Sore itu senja mulai menyelimuti dunia ini,langit mulai berubah warna menjadi jingga,di sudut sebuah kota terlihat segerombolan anak muda sedang berkumpul dengan obrolan hangat yang ditemani kopi hitam sehitam malam tanpa rembulan.
Terdapat 5 orang anak muda usia belia yang berkumpul di sore itu membincangkan masa depan bangsa yang sudah terlihat cukup suram ini,sebut saja mereka anak Ayah,gerombolan bocah yang lumayan mencolok dengan gaya slengean yang khas dan kritik pedas yang sering keluar dari mulut mereka.
Ditengah perdebatan sengit yang membahas tentang salah satu dari mereka yang kabarnya tengah dilanda asmara,terdengar agak lucu namun memiliki makna tersendiri bagi mereka,dimana seorang reno bercerita tentang masalah asmara cinta segitiga sama kaki:v
Malam semakin larut tiba-tiba reno bercerita dengan sangat seru "Yah yah,ada chat ngajakin gua ribut cuman gara gara Nia" ungkap reno,bukannya marah,tetapi mereka malah tertawa lepas melihat isi chat tantangan tersebut,terkesan merendahkan anak anak ayah tanpa tau isi dari keluarga tersebut.
Semakin panjang chat tentang tantangan itu,ayah akhirnya mulai berbicara "ya udah,kita abisin aja tuh bocah sekalian sama rombongannya aja,dengan catatan berkelahi secara jantan,1v1 sampai titik darah terakhir" ucap ayah rada lebay dan emosi,malam itu semua anggota setuju untuk tidak ikut campur urusan tersebut.
Udara dingin menyambut pagi mereka yang kurang tidur,berangkat ke sekolah bukan karena niat ingin belajar,tapi untuk menepati tantangan sebagai seorang pejantan tangguh,seorang ayah yang biasanya mengawali pagi dengan senyum berubah menjadi wajah murung dan terlihat emosian,begitupun semuanya,masih menunggu kedatangan Rifki,3 jam lamanya menunggu,akhirnya datanglah orang yang ditunggu,entah kenapa ayah tiba-tiba tersenyum dengan harapan baku hantam.
Tanpa disangka-sangka,ternyata reno mempunyai lebih banyak teman sehingga gedung kelas mulai dipenuhi oleh teman reno yang siap memukuli rifki,dengan wajah yang terlihat putus asa,rifki hanya diam disudut gedung karena sudah tidak tau harus berlari kemana,melihat keadaan yang lumayan kacau karena teman teman lain reno,rencana ayah berubah untuk melerai mereka semua,pertama masih tidak di dengarkan,bahkan reno dan apek terlihat seperti menantang ayah,tanpa sadar reno memukul kepala rifki dan tangan reno juga mengenai kepala ayah,"Kurang ajar! Ga bisa ngehargain gua apa lu semua anjing!!" tiba tiba keadaan jadi sepi nan sunyi melihat ayah yang mulai emosi,ayah menarik reno kedalam kelas untuk mendinginkan keadaan,ketika ayah mencoba menarik rifki untuk ikut ke kelas,dengan nada tinggi rifki malah berkata "gua ga terima,dia mukul gua juga harus mukul! Lu ngerti ga!" dengan tenang ayah menanggapi "silahkan,lu mukul reno lu yang gua bunuh" terlihat mikir,akhir nya rifki menuruti ayah untuk bicara ke reno dengan damai.
Dengan cepat mereka bersepakat untuk damai di sekolah,tapi ayah bukan orang yang mudah berdamai,pulang sekolah ayah dan reno menghadang rifki dan rombongan,dengan pertarungan 5v6 khilaf nya anak ayah terlihat,entah sengaja atau tidak,reno dengan reflek mengambil sebuah batu di pinggir jalan dan langsung menempel diatas kepala rifki yang menyebabkan bocor lumayan parah,dengan ceria mereka menyanyi dengan sangat kencang "selamat ulang tahun,yang terbaik untukmu" serasa menjadi pemenang mereka pulang dengan riang dan beban dalam hati "JANCOK!!" teriak ayah diatas motor.
Dan ternyata tidak hanya sampai disana,rifki dan rombongannya melaporkan anak ayah ke polisi,yang membuat mereka harus tertangkap dan mendekam sebentar di dalam sel,dengan tersenyum menahan tawa,apek menelepon kakeknya yang ternyata seorang purn.jendral,dengan kata maaf polisi tersebut mengeluarkan mereka,dan dengan perasaan dendam yang membekas mereka juga memiliki niat bahwa yang mereka rasakan juga harus rifki rasakan.
"Menang jadi arang,kalah jadi abu,kemenangan juga hanya kemenangan semu,dan kekalahan hanyalah kelalahan yang menyakitkan".
KAMU SEDANG MEMBACA
Mandate From God 2
RandomBicara kita hanya cinta,satu cinta hilangkan naluri saling menghancurkan.
