(Menemui mu)

201 14 0
                                        

Udara akhir-akhir ini cukup bersahabat walaupun kadang aneh. Pagi-pagi sekali tatkala sinar matahari mulai muncul kau akan merasa angin menghembuskan udara dingin sekali hingga menusuk-nusuk tulangmu. Lalu saat siang tatkala terik matahari menyengat,udara dingin tetap menetralisirnya sehingga hari ini tidak terlalu panas seperti hari-hari sebelumnya.

"Ini bocah tumben baru nongol? Ada yang mencarimu Day,"Bisik teman yang biasanya duduk disebelahku saat kuliah. Sana namanya. Cantik dan pintar,tapi sedikit ceplas-ceplos.  

"Belum juga duduk San,baru sampai pintu,"kataku mengeluh sekaligus mengharapkan iba darinya.

"Ini nggak boleh nanti-nanti. Bisa mati kamu Day."

Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan Sana yang sekaligus menarik lenganku dengan kecepatan penuh. Otak ku masih belum sepenuhnya terisi. Maklum tadi malam aku begadang untuk mengerjakan tugas dari dosen yang cukup killer.

Aku kewalahan menyamai langkah kaki Sana sehingga aku hampir tersungkur beberapa kali saat menuruni tangga. Beruntung keseimbangan badanku tidak perlu diragukan lagi dan aku bangga akan hal itu.

"Kita sampai Day." Sana mulai melepaskan tangannya dari lenganku. Sekarang dia benar-benar menatapku dengan tatapan iba. Aku terlihat ngos-ngosan dan hampir pingsan.

"Kamu bisa pergi sekarang San,"suara berat itu tiba-tiba mengagetkanku yang masih menunduk memegangi dada. Aku kenal betul pemilik suara berat itu.

"Day aku tinggal ya,"ucap Sana yang langsung membalikkan badannya. Saat kakinya hampir melangkah tanganku cepat-cepat menyambar tangannya.

"Tunggu San. Aku mohon temani aku."

"Kau tak berhak memaksa seseorang Day. Biarkan dia pergi,"pemilik suara berat itu tiba-tiba meninggikan suaranya hingga terdengar setengah berteriak. Aku semakin menunduk dalam-dalam.

"Maafkan aku Day."

Sana langsung berlari menuruti perintah pemilik suara berat itu tanpa menghiraukan aku. Tiba-tiba aku merasakan tatapan tajam seseorang menghujam diriku berkali-kali. Mati kau Day batinku.

MundurWhere stories live. Discover now