Rindu

5 2 0
                                        

Surabaya pagi itu diguyur hujan lebat. Sudah beberapa hari ini cuaca susah ditebak. Setelah sholat subuh, aku kembali menarik selimut. Rasanya badan ini malas untuk bangun.

"Ndok, durung tangi ta?" (Nak, belum bangun?)
"Sampun mbok." (Sudah mbok.)
" Anak perempuan itu harus rajin bangun pagi, nanti jika ikut mertua biar gak kebiasaan." Nenek berjalan menuju ranjangku.
"Iya, Mbok."
"Bapakmu semalam telfon."
"Oh." Jawabku malas-malasan. Sakit rasanya tiap kali membahas orang itu.
"Bagaimanpun itu orang tuamu, seperti apapun kelakuannya tetaplah orang berjasa dalam hidupmu, ndok."
Hening tidak ada lagi percakapan diantara kami. Nenek menghela nafas sambil mengelus punggungku.
"Bapakmu dan keluarganya akan berkunjung kemari minggu depan. Nenek mohon kamu usahakan untuk pulang ya ndok?"
"In Syaa Allah, mbok."
"Ya sudah, mbok tinggal dulu ya."
"Iya."

Dari kecil aku dirawat nenek dan kakekku. Orang tuaku merantau ke Jakarta dan hanya pulang dua tahun sekali. Masa kecilku dulu sangatlah menyenangkan, meski orang tua tak selalu ada tapi, banyak orang yang menyayangiku. Kepulangan kedua orangtuaku yang paling aku tunggu-tunggu. Tapi, waktu itu tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Orang tuaku pulang tak sendiri, mereka membawa wanita cantik yang katanya teman ibuku. Mungkin aku masih terlalu kecil tapi aku mengerti ada yang janggal diantara mereka. Sampai suatu malam aku menemukan ibuku menangis dengan penuh luka ditubuhnya.

"Bapak, kenapa pukul ibu?"
"Huh, dia wanita yang tidak tau diuntung, tidak tau terimakasih. Sudah untung selama ini saya tampung dia."

Aku memeluk ibuku dengan erat. Menangis, menggigil ketakutan karena baru kali itu melihat bapak semarah ini. Hingga esoknya mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta lagi.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, orang tuaku tidak pernah pulang lagi. Kabarpun tak pernah mereka berikan.
Suatu hari, saat umurku sudah menginjak 16 tahun, bapak kembali dengan dua orang yang dibawanya, perempuan yang katanya dulu teman ibu dan seorang anak laki-laki kecil. Pertanyaan besarku saat itu, "dimana ibuku?" Pertanyaan itu tak pernah terjawab hingga usiaku 18 tahun. Ternyata orang tuaku telah berpisah, bapak menikah lagi dengan perempuan yang katanya teman ibu itu dan mempunyai seoarang anak.

Adakah orang yang mau menjadi istri bekas sahabatnya? Kurasa itu tidak ada, kecuali orang itu memang sudah berniat tidak baik pada keluargaku. Mulai dari saat itu aku membenci mereka. Mereka yang membuat ibuku pergi, mereka yang membuat aku berpisah dengan ibu selama bertahun-tahun. Mereka tidak tau, sakitnya aku ketika melihat bapak lebih perhatian kepada anak lelakinya, apapun yang dia minta selalu dipenuhi. Sangat berbeda denganku, jika aku ingin sesuatu pasti akan ada banyak alasan bapak menolaknya. Tidak sadar apa yang dia lakukan sedikit demi sedikit membuat rasa benci dihatiku. Dan aku bertekad tidak akan meminta apapun lagi darinya, aku bisa sendiri tanpanya.

Aku selalu bersyukur Allah telah memberikan kesehatan, kekuatan agar aku bisa menunjukkan pada mereka, bahwa aku bisa.

"Ya Allah, dimanapun ibuku berada tolong lindungi dia, pertemukan dia dengan orang baik yang bisa melindunginya, dan segera pertemukan kita kembali Ya Allah."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 25, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

LENTERAWhere stories live. Discover now