Ini adalah cerita ku. Ketika aku menciptakan sejarah dalam hidupku bersamanya, yang pernah singgah di dalam hidupku.
Bandung, Agustus 2014
"Ayah harus pergi ke Belanda, Max. Jaga Ibumu di Bandung ya. Ayah akan kabari kalian jika sudah sampai. Jika kalian mau pergi ke Belanda kabarilah Ayah ya"
"Iya Ayah"
"Kalo begitu, Ayah pamit Max, Bunda. Sampai Jumpa"
"Sampai jumpa sayang"
"Sampai jumpa Ayah"
Ayah pergi meninggalkan kita berdua untuk meneruskan bisnis kopi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Nama bisnis itu dinamakan dari nama belakang kakek buyutku, Van Hoogten. Sebenarnya aku ingin ikut Ayah ke Belanda. Tapi Ayah menyarankanku untuk tinggal saja di Bandung. Oiya, namaku Max. Max Britt Vromme. Aku adalah blasteran Belanda dan Indonesia. Ayahku berasal dari Belanda dan Bundaku berasal dari Indonesia. Ayah menemui Bunda ketika Ayah sedang ada kunjungan ke Bandung untuk membicarakan kerja sama bisnis kopi dan kedai kopi yang ada di Bandung. Mereka saling jatuh cinta dan akhirnya Ayahku menikahi Bundaku. Ayah memutuskan untuk tinggal di Bandung karena Ibu bersikeras untuk tinggal saja di Bandung. Dan pada tahun 1987 lahirlah aku di Bandung. Sejak kecil Ayah sudah mengajarkanku bahasa Belanda dan Ibu mengajarkanku bahasa Indonesia. Saat ini aku duduk di bangku SMA kelas dua, di SMA yang cukup ternama di tengah kota Bandung. SMA ini bisa dibilang SMA yang lumayan bandel. Dan aku, hanya ikut-ikutan saja tanpa masuk kedalam 'geng' yang ada waktu itu.
Pada senin pagi hari, seperti biasa aku memanaskan motor ku untuk berangkat ke sekolah.
"Bundaaa, aku pergi sekolah dulu"
"Hati-hati Max! Coba cek lagi siapa tau ada yang tertinggal"
"Tidak ada bun, aku berangkat ya. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam"
Aku pun pergi ke sekolah dengan motor kesayangan ayah ku, Honda Win 100 tahun 2002. Tetapi aku tak pernah parkir di sekolah. Aku selalu parkir di rumah sahabatku, si Ahsan. Dia sudah bersahabat denganku sejak aku duduk di bangku sekolah dasar kelas empat. Ia tahu apa saja tentang diriku. Karena ketika aku sedang kesusahan ataupun ingin curhat kepada seseorang, dia adalah orang yang tepat. Ia juga mengajarkanku cara memasak mie instan waktu smp kelas satu. Aku merasa bangga dengan diriku saat itu, akhirnya aku bisa memasak mie instan sendiri. Rumah Ahsan tidak jauh dari sekolah. Hanya beberapa meter dengan jalan kaki saja untuk sampai sekolah. Keluarga aku dengan keluarga Ahsan sangat dekat. Rasanya sudah seperti saudara sendiri.
"Ahsaan! Saan! Hayuu berangkat!"
"Sok parkirin dulu motornya"
"Iya atuh siap! Let's go"
"Yu"
"Max, tau ga, katanya ada anak baru di sekolah"
"Siapa namanya?"
"Kurang tau tuh. Tapi katanya mah bule kaya kamu. Dia dari Belanda. Pindah karena Ayahnya harus bekerja di Bandung. Terus Ayahnya ingin bawa keluarganya kesini. Jadi merek pindah aja ke Bandung"
"Ohh, gituu. Belanda dimananyaa? Kan belanda teh da engga amsterdam aja."
"Gatau atuh, kan aku juga cuma denger aja. Kalo mau tau sebelah mananya mah, kamu tanya dia aja sendiri"
"Iyaaa nanti aku coba bertanya ke dia. Tapi cantik ga yah?
