Paper Airplane
Aku ingin terbang. Aku ingin menggapai setiap binar-binar cahaya itu. Aku selalu ingin.
Ketika aku masih bocah, aku suka membuat pesawat kertas bersama sahabatku. Terutama ketika musim liburan. Kita berdua membuat banyak sekali pesawat kertas, kemudian kita terbangkan dari atas puncak bukit. Sembari menerbangkan pesawat kertas, kita juga menikmati pemandangan dari atas bukit yang sangat indah. Kegiatan itu terus berulangkali tanpa bosan.
"Hey, Terry, pernahkah kamu memikirkan kalau kita bisa terbang?" Tanyanya ketika kita sesudah menerbangkan pesawat kertas kita, kemudian berbaring di atas rumput seraya menikmati hembusan angin yang sejuk.
"Terbang? Sempat terpikirkan sih, tapi kita tidak mempunyai sayap seperti burung," jawabku.
"Hmm benar juga. Andaikan kita punya sayap. Ehh tunggu dulu, kenapa kita tidak membuat alat yang bisa membuat terbang saja? Ya seperti pesawat yang besar, namun hanya memuat dua orang saja."
"Lupakan saja, itu tidak mungkin. Kita tidak akan bisa membuat yang seperti itu. Menurutku, cukup melihat pemandangan di atas bukit seperti ini, sudah membuatku senang."
"Kalau aku bisa membuat bagaimana?"
"Ya, silahkan saja! Aku tidak mau ikutan masalah ini. Aku tidak mau terlalu lelah."
Pada saat itu, sahabatku benar-benar membuatnya dengan sepenuh hati. Terlihat dia begitu lelah dan terlalu memaksakan. Sesekali aku membantunya. Terlihat lembar kertas yang bergambar kerangka dan desain benda yang dia ingin buat. Setiap besi dan kayu dia potong dan disatukan.
Berjalan lima tahun, proyeknya masih belum juga selesai. Banyak sekali kegagalan dan percobaan yang dia lakukan, tak terhitung. Namun dia tak pernah menyerah. Percayalah, semangatnya masih sama seperti dulu. Rutinitas menerbangkan pesawat kertas bersamaku masih dilakukan. Namun, sekarang dia lebih berbeda. Badannya semakin kurus dan penuh luka. Aku sering menyuruhnya berhenti, namun dia tetap keras kepala.
Tujuh tahun berlalu, keadaannya semakin buruk. Namun proyeknya berjalan lancar. Bentuk benda yang sedang dia garap mulai nampak. Bentuknya menyerupai pesawat kertas hanya saja lebih besar dan terdapat dua tempat duduk yang saling bersebelahan. Ini berbeda dengan pesawat kecil, ukurannya jauh lebih kecil dan sederhana dengan bahan bakar kayu bakar. Sungguh tak menyangka kalau dia begitu jenius. Namun meskipun proyeknya berjalan lancar, dia melupakan kesehatannya yang paling penting. Dia dirujuk ke Rumah Sakit karena terkena kanker hati disebabkan hanya mengkonsumsi kopi, makanan ringan dan sering begadang.
Seminggu kemudian, nyawanya sudah tak tertolong. Dia meninggal dan aku belum sempat memberikan salam perpisahan. Sahabat seperti apa aku, harusnya aku membantunya saat kesusahan. Aku kemudian datang ke ruangan yang dia gunakan untuk mengerjakan proyeknya. Di meja, ada semacam lembaran kertas yang dilipat asal-asalan. Aku kemudian membuka kertas itu, sepertinya ini surat wasiat. Terlihat pula ada bercak darah di dalam surat itu. Aku semakin menyesal. Surat itu kira-kira seperti ini, ada bagian kata yang tak jelas karena bercak darah.
"Untuk Terry, sahabatku. Mungkin kamu tidak pernah menyangka kalau ini akan terjadi. Namun percayalah, tidak ada yang tak mungkin. Semua penemuan yang ada lahir dari pemikiran gila yang terlihat tidak mungkin terwujud. Asal kita ada kemauan dan tetap berpikir optimis, Tuhan akan menuntun kita. Kalau kamu sedang membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada. Namun aku ingin, persahabatan kita tidak akan terpisah. Aku minta maaf, aku sangat meminta maaf karena sifat egoisku membuat hari-hari kita menjadi kurang menarik. Sahabatku, aku ingin kamu meneruskan perjuanganku. Aku sudah menyiapkan dua tempat duduk untuk kita berdua. Bersebelahan, agar kita melihat pemandangan yang sama persis. Pemandangan dari atas sangat indah loh. Aku mohon dengan sangat. 9 Juli 1869, Dave."
Nova Saefudin.
YOU ARE READING
Paper Airplane
FantasyPersahabatan kita akan terus terbang seperti pesawat kertas yang setiap hari kita terbangkan.
