about magic hour

27 7 7
                                        

Mentari mulai meninggalkan bumi dengan menyisakan semburat oranye kemerahan. Hangat dan nyaman, itu yang kurasakan hingga aku enggan beranjak dari dermaga yang sudah menjadi tempat favorit keduaku -setelah kamar- merasakan kehangatan dan melihat keindahan yang hampir setiap hari ku lihat. Tapi entahlah aku tak pernah bosan atau berniat mengganti kebiasaan yang dianggap nonmanfaat oleh orang lain. Bagiku keindahan hanyalah yang ada didepan mata ku saat ini. Magic hour. Bagiku Magic Hour bukan hanya keindahan yang hanya menampilakn warna indah lalu pergi setelah rembulan bersiap melaksanakan tugasnya. Lebih dari itu Magic hour adalah waktu dan dimana aku merasakan kelembutan dan kasih sayang.

"Tidakkah kau bosan Ara ?"

Suara ini. Bahkan aku sudah sangat bosan mendengarkan nya. Aku masih fokus dengan apa yang saat ini kulihat dan menikmati tanpa menjawab pertanyaannya. Aku hanya menghela nafas berat. Lalu berjalan melewati sang pemilik suara. Entahlah aku benar-benar muak dengannya bukan benci hanya saja bosan. Dia seolah tak pernah lelah  mempertanyakan kebiasaanku yang bahkan dia sendiri tau aku tak mungkin untuk meninggalakannya.

"Kau bahkan bisa membentangkan sayapmu lalu terbang kemanapun kau mau Ara. Mencari suasana baru mungkin."

"Andai aku bisa aku sangat ingin. Dan kau bisa lakukan itu lebih dulu untuk meninggalkanku. Agar aku tak merasa terganggu oleh kehadiranmu Racky."

"Dan sayangnya itu tak kan pernah terjadi"

"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Racky. Termasuk jika suatu saat nanti kau akan meninggalkanku, membenciku atu mungkin menjadikanku musuh lalu berambisi untuk membunuhku mungkin." jawabku sambil tertawa.

"Semoga iya agar kau tahu aku sangat ingin mencincangmu. Apa lagi jika kau mulai berbicara seperti itu. Huhhh. " dia kemudian berdiri disebelahku, ikut melihat magic hour didepan mata kami.

"Araaa kenapa hidupmu hanya tentang magic hour ? Kenapa bukan aku ?"

"Barangkali aku sudah sangat bosan melihatmu hampir setiap detik aku mihatmu, sedangkan magic hour aku hanya dapat melihatnya ketika senja, dan itupun hanya 1 jam. Belum lagi jika cuaca buruk aku bahkan tak dapat melihatnya."

"Ayo kembali sudah 4 jam kau disini" tangannya menarik tangan ku. Dan aku pun. Mengikutinya.

✂-------------


Bisa dibilang prolog.
Hujat ga papa kok. Jelek emang. Ehh jangan deng. Ehhh terserah deng.
Ngga ngemis bintang atao komen. Tapi kalo dikasih ya makasih banget. Heheh :)

~aksarajiwa

Aksara RasaWhere stories live. Discover now