pertemuan yang baik dalam dua keluarga tidak berjalan lancar pada masa di ujung tanduk. gerah hati, itulah yang dirasa tasya aulia zahra. dia melihat calon suaminya terus melirik adik kandungnya yang manis dan cantik. Diam - diam sang adik juga suda...
Mekipun hati terluka, tetap saja kebahagiaan adikku lebih penting dari pada kebahagiaanku
Angin sepoi - sepoi membuat nyaman suasana hati berantakan di atas hancurnya harapan. Duduk termenung dalam diam membisu yang sulit di artikan. Bahkan aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti ini.
aku tidak tahu kenapa hanya aku yang mengalami nasib seperti ini, meskipun pada awalnya aku ikhlas dengan segala takdir dan ketetapan Ilahi untuk diriku.
Kenapa harus si bungsu, jika bukan si bungsu adik ku. Ku pastikan jiwa ini sudah membaja dari sebelum nya. Rela atau pun tidak rela, jiwaku harus rela meskipun dipaksa.
Air mataku jatuh setetes di jilbab hitamku, mengingat dia mengucapkan ijab kabul untuk menghalalkan adik ku. Remuk hatiku dibalik senyum manisku yang mengembang melihat amel menciup punggung tangan zafran.
setelah melihat mereka beberapa menit, aku berlari kehalaman rumah belakang untuk menenangkan jiwaku yang sangat terpukul, dan terluka. Tidak ada yang tahu dengan keadaan hati kecilku ini kecuali Rabbku. "Kenapa aku mendadak serapuh ini ya Allah.." gumamku dalam hati paling dalam.
Masih tajam ingatanku ketika persiapan pernikahan adikku. Betapa kuatnya aku membantu segala pernikahan adikku. Sampai - sampai aku yang memilihkan cincin pernikahan mereka. luar biasanya hatiku saat itu. Meskipun hatiku sangat cemburu.
Seharusnya tidak sepantasnya aku seperti ini, bukankah aku yang meminta mas zafran supaya mengkhitbah adikku bukan aku. Betapa munafiknya aku.
Lagi - lagi air mataku lolos dari kedua pelupuk mataku dan membasahi seluruh pipiku, bermimpi tentang masa lalu yang pernah ku lalui bersama zafran. Kenapa harus dia menjadi mimpi tidurku, ini benar - benar menyakitkan. Aku benar - benar rapuh jika mengingat dia. Sejak awal aku yang salah. Tidak seharusnya aku menceritakan kehidupan adik ku kepadanya. Pada akhirnya hati ku kembali terluka kesekian kalinya. Kenapa dengan hatiku sulit mengikhlaskannya, apa yang terjadi?
aku mulai takut dengan kondisi seperti ini, haruskah aku mengakhiri hidupku hanya karena pria semacam dia. Tidak! aku tidak boleh bersikap seperti itu. Jika aku mengakhiri hidupku, bagaimana dengan perasaan ayah dan ibuku. Aku tidak ingin membuat mereka bersedih. Aku harus kuat. Bukan kah Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepadanya. Jika aku bunuh diri maka nerakalah tempat kembaliku. Tidak, aku tidak ingin masuk kedalam sana. Bagaimana bisa? dalam kehidupan ini aku sudah menderita. Aku tidak ingin lagi menderita ketika hari kiamat tiba.
Biarlah aku menderita di dunia asalkan di akhirat aku bisa bahagia. Aku harus menambah sedikit kesabaranku. Aku yakin ini adalah ujian. Meskipun berat bagiku tapi dimata Allah aku mampu melalui semua ini. Allah tidak mungkin memberikan suatu ujian untuk hamba - Nya di luar batas kemampuan. Kecuali dosen senang memberi tugas diluar batas kemampuan mahasiswanya.
