Pertemuan pertama dengan sang Pangeran Senja Part 1

13 0 0
                                        

Cinta.... apa itu cinta? Terlalu luas untuk mendefinisikan kata cinta. Namun bagiku cinta adalah salah satu anugrah yang tuhan berikan kepada setiap umat manusia yang tersimpan dalam jiwa, cinta tidak memiliki bentuk atau rupa hanya berbentuk sebuah rasa yang bergejolak seperti asa dalam jiwa. Mungkin itu yang bisa aku ungkapkan tentang sebuah cinta. Lalu bagaimana kisahku dalam menemukan atau merasakan cinta di bumi ini? Cinta menjadi sebuah isyarat dalam hidup. Mencintai seseorang yang memiliki rupa dan jelas terlihat oleh mata mungkin cukup mudah untuk merasakan sebuah cinta, namun ketika kita dituntut untuk mencintai sang maha pencipta yang tak terlihat oleh mata sebagai salah satu interaksi dalam mengungkapkan sebuah cinta, bagaimana caranya? Sang Pangeran Senja mengajarkanku tentang cara mencintai yang sesungguhnya. Baginya Cinta itu harus didasari karena iman dan taqwa bukan hanya sekedar rupa yang terlihat di pandangan mata bahkan cinta tak bisa didasari karena harta dan tahta. Simaklah dengan baik akan ku ceritakan tentang dia sang pangeran senja yang mempesona.

Sore hari itu untuk pertama kalinya aku bertemu dengan dia sang pangeran senja yang rupawan. Kala itu ia tengah menatap keindahan sang surya yang mulai berwarna jingga. Ia duduk di bawah pohon yang cukup rindang di atas rerumputan hijau yang segar. Rambutnya tertiup angin yang berhembus petang itu. Aku hanya menatapnya dari kejauhan, ini untuk pertama kalinya aku melihat dia di taman pelangi, taman yang biasanya sunyi dan tak berpenghuni ketika menjelang sore hari. Taman pelangi merupakan sebuah taman yang terkenal dengan keindahan pemandangannya karena berada di sebuah bukit yang cukup tinggi, dibawahnya terdapat hamparan kebun teh yang cukup luas dan di seberang taman pelangi terlihat dua gunung kembar bahkan di gunung itulah biasanya sang surya terlihat menyapa mengabarkan bahwa ia harus pamit sementara waktu dari tuganya untuk menyinari duniaku tercinta. Setiap sore jika hujan tidak turun untuk membasahi bumi aku selalu berkunjung ke taman ini hanya untuk merenung meratapi yang terjadi di bumi dari waktu ke waktu. Biasanya aku hanya sendiri di taman ini namun tidak dengan sekarang, ada sosok pemuda tampan yang menjadi penghuni baru taman pelangi. Ada rasa kesal yang melekat dalam jiwa namun apalah daya, tempat ini milik umum bukan milik pribadi yang bisa dikuasai sesuka hati. Ketika aku ingin beranjak pergi dari taman ini tiba-tiba..... dia menoleh menatapku dan tersenyum manis sambil berdiri dan berjalan mendekatiku. Aku hanya bisa menatapnya sambil mengernyitkan dahiku. Dia mengulurkan tangannya kepadaku sambil memperkenalkan dirinya.

"hai, namaku arya. Arya Saputra".

"namaku Andini Safitri. Bisa dipanggil andin" sambil menjabat uluran tangannya, dan ku balas senyumannya.

"wah, nama kita sama-sama terdiri dari dua kalimat, di awali huruf A dan nama belakangnya sama-sama di awali huruf S" ucapnya sambil cengengesan.

"iya, aku baru menyadarinya. Sungguh ini hal yang sangat unik bagiku" balasku sambil tersenyum manis seperti gula merah yang teralu hitam.

Laki-laki ini sungguh baik dan ramah, ku pikir dia akan menyebalkan seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya (ucapku dalam hati).

"arya, ini pertama kalinya aku melihatmu disini, sebenarnya kau siapa dan apa yang tengah kau lakukan di tempat ini? tanyaku kepada dia dengan ekspresi bingung yang sedari tadi mengusai pikiranku

"aku orang baru di tempat ini, tadi siang aku bersama kedua orangtuaku baru saja pindah ke kota ini. Rumahku ada disebrang sana (sambil menunjuk rumahnya) belakang taman ini. Aku berkunjung ke taman ini hanya karena penasaran saja ingin mengetahui bagaimana suasana di sekitar tempat tinggal ku." ucap arya kepada andin.

"apakah rumahmu yang bercat abu itu?" tanya andin sambil menunjukkan rumah yang dulu milik pak budiman yang dua tahun terakhir di pasang iklan bahwa rumah itu akan di jual.

"iya, itu tempat tinggal yang akan ku tempati mulai hari ini" ucap arya.

"kau tahu arya, sebelah tempat tinggalmu adalah rumah orang tuaku. Aku tinggal disana" kata andin menunjukkan rumah bercat hijau di sebelah rumah yang dulu milik pak budiman.

"oh ya. Kebetulan sekali kalau begitu dan ini awal yang baik untuk kita berteman. Kau mau kan jadi teman pertamaku di kota ini?" ucapnya padaku.

Aku hanya menganggukan kepalaku. Dan arya hanya menampilkan senyum manisnya kepadaku. 

PANGERAN SENJATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang