Sebenarnya aku gak terbiasa menulis, tapi berkat "dia" Aku menyanggupi untuk menulis, baiklah cerita ini kutulis hanya untukku dan kalian, semua ini bermula saat aku SMA, yah
Aku terperanjat melihat niko dan sifa saling melumat, di halaman belakang sekolah, awalnya aku ingin membuat niko terkejut tapi kini malah aku yang meneteskan air mata, aku menghapus air mataku, tak ingin pergi aku malah bersembunyi di belakang pohon agar bisa melihat aksi mereka lagi
" Ehmpppph,, sudah cukup niko, nanti kelihatan orang " Sifa menarik dirinya dari niko,
" Kenapa sih fa, kamu takut kalo mira tau? Lagian biar aja dia tau, aku juga udah eneg banget sama dia, kamu tau kan gimana dia yang selalu cengeng dan ngerepotin gitu, aku ga habis pikir bisa bisanya aku nembak dia, padahal ada kamu yang selalu setia disamping dia, jadi andai dia liat kita begini ya bagus dong aku jadi ga perlu jelasin apa-apa lagi kedia, sumpah itu anak ngerepotin banget "
Niko kembali menyambar bibir sifa, terlihat sifa tak menolak malah mengalungkan tangannya dileher niko,
" Hahahah, kamu memang gila niko, tapi aku juga suka kamu, ya sudah biarkan saja mira tau"
Mereka saling melumat tanpa sadar aku ada dibalik pohon dengan hati yang hancur aku hapus air mataku, dan beranjak pergi dengan sebuah tekad yang bulat, " Akan kujaga hatiku untukku sendiri " Bisikku
Hari-hari berlalu tanpa mereka sadari aku menghindari mereka dengan menyibukkan diri di perpustakaan, jika ada waktu lenggang aku lebih memilih duduk di Koridor kelas, yah Tekadmu sudah bulat, begitu lulus dari SMA aku akan mengambil jurusan kedokter dan mengambil spesialis bedah, itu janjiku pada diriku,
Jangan tanya bagaimana sikap niko dan sifa, mereka sama sekali tidak menghiraukan aku lagi, mereka seperti sudah melupakan aku dan kurasa itu sangat bagus mengingat betapa sakit hati ini melihat adegan sosor menyosor mereka pas kejadian itu,
Hingga perpisahan sekolah mereka dengan terang terangan berpelukan, tertawa bahagia seolah aku ini tidak ada, mungkin mereka menganggapku benaran hantu, ya mungkin aku memang hantu, hantu yang merana di hianati pacar dan sahabat pas lagi sayang sayang nya
Jadi disinilah aku di rumah sakit terkenal di ibukota, kulihat betapa besar gedung rumah sakit ini dan tersenyum getir, "akhirnya aku bisa mewujudkan Tekadku"
Jangan kalian tanya gimana aku melewati masa kuliahku, semua kulalui dengan perjuangan, aku ga sempat ber haha hihi dengan teman teman kuliah bahkan aku ga punya teman, aku ga berani untuk berteman padahal ga semua orang akan seperti sifa kan, tapi entahlah mungkin aku trauma dengan kata "teman" banyak juga dulu teman kuliah yang sering menyapa tapi hatiku seakan menolak tatapan pertemanan dari mereka, aku sering mendengar bisik bisik yang mengatakan aku itu anti sosial tapi aku tak menghiraukan nya, aku tetap dengan tekadku dan aku berhasil, pasti kalian penasaran dengan orang tuaku dan biaya aku kuliah, sini biar aku cerita, aku yatim piatu, ibu dan ayahku meninggal sewaktu menjemputku pulang dari rumah niko, iya kalian tidak salah baca, NIKO, niko adalah anak teman ayah dan ibu, aku sudah kenal niko sejak jaman SD, orang tuaku berteman baik dengan orang tua Nico, mereka sering mengajak aku bermain kerumah niko, terkadang aku sering dititipkan kerumah Nico dengan alasan orang tuaku harus keluar
