Prolog-Waktu terasa cepat

9 0 0
                                        

Seperti sebuah pertanda, langit di ufuk timur terlihat abu. Aku segera menghampiri halte bus terdekat, tidak ingin jika hujan lebih dulu mengguyur sebelum aku tiba di rumah.

Terlihat bus berwarna biru mendekat kearahku, terpampang jelas dari sudut mataku. Aku menoleh ke arah barat, ternyata bukan bus yang mampir di halte ini.

Aku kembali berdengus, memikirkan nasibku jika hujan kembali membuatku basah kuyup hingga berakhir demam.

Tapi sepertinya kesialan berada padaku, rintik mulai membercak aspal di hadapanku. Saat kuulurkan tanganku, beberapa debit cairan mengenai telapak tanganku.

Seketika semua terasa mengancam, dengan kuku yang kujadikan pelampiasan aku tetap setia menunggu. Bahkan jika semua hanya menyiksaku saja.

Mataku menyapu layar benda pipih yang ku keluarkan dari dalam tas, sebentar lagi senja akan menyapa di balik awan. Sedikit malu mungkin, atau awan dan hujan terlalu egois hingga menyembunyikan keindahan senja?

Seperdua jam lamanya aku menunggu, suasana pun mulai redup, pilihanku hanya dua. Jalan di bawah guyuran hujan, atau menunggu hingga esok pagi.

Sepanjang trotoar, aku melangkah dengan cepat, badanku mulai menggigil, mungkin bibirku juga sudah pucat pasi. Berulang kali mataku terkedip, mengatur air yang memasuki mataku.

Mataku tertuju pada sebuah kursi panjang di bawah naungan yang terlekat di dinding bangunan, kakiku mengantar tubuhku ke sana. Memberi sedikit lega walaupun tetap basah.

Tak henti-hentinya telapak tanganku bergesekan, demi menciptakan sebuah kehangatan walau mustahil untuk kurasakan. Posisiku kini tengkurap, lenganku mengapit kedua kakiku.

Mataku terpejam, merasakan angin yang tak pernah salah dalam tugasnya, hanya saja sifatnya yang membuat orang lain berubah.

Masih terpejam, aku merasakan kursi yang kududuki bergerak. Mataku lansung terbuka, mencari tahu apa yang terjadi.

Hingga mataku menyambar sosok tubuh yang tengah terduduk tidak jauh dariku, ia terlihat kedinginan. Tentu saja, pakaiannya juga basah kuyup.

"Tidak boleh duduk di sini?" tanya orang itu mengagetkanku yang sedang melamun ke arahnya.

"Eh, tidak kok. Lagian ini tempat umum, aku tidak berhak ngatur," ucapku kemudian.

"Ooh yaudah," jawabnya kembali.

Terganjal sesuatu di dalam sana, 'sesingkat itu?' batinku.

"Oh iya, namamu siapa?" tanyaku di tengah kesunyian.

"Kalau tidak mau bilang, bisa?" tanyanya kembali.

"Yaudah kalau nggak mau." Jujur saja, aku sedikit kecewa.

"Tidak usah kecewa, ada alasan kenapa aku nggak bilang. By the way, kamu belum mau pulang? Hujannya sudah reda, malam juga udah semakin terasa," ucapnya dengan berdiri merapikan pakaiannya.

'Apakah dia bisa membaca pikiran seseorang? Jika iya, mampus akunya.'

"Heyy," ucapnya dengan melambaikan tangannya di depan wajahku.

Sontak aku kaget, lagi-lagi aku melamun. Dengan gugup aku meresponnya?

"Ha? Apa tadi?" tanyaku memastikan.

"Ngelamunin apa hmm?" tanyanya lagi dengan sedikit curiga.

"Atau jangan-jangan?" tanyanya dengan nada yang membuatku kesal.

"Ish, nggak tau nggak!" tegasku membela.

"Hahaha ...." Aku tertegun, suaranya yang serak khas saat ketawa, matanya yang agak menyipit, deratan giginya yang indah. Apakah kini aku terjebak dalam kenyataan? Tidak, tidak boleh.

"Kenapa liatin gitu? Jadi beneran nih?" tanyanya lagi. Pikiranku jadi berantakan, perkataan hati dan otak beradu membuatku semakin pusing.

Ia meraih tas ranselnya, mulai membenahi diri untuk melanjutkan aktivitas.

Jika di lihat dari segi penampilan, sepertinya dia adalah maha siswa. Tentu saja, akan aku pastikan.

"Kamu maha siswa yah? Universitas mana?" tanyaku berharap untuk disahutnya.

Tapi sepertinya tidak, ia hanya tersenyum padaku. Sungguh, aku pusing dibuatnya.

"Mau bertanya terus atau bermalam di sini?" Pertanyaan itu mengalihkanku pada alam. Yang benar saja, adzan isya telah berkumandang. Kenapa waktu terasa cepat sekali?

"Eh iya, pasti aku dicariin Ibu ini. Aku duluan yah, see you," ucapku berjalan membelakanginya.

Sepertinya aku merasa aneh, aku berbalik untuk melihatnya. Ia masih berada di tempatnya dan tidak melakukan pergerakan sedikitpun.

"Kenapa nggak pulang?" tanyaku.

"Cukup aku yang melihatmu pergi, jangan dirimu. Kau tahu? Hati wanita terlalu rapuh untuk kata 'ditinggalkan' maka dari itu, lebih baik kau meninggalkan."

Ada beribu kosa-kata yang sering aku ucapkan tiap harinya, tapi ia berhasil menghapus kosa-kata itu dari pikìranku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 09, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Rintik RinduWhere stories live. Discover now