(1) Kartu undangan.

24 1 0
                                        


Aku menemukan sebuah kartu undangan pernikahan bertuliskan nama ku Humairah diatasnya.

Kartu undangan yang kutemukan disebelah tempat sampah, yang mungkin tak terbawa kedalam mobil pengangkut sampah dan jatuh tertinggal saat petugas kebersihan datang tadi pagi.

Dengan kertas berwarna hitam dipadu dengan penutup amplop dengan gambar kartun sepasang pengantin didepan nya, Begitu sangat menarik perhatian ku untuk membukanya, meski undangan itu sudah terlihat begitu kotor akibat terkena cipratan air tumpukan sampah.

"hmm tanggal nikah nya hari ini, pasti, gak sengaja kesapu nih ". Dugaku sambil menyeruput thaitea rasa original diteras rumah.

Karna, Biasanya ibu selalu rajin menaruh kartu undangan, paket endorse, dan barang kiriman lainnya dimeja kecil dekat kasur ku.

meski ada robekan yang sudah hilang. Dan kertasnya sedikit luntur karna terkena basahan air. Namun aku masih bisa melihat dengan jelas tulisan juga design kartu undangan nya yang terlihat sangat tak asing dimataku.

"undangan nya kok mirip ya kya undangan gue sama kak ali dulu?" batinku sambil mengingat undangan yang ku design sendiri, untuk pernikahan ku yang gagal 1 tahun lalu.

aku membuka halaman berikutnya, Tertulis disana, nama sang pengantin yang tertulis besar dengan tulisan sambung berwarna emas. Ditambah background foto sang pengantin yang menghiasi halaman tersebut.
"MUHAMMAD ALI DAN NAURA". ucapku lemas usai membaca nama sang pengantin tersebut.

Wajahku kian makin pucat dan Tubuhku benar-benar lemas..

Aku memastikan melihat foto itu untuk kedua kalinya. yang kuharap penglihatan ku buram dan salah.

"ASSTAGHFIRULLAH.. INI BENER KAK ALI!". Air mata ku seketika jatuh, badanku lemas yang akhirnya membuatku jatuh terduduk dilantai marmer teras rumah.

Menangis sejadi-jadi nya, hingga menjadi pusat perhatian beberapa tetangga yang lewat didepan rumahku.

Yang awalnya mereka ingin menyapaku,namun seketika buru-buru berlari karna kaget melihat keadaanku yang seperti ingin pingsan di lantai teras.

"Ass... ya Allah... neng hu may kenapa?". Tanya bu dian panik hingga berlari kearah ku, beberapa ibu2 lain nya juga menyusul membantu menenangkanku.

"coba cerita sini ke ibu kenapa?". Tanya ibu tetangga yang lain sambil memijat kepalaku.

Undangan yang berada tepat didepan ku, menarik perhatian mereka, para ibu-ibu itu dengan bergantian membaca dan menegaskan wajah pengantin laki-laki yang mereka kenal sebagai anak ustad itu

"ASSTAGFIRULLAH.. INI BENERAN ALI, ALI YANG SERING DATENG KERUMAH WAKTU ITU??"tanya salah satu tetangga.

"KOK JAHAT BANGET YA SI ALI NGELAKUIN INI LAGI KEKAMU NENG". Sahut tetangga lain.

"IYAA EUEUH.. MENTANG2 ORANG KAYA, JADI SEENAK NYA AJA NGELAKUIN ORANG KYA GINI, PASTI ORANG TUA NYA TUH YANG MAKSA ALI NIKAH". Oceh bu dian salah satu tetangga yang terkenal dengan mulutnya yang bawel.

"ssstt.. Bu dian!, yang sabar ya neng, mungkin emang belum jodohnya". Ucap bu ica sambil mengelus-ngelus pundakku.

"eneng harus ikhlas, Allah pasti punya rencana lain yang lebih baik dari ini". Sahut ibu2 lain nya.

"iyaa eneng humay harus kuat". Sahut yang lainnya lagi.

Aku tak bisa mengendalikan perasaan ku, rasa sedih, kecewa dan marah semua bercampur menjadi satu. 4 tahun yang kujalani bersamanya menjadi sia-sia.

"harusnya aku berhenti saat itu". batinku menyesali kebodohan kusendiri.

Undangan yang sudah disebar, dan Pernikahan yang gagal 1 tahun lalu, membuat malu seluruh keluarga besarku. Dengan tiba-tiba saja dia menghilang seolah ditelan bumi.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 02, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

HUMAYWhere stories live. Discover now