Hujan mengguyur basah kota Yogyakarta pada sore tenang di bulan November. Aku dan dia, duduk di angkringan pinggiran kota, menatap satu sama lain, hanyut dalam pembicaraan dan tertawa kecil.
"Jangan terlalu mencintai kafein!" ujarnya, sembari menukar gelas kopi ku dengan segelas teh tarik miliknya.
"Kenapa kamu sangat senang merasakan pahit saat kamu bisa merasakan yang manis?"
"Asal kamu tau..."
Aku menarik tempat duduk ku mendekat padanya,
"Tanpa merasakan pahit, kita tidak akan tau rasanya manis."
"Hm, aku mengerti. Tapi... kopi mengandung kafein yang memiliki dampak tidak baik untukmu. Kafein memiliki sifat stimulan. Kafein bisa membuat detak jantungmu lebih keras dari biasanya. Mempengaruhi fikiranmu, 'mood' mu, membuatmu susah tidur dan candu!"
Ia menyeruput kopi ditangannya pelan.
"Kalau begitu... Kamu adalah kafein?" tanyaku.
Tatapannya berubah, ia meletakkan kopi nya kembali di meja seraya menatap kosong ke jalanan.
"......"
Hanya terdengar suara hujan dan alunan musik keroncong dari Sundari Soekotjo mengisi keheningan kami.
"....."
Harusnya aku tidak bertanya, aku sudah tau. Ia menatapku sekali lagi. Tanpa senyum menghias bibirnya.
"Jangan mencintai kafein." jawabnya pelan.