untuk saat ini aku masih tinggal dirumah bersama keluarga termasuk adik ku yang sudah menyandang status istri. Pernikahannya baru saja berlalu dua hari yang lalu. Tapi rasanya sudah sangat lama mereka menikah. Ini pasti karena derita hati yang tak kunjung sembuh. Untuk menyembuhkan luka membutuhkan waktu yang sangat lama. Tetapi luka ini berbeda karena aku sendiri yang menciptakan luka ini. "Tasya....?" teriak ibu dari kamar mandi. "iya ma ada apa?" sahutku berjalan menuju suara ibu. "Ambilin handuk dikamar dong" tuturnya dibalik pintu dengan menyembulkan sebagian kepalanya. "Siap mam" sahut ku ria. Tidak membutuhkan waktu lama mengambil handuk ibu dikamarnya. Aku segera memberikannya dan pergi meninggalkannya untuk melanjutkan masakan ibuku yang belum selesai didapur.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi, adik ku dan suaminya belum juga keluar. Aku tidak tahu apa yang dilakukan di dalam sana sampai sampai mereka belum Juga keluar. Apakah semua pengantin baru seperti itu?. Ah sudah lah itu bukan urusanku lebih baik aku menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat dari pada memikirkan mereka yang tidak ada gunanya. Hanya buang - buang waktu saja.
Masakan sudah siap saji. Semua sudah ada diatas meja tinggal menunggu keluarga datang di ruang makan untuk sarapan bersama. Mumpung keluarga masih sibuk dengan urusan masing - masing, aku mencuci bekas - bekas alat masak yang kotor di wastafel.
Cuuuurrr...
Bunyi air keran yang keluar dari tempatnya.
Satu persatu alat - alat masak yang sudah dibasuh dengan sabun, aku membilasnya dengan air bersih yang keluar langsung dari kerannya dan menyimpannya ditempatnya masing - masing. "Alhamdulillah selesai juga akhirnya" gumamku pelan. "Anak mama rajin sekali hari ini" pujian dari ibu yang nongol tiba - tiba disamping ku. "Astagfirullah mama kebiasaan deh mama sukanya muncul tiba - tiba" tuturku dengan mengelus dada karena kaget kedatangannya yang tiba - tiba. "Maafin mama sayang.." sahutnya lembut dengan mengelus pucuk kepalaku. "Huh! mama, emang selama ini tasya nggak rajin apa?" "Udah nyucinya kan. Kita makan duluan saja. Perut mama udah laper nih" tuturnya. sudah menjadi kebiasaan ibuku kalau di ajak ngobrol, pasti hobinya keluar dari topik pembicaraan. "kita nggak nunggu papa sama amel ma?" tanyaku sambil menggeret kursi kebelakang untuk ku duduki. "Nggak usah, kalau nunggu papa kelamaan. Apalagi nunggu adik mu. Bisa - bisa mama mati kelaparan" sahut ibuku dengan mengambil secentong nasi di bakul depannya. "tasya nurut ajalah..." tuturku dengan menaikkan satu alis kananku, menandakan aku masa bodo dengan papa dan adik ku.
Hanya ada aku dan mama diruang makan, aku menjadi pendengar pasif dengan cerita mama ketika aku dan adikku masih kecil usiaku beranjak 5 tahun pada saat itu sedangkan amelia berusia 3 tahun. Dulu ketika adik ku lahir sifatku berubah drastis manjanya 100%, kata mama aku takut kasih sayang ibu dan ayah akan hilang beralih pada adik kecilku. Tapi lama - lama aku sadar bahwa tidak seharusnya sebagai kakak bersikap seperti itu. Kata mama aku berubah karena nasihat dari ayah keyla sepupuku yang seusia dengan usiaku.
Mendengar cerita mama antara percaya dan tidak percaya. Nggak nyangka ternyata dari sejak kecil aku sudah punya karakter cemburuan. Huh! nggak enak banget sebenarnya punya karakter cemburu. Tapi sifat cemburu menandakan bahwa ada rasa sayang dan cinta dengan yang dicemburui. Misalnya saja dalam dunia cinta antara 2 insan, jika salah satunya dekat dengan orang lain lawan jenisnya pasti timbul benih - benih rasa cemburu dalam dada yang tidak di inginkan oleh setiap manusia. Tetapi biasanya rasa cemburu itu disenangi dengan sepasang kekasih masing - masing. Karena dalam pikiran mereka bahwa cemburu itu merupakan tanda cinta dan sayang. Tidak perlu jauh - jauh untuk mengambil contoh misalnya saja antara aku, adik ku dan zafran. Aku cemburu melihat mereka, adik ku bersanding dengan zafran. Seharusnya zafran adalah imamku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa - apa, aku rela berbuat apa saja demi kebahagiaan saudariku tercinta. Meskipun hati hancur, biarlah Allah pasti akan menggantinya dengan pria lebih baik dari pada dia.
___Diari Tasya__
TBC
jangan lupa vote ya.. ❤ Salam manis dari author ")
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.