Pendahuluan

170 37 13
                                        

Sesosok wanita tua