, namun menurutku tidak, rumah ini benar - benar sangat horor. Belum lama kami tinggal disini, kurang dari 3 bulan yang lalu kami pindah kesini dari Jakarta. Aku punya adik bernama Aqila Dawanti yang masih balita, dan aku tidur sekamar berdua denganya.
Ini adalah kisahku tentang aku dan dapurku...
Kisah ini bermula saat sore tadi aku membaca sebuah postingan di facebook, postingan yang masih terngiang sampai sekarang, ya.. sekarang pukul 20:20 dan sebentar lagi waktunya aku tidur.
Pukul 21:00 aku pun sudah mulai tidur, suasana hening kini menyelimuti, adik, ayah, dan ibuku, mereka juga sudah tertidur.
Tinggal aku sendiri, menatap langit - langit kamar ku dengan pikiran tak kosong, berharap tak mendengar suara - suara aneh dari dapur.
Dalam benak ku berkata " Aku harus apa? "
Setiap kali kucoba untuk menutup mata dan tidur, seakan aku tak akan pernah bisa tidur malam ini.
Sudah ber jam - jam aku tak bisa tidur, terjebak dalam kegelisahan akibat postingan dari facebook ya kubaca tadi.
Sekarang pukul 11:30 malam, saat aku hampir saja tertidur, sebuah suara keras terdengar dari dapur, itu jelas suara cangkir di dapur, memang sedikit aneh, karena cangkir didapur letak nya cukup tak mungkin untuk terjatuh, bahkan jika disentuh tikus sekalipun.
Seketika aku terkejut dan terbangun, mataku melotot dan badanku seakan mati rasa, ditambah lagi denyut jantung yang keras terasa sampai disekitar bawah telinga membuatku penasaran namun takut untuk kedapur.
Kemudian suasana menjadi hening lagi, aku mencoba untuk menenangkan diri dengan menarik nafasku. Setelah beberapa saat, terdengar lagi suara dari dapur, kini yang jatuh adalah sebuah sendok, hal yang lebih aneh, karena letak sendok itu dicampur, jadi jika jatuh pun akan jatuh semua. Kemudian suara kedua itulah yang membuatku sangat penasaran, dalam hatiku berkata " Mungkin benar, itu hanya seekor tikus, mengapa aku tak pergi untuk mengeceknya ".
Akhirnya aku menuruti kata hatiku dan apa yang ada dipostingan, aku mengangkat badanku dan mulai keluar dari kamarku berjalan dengan sangat hati - hati dengan mata yang tak henti - henti nya waspada dengan dapur rumahku.
Tak terasa kini aku sudah berada tepat di depan pintu dapur ku, dan ketika melihat saklar lampu pun dada ku tak henti - henti berdetak keras.
Kuraih saklar, menekan nya dari bawah dan lampu dapur pun menyala.
Saat lampu dapur menyala, tak ada hal aneh kulihat samar - samar dari balik tirai, kemudian tak berlama - lama lagi akupun mulai membuka tirai perlahan dan mulai melangkahkan kakiku di lantai dapur. Suasana menjadi hangat kini, kulihat sana dan sini tak ada yang namanya hantu, membuatku tenang.
Kemudian aku lihat cangkir dan sendok yang berada di lantai, seketika badanku tertarik untuk mengembalikanya ke tempat semula. Saat kuraih cangkir dilantai dengan tangan kananku dalam keadaan membungkuk, tiba - tiba sebuah angin bertiup jelas di telingaku. Aneh..? iya, karena padahal malam ini cuaca sangat terang, dan tak ada angin yang bertiup. Membuatku merinding, membuat bulu kuduk ku berdiri dan tulangku terasa dingin.
Beberapa detik kemudian akupun mulai berdiri, menaruh cangkir di tempat nya dan lirik kan ku jelas sekali berkata bahwa ada seseorang tepat di sampingku.
" Riiiaannnaaaa "
Oh tidak, dia berbisik kepadaku, lirik kan ku tak bohong, ada sesosok tepat disampingku.
" Riiiaannnaaaa "
Astaga, suaranya makin dekat, dengkul ku rasanya mau copot, tak bisa digerak kan.
" Riiiaannnaaaa "
Langsung kutoleh kearahnya saat bisikan ketiga terdengar, dan memang benar, yang berdiri tepat disampingku dari tadi adalah sesosok hantu wanita, sangat
jelas wajahnya yang hancur berdarah - darah, rambut hitam panjang, mata putih melotot, dan bergaun putih yang kumuh.
Kemudian aku tersungkur dan berteriak keras
" Aaaaahhhhhh, mama!! papa!! "
Berkali - kali berteriak namun seperti tak ada yang memperdulikan teriakan ku di tengah malam ini.
Kakiku benar - benar mati rasa kini, sangat lemah untuk digerakan dan benar - benar tak bertenaga.
Aku hanya bisa mundur dengan berjalan ngesot di lantai.
" Jangan..!! jangan ganggu aku..!! "
" Jangaaaaannn...!! "
Aku berteriak sejadi - jadinya, bahkan membuat pita suaraku nyaris putus. Namun hantu itu terus saja melayang - layang tepat di atas ku, memandangku dengan mata putih menakutkanya.
Seketika hantu wanita itu tiba - tiba hilang dari hadapanku. Aku terkejut dan bingung.
Aku benar - benar mandi keringat malam ini, masih panik, dan tingkahku masih syok, serta nafasku masih menggebu - gebu tak bisa diatur, namun aku mencoba tetap tenang. kutarik nafas dalam - dalam, dan aku melihat kesana kemari apakah ia masih berada disini.
Setelah beberapa menit terkapar di lantai, aku pun mulai tenang dan memutuskan untuk beranjak pergi dari dapur. Saat aku mulai berdiri, tiba - tiba kakiku ditarik dengan tangan besar dan kasar yang menyeretku.
" Ahhhhh...!! tidak..!! "
" Jangaann...!! "
Dengan reflek mulutku kembali berteriak dan tangan ku tak henti - hentinya mencari - cari sesuatu yang bisa menahanku. Badanku benar - benar tak bisa di kontrol, meronta kesana kemari sedangkan hantu wanita itu menarik dengan kuatnya, menyeretku hingga kedepan pintu ruang bawah tanah. Pintu ruang bawah tanah mulai terbuka dan aku diseret jatuh sampai anak tangga ke 5 dan hantu itu pun berhenti menarik.
Teriakan ku diam seketika, dan jantungku normal seketika, aku heran, kenapa aku bisa seberani ini.
Lalu kutoleh ke bawah, kearah kakiku dan hanya terlihat ruangan gelap saja. Kurasa ia sudah berhenti menggangguku, sesaat kemudian, aku mulai menaruh tanganku di lantai tangga dan menoleh keatas untuk berdiri. Diatas, wajah seram itu tiba - tiba mengaggetkanku, wajahnya hanya berjarak 2 jari dari wajahku, akupun berteriak lagi yang lebih keras sejadi - jadi nya, sampai aku terbangun dari mimpiku malam ini.
Dalam hatiku berkata...
" Syukurlah, ini hanya mimpi "
Kemudian aku menoleh kearah jam dinding, masih jam 3 pagi. Akupun mulai membaringkan tubuhku lagi untuk lanjut tidur,
Tiba - tiba suara cangkir jatuh kemudian dilanjutkan sendok jatuh terdengar dari dapur.
note : " JANGAN PARNO YA "
DAPUR RIANA
YOU ARE READING
DAPUR RIANA
HorrorCerita Horor membuat parno, agak disturbing ketika dibaca. Penulis merinding saat mengarangnya wkwk.. Cerpen Tamat satu halaman..
