"Kamu kira selama ini sudah mikir dengan benar?" Ujarku bersungut-sungut,menahan perih di dada.
"Sebelas tahun berumah tangga denganmu,Kamu selalu saja seperti itu. Kasar,galak,temperamen,kalau ngomong selalu dengan nada tinggi, Aku muak!"
Kemudian Aku memilih pergi ke kamar bersama si kecil,anak ketiga kami yang baru berusia enam bulan. Ku tutup pintu kamar,Ku susui si kecil sambil menangis.
Sudah sebelas tahun Aku menikah dengan suamiku,Mas Heri. Selama sebelas tahun itu jangan di tanya bagai mana rupa kapal kami.
Memang Mas Heri adalah sosok yang penuh tanggung jawab,dia begitu menyayangi kami. Namun hanya satu saja kekurangannya,temperamental. Meski tak banyak waktu yang bisa kami lalui bersama,karna Mas Heri kerja di perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi,sayangnya Mas Heri di bagian lapangan jadi sering sekali dia pindah-pindah kerjanya dan itu membuat kami harus LDR. Tapi itu tak membuatnya mudah berpaling, yah,dia type yang sayang keluarga,bisa dibilang cukup setia.
Sudah tiga bulan aku ikut Mas Heri,karna aku merasa kerepotan kalau harus mengurus si kecil Bima dan juga kakaknya,Jihan yang baru berusia tiga tahun setengah.
Aku pikir dengan kami ikut akan membuat hubungan kami bagus,tapi sama saja.
Mas Heri type yg pendiam dan kaku,sedikit bicara. Tapi Aku heran kenapa orang seperti dia sangat emosian.
Pernah dulu waktu kami belum punya anak,kebetulan Mas Heri belum ada kerjaan dan kami masih tinggal di rumah orang tuaku.
Hanya karna masalah sepele saja dia sampe menendangku di depan keluargaku,sungguh aku malu sekali waktu itu.
Pernah juga kami cekcok hal kecil tapi dia begitu emosi sampe memukul kepalaku pakai bantal. Pernah juga di depan saudara-saudaraku dia memakiku dengan kalimat dan kata-kata binatang.
Sebenernya aku sudah sangat muak dengannya,tapi Ibuku selalu menasehati yang baik-baik. Jadi aku selalu luluh oleh nasehat ibu. Dan akhirnya bisa bertahan sampai sekarang.
Masih banyak lagi kisah kami.nanti aku ceritain satu-satu ya.. see uu
