You

22 1 0
                                        

Mungkin bagi sebagian besar orang, bekerja di perusahaan besar adalah impian. Gaji besar, fasilitas memadai dan sebagainya. Tidak tahukah bahwa semua itu harus diimbangi dengan kerja keras yang memperharuskan kita mentaati semua peraturan yang mereka buat.

Terlihat seonggok manusia yang masih nyaman bergumul dengan selimutnya. Waktu sudah menunjukan pukul 9.01am yang artinya sudah terlambat untuknya berangkat ke kantor.

Bukannya bergegas, pria itu malah hanya memainkan ponselnya dengan posisi masih sama seperti sebelumya, melempar sembarang arah benda persegi itu dan kembali menyamankan posisinya, kembali tidur.

Wira Arkana Putra, seorang team leader divisi pengembangan di salah satu perusahan besar di Jakarta. Seorang yang rajin dan taat aturan. Namun hari ini bertingkah beda.

**

"Pernah ga sih lo ngerasa pengen kabur aja gitu, ninggalin semua yang lagi lo kerjain sekarang ini misalnya, pergi ketempat tenang dan lainnya." Celetuknya kepada Raihan, teman sekantornya.

Terdengar seperti tidak bertanggung jawab namun itulah yang ada dibenaknya saat ini.

Wira lelah, Wira ingin istirahat. Pekerjaannya akhir-akhir ini membuatnya harus bekerja extra. Berangkat pagi, pulang malam adakalanya bahkan menginap di kantor.

Wira Tidak pernah mengeluh sebelumnya, namun sepertinya sekarang dia sudah mencapai limitnya.
Pekerjaan yang tidak kunjung selesai malah makin menggunung setiap harinya akibat kurang cekatan anggota timnya, yang mengharuskan Wira bertanggung jawab untuk semuanya.

Seminggu sudah Wira kerja tanpa istirahat. Mengejar deadline dan menyelesaikan segala macam proyek yang tercecer asal dimejanya. Hanya punya waktu tidur tidak lebih dari 2 jam seminggu terakhir.

Terbesit di benaknya Wira hanya ingin pulang, berkumpul dengan kedua orang tuanya. Bercanda tawa penuh kehangatan. Bukan berarti Wira tidak pernah pulang. Dia kerap kali pulang setidaknya 2 kali sebulan untuk menengok orang tuanya.

Dan disinilah dia, masih bergelut dengan selimut setelah mengajukan cuti selama seminggu. Atasannya yang sebenarnya enggan mengizinkan Wira cuti tidak punya pilihan selain mengabulkannya, mengingat Wira tidak pernah cuti jika bukan karena hal yang mendesak.

**

Sore ini Wira akhirnya meninggalkan kediamannya menuju terminal bis, kenapa? alasannya Dia sangat lelah memegang stir dan memilih menaiki kendaraan umum kembali ke kampung halaman.

Tidak ada rencana, itinerary atau lainnya. Dia hanya ingin pulang.

Raut tua ibunya menyambut Wira yang baru saja sampai, memeluk hangat putra kedunya, lantas menariknya masuk ke dalam rumah.

Berbagai hidangan makan malam tersaji lezat di meja makan. Tak lupa, sang ayah yang sudah besiap makan. Wira menghampiri sang ayah lantas berpelukan, layaknya mereka tidak bertemu bertahun-tahun.

**

Wira tidak tahu apa yang akan dia lakukan disini. Hanya berjalan-jalan mengelilingi kampung, melihat perubahan besar yang tidak pernah ia sadari.

Tidak ada teman, karena teman sekampung Wira saat ini sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Selang beberapa menit. Wira kembali berjalan, berniat kembali kerumahnya.
Tapi tidak pernah mengira jika dia akan bertemu dengan Wanita ini, cinta pertamanya atau cintanya yang bertepuk sebelah tangan.

"Wira..." Teriak wanita itu excited.

Kaku.

"Oh.. Nisa?? Apa kabar?" Tanya Wira mencoba menutup rasa gugupnya.

"Baik. Kamu gimana?" Tanya balik wanita yang bernama Nisa itu.

Belum sempat Wira menjawab, suara pekikan anak kecil terdengar dari arah belakang Wira.

"MAMAAAAA" Teriak si anak sambil berlari.

Ekspresi bingung Wira tertangkap oleh Nisa.

"Kenalin ini om Wira" perintah Nisa kepada si anak yang langsung mengulurkan tangan.

Wirapun menerima uluran si anak
"Anak gue" kata Nisa.

Wira mencoba tersenyum manis.

**

"Kamu gak bosen 'A ? " Tanya ibunya menghampiri Wira yang saat ini sedang duduk di teras.

"Nggak kok, Bu? Kenapa?" Jawab Wira yang malah balik bertanya.

"Gak kenapa-napa. Ibu seneng aja 'AA santai gini, biasanya 'AA pulang tuh cuman diem di kamar sambil megangin laptopnya. Kayanya kalo meleng dikit itu laptop langsung ilang" kata ibu wira sambil terkekeh.

Wira tersenyum, sesibuk itu ya dia. Waktu itu, memang badannya pulang namun jiwanya masih terjebak pekerjaan. Lamun Wira.
Bahkan tidak tahu bahwa Nisa sudah menikah.

Nisa ....

Teringat Nisa, Wira lalu bertanya pada sang Ibu.

"Kok Nisa ada disini, Bu? Bukannya dia di Semarang ya?" Tanya Wira.

Ibunya mengangguk.

"sudah ketemu rupanya." Jawab ibunya tersenyum.
" Sudah seminggu Nisa disini, nengok Mamanya."

Wira ber'oh ria tanda mengerti.

"Gimana rasanya?" Tanya ibu Wira penuh selidik.

Wira yang tak nyaman di tanya seperti itu langsung mengalihakan pembicaraan. Dan sang ibu hanya tersenyum mengerti.

Memang Wira menyukai Nisa sejak SMA namun tidak pernah mengungkapkannya. Wira selalu berpikir belum punya apa-apa yang bisa dibanggakan untuk Nisa. sampai akhirnya Nisa pindah ke Semarang setelah lulus SMA.

Lost contact. itulah yang terjadi hingga kemarin tanpa sengaja bertemu, yang ternyata Nisa langung menikah setelah kuliahnya selesai.

Dan kini Wira harus mengubur rasa cintanya unrltuk selamanya.

"5 tahun gak ketemu banyak hal yang berubah ya." pikiran Wira menerawang.


Wira Arkana Putra

Wira Arkana Putra

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Bitter SweetStories to obsess over. Discover now