Kota, ,kejadian itu sangat tidak ingin aku ingat sebenarnya, tapi gak ada salahnya aku ceritakan, sore itu setelah menjemput ku dari rumah Nico, di dalam mobil aku masih ingat aku bernyanyi dengan ibu dan tangan ayah menggenggam tangan ibu, kami keluarga bahagia, ya kami memang bahagia, ayah selalu bermesraan dengan ibu, bahkan dihadapan ku pun ayah selalu mengucapkan iloveyou tanpa malu, aku sangat mengagumi ayahku aku merasa beruntung menjadi putri yang selalu di manja ayah, dan ibu, aku selalu berhayal mendapatkan suami seperti ayah, ayah selalu menggodaku dengan menjodohkan aku dengan Nico, ya Nico, makanya aku selalu di antar ke rumah Nico sewaktu ayah ada urusan kantor, ibu akan selalu mendampingi ayah kemanapun ayah pergi, hingga suara klakson mobil itu menghentikan mobil kami dan melepaskan genggaman tangan ayah ke ibu, aku mulai panik, takut, tapi ibu dengan tersenyum mengajakku untuk bermain petak umpet,
' mira yuk main petak umpet, sekarang mira tutup mata, biar ibu bungkus dengan jas ayah ya, mira harus janji ga akan buka jas ayah apapun yang terjadi, sampai ibu kembali, sekarang mira berbaring biar ibu selimuti dan jangan lupa tutup mata" Ibu tersenyum dan menciumiku, tak lupa membisikkan " Ayah ibu sayang mira, menurutlah pada bude Rani ya," Aku hanya mengangguk dan tertidur hingga aku bangun aku sudah ada di kamar, bude Rani yang ada disampingku masih menagis sesegukan, aku mencoba menghapus airmatanya tapi terlalu malas untuk bangun, bude Rani yang melihat aku langsung memeluk ku "masih ada bude nak, tenang lah masih ada bude yang akan menyayangi mu dan takkan membiarkanmu tersakiti" Mendengar itu aku hanya tersenyum sampai aku masuk SMP aku baru menyadari kalau orang tuaku telah meninggal, bude Rani menceritakan padaku dengan sangat lembut dan hati-hati aku hanya diam mendengar cerita yang tak ingin aku dengar, untuk mengingatnya saja Kepala ku terasa berputar putar, bude Rani mengurus ku seperti anaknya sendiri dengan peninggalan warisan dari orang tuaku yang tak terlalu banyak bude Rani berhasil membimbingku hingga aku lulus kuliah kedokteran, aku begitu bersyukur mempunyai bude Rani, matanya berair melihatku memakai toga, dalam memeluknya, tapi sayang sewaktu aku sibuk mendaftarkan diri mengambil spesialis bedah bude Rani meninggal, aku ga tau selama ini bude Rani mengalami gagal ginjal,
Sebulan aku mengutuk diriku sendiri bisa sampai tidak tau apa apa tentang bude Rani, aku menyesal tidak bisa menolong nya padahal untuk sebuah ginjal aku rela kok berbagi dengan bude Rani, toh aku masih punya ginjal satu lagi, saat itu aku merasa sangat terpuruk, aku tidak mempunyai siapa siapa lagi, dan baru menyadari bahwa warisan orang tuaku juga sudah sangat menipis,
Kembali ku hapus air mataku, untuk sesaat aku mengingat Nico, bukan aku bukan berniat menghubunginya, aku mengingat bagaimana ciuman nya terhadap sifa, yah mereka bagaikan cambuk untuk ku, Nico dan sifa.
Dengan berbekal ijazah kedokteran aku melamar pekerjaan, alhamdulillah ada klinik yang mau menerimaku walaupun aku masih kuliah mengambil specialis ku, dengan keyakinan yang kuat aku mendaftarkan beasiswa alhamdulillah aku diterima,
Kulangkahkan kakiku dengan lincah, menyambut pasien yang terbaring dibanker,
"Selamat pagi, sapaku dengan ceria, ya aku memang selalu ceria didepan pasien-pasienku, aku menjadi dokter yang Playful, akue, suka melihat mereka tersenyum, meski menahan sakit.