"Ya cantik atuh Max, dia kan bule. Bule mah pasti ganteng atau ga cantik"
"Berarti aku ganteng?"
"Nya heeuh atuh. Urang mah iri ka maneh (Ya iya atuh. Aku mah iri ke kamu)"
"Hahahaha"
Sesampainya di sekolah, kami pun masuk ke kelas masing-masing dan belajar seperti biasa. Ketika istirahat, Ahsan dan aku pergi ke warung Wa Ine yang berada di dekat sekolah. Kami sering pergi kesana karena teman-teman yang lain sering berkumpul disana. Di warung Wa ine makanannya enak-enak. Yang terpenting itu bisa menghutang, hehehe.
"Wa Ine, ingin makan sayur waluh sama usus"
"Ambil aja sendiri Max. Wa ine mau keluar dulu sebentar. Max iraha mayar hutang na?(Max kapan bayar hutangnya?)"
"Udah makan ini Max bayar, wa"
"Gitu atuh. Kalo Max ga bayar, nanti Wa Ine gabisa masak dan bahan-bahannya gabisa beli"
"Iya Wa, maaf"
"Ya udah atuh, Wa Ine mau ke depan dulu. Sok ambil sama Max ya"
"Iya Wa, siap"
Aku pun mengambil makanannya dan makan di pojok warung bareng Ahsan.
"Max, tau ga..."
"Apa?"
"Perempuan yang pindahan dari Belanda, sekelas sama aku!"
"Oiya? Siapa namanya?"
"Iyaa bener. Namanya Samantha. Samantha Helzie Wilma. Ternyata dia punya keturunan Indonesia, Max. Dari kakeknya yang asli orang Bandung"
"Wiihh, keren! Cantik?"
"Banget!"
"Haruskah?"
"Cobalah... Siapa tau dia mau"
"Nanti aja. Aku mau makan dulu. Emang juara masakan Wa Ine"
"Heeh, sok atuh beakeun heula (Iya, sok atuh habisin dulu)"
Setelah makan dan membayar hutang ku, aku dan Ahsan pergi ke sekolah sebelum bel masuk dan aku menghampiri kelas Ahsan untuk melihat Samantha. Ku lihat ia duduk di bangkunya sembari membaca novel yang berjudul "Sheila". Lalu aku berbicara ke Ahsan di luar kelasnya
"San, yang itu ya?"
"Ya iya atuh yang itu. Kan cuma dia aja yang mukanya bule di kelas aku mah. Siapa lagi sok yang bule?"
"Si Hani kan bule San. Putih gitu"
"Heeuh putih. Putih ku bedak nu tebel na 10 senti. (Iya putih. Putih sama bedak yang tebelnya 10 senti)"
"Anjir hahaha"
"Hahaha. Da bener atuh, liat weh sendiri"
"Hahaha. Ya udah atuh nanti malem kamu doain aku San"
"Doa apa? Mayat?"
"Bukaaannn. Doain aku supaya lancar buat deketin... siapa tadi namanya?"
"Samantha, Max"
"Nahh, iya Samantha"
"Insyaallah kalo inget buat berdoa. Atau ga nanti aku titip aja kalo mamah aku lagi shalat"
"Nah boleh San. Kan doa dari orang tua selalu baik San"
"Orang tua maneh ih, indung urang teh (orang tua kamu ih, ibu aku)"
"Hahaha. Gapapa atuh San. Banyak yang mendoakan lebih baik kan San?"
"Iya sih. Ya udah aku nanti bilang juga ke mamah aku"
"Sip"
YOU ARE READING
Save the Date
Romance"Samantha, terima kasih sudah pernah ada di hidupku. Ini memang jalan yang tepat yang pernah aku pilih. Rindu akan selalu hadir. Memori akan selalu teringat. Sampai jumpa di lain waktu. Semoga kau berbahagia dengannya. Salam Hangat, Max" Itulah sura...