" Pagi bu dokter yang cantik,
Aku sudah siap kok dibedah dok, tapi dokter harus ikut
Ya, " Kali ini aku meng geleng-gelengkan kepalaku, maksudnya hanya untuk menggoda gadis
Kecil ini, tapi diluar dugaan ku Ria mengamuk, ya namanya ria, ria menses, gadis keturunan bule ini menjerit histeris aku menjadi merasa bersalah dan memeluk nya, ku usap punggung nya perlahan-lahan, tangisannya mulai reda aku memang Dangin ya " Ria, aku hanya bercanda, aku akan ikut ke ruang oprasi itu, aku akan berusaha dengan tim dokter yang lain agar kau bisa sehat " Ucapku mencoba menenangkannya kembali
" Aku ga takut dioperasi dok, aku takut dokter gah
Mau lagi main sama aku, aku udah berusaha menjadi anak baik dengan mengikuti semua aturan rumah sakit aku juga udah meminum obat kuat tepat waktu, " Jawabnya terisak, aku kembali membelai rambutnya yang berserakan, ada juga yang lengket kena ingus bercampur air matanya, " Kamu memang kuat ria, aku juga sangat menyangimu sobat" Kulirik kedua orang tuanya, mereka menyeka air mata melihat anaknya berjuang melawan penyakit gagal jantung,
Aku keluar dari ruang ria,. Dan melangkah ke
Ruang pasien-pasien lain berharap dapat memberi sedikit semangat pada mereka
"Gimana keadaan ria dok? " Dokter ilham bertanya tanpa mengalihkan perhatian yang sedang mencuci tangan,
" Ria kelihatan jauh lebih tenang sekarang dok, sepertinya dia juga semangat dioperasi" Dokter ilham tersenyum mendengar penjelasanku, sepertinya dia ingin bicara tapi tidak jadi saat bibir nya bergerak dan,
Kembali tertutup hanya membuat mulutnya membulat, dokter teguh adalah dokter senior dirumah sakit Medistra, aku sangat menghormati beliau yang sangat low profile meski memiliki jam terbang tinggi
Beliau dengan sabar membAgi ilmunya dengan ku, aku selalu berharap dapat berada dalam tim dokter teguh
Setiap ada oprasi yang melibatkanku, bukan apa apa
Sih, cuma aku merasa percaya diri dalam
Menjalani operasi jika ada dOkter teguh,
Ku lirik Arlojiku, jam 11 malam, ya oprasi ria berhasil, hampir
Delapan jam kami tim dokter berjuang bersama ria dan akhirnya berhasil, aku keluar ruang oprasi dengan senyuman puas, bukan ini bukan oprasi pertamaku, tapi aku selalu
Tersenyum puas saat dapat menyelamatkan pasien ku, aku juga udah ga ingat udah berapa kali mengoperasikan pasien, kata. Dokter teguh sih, aku memang bisa diandalkan
" Terima kasih dok, Terima kasih" Ucap deddy ria pada dokter teguh, dokter teguh memeluk daddy ria dan melirik ku sambil tersenyum mommy ria tak dapat menahan kebahagiaan dan memelukku
" Kami berhutang nyawa padamu dok, ria sangat bersemangat sekali karena bU dokter, entah apa yang membuat begitu menyukaimu tapi dia juga bercita-cita. Ingin menjadi dokter bedah sama seperti dirimu"
Ku balas pelukan itu " Aku juga menyayangi ria, mommy ria " Jawabku dan berlalu meninggalkan keluarga yang sedang berbahagia itu, menuju ruang kerja ku, hari-hariku kulalui dimeja operasi, aku selalu bersemangat saat bekerja, aku seperti mendapat kekuatan hulk saat di ruang operasi dan bisa bekerjasama dengan baik pada timku baik itu dokter ataupun perawat.
YOU ARE READING
savior and killer
Romancemira seorang dokter yang selalu menyelamatkan orang jatuh cinta dengan seorang pembunuh yang selalu membantai orang tanpa ampun apa jadinya kisah mereka, akankah mereka bisa bersatu, penasaran!!! silakan dibaca.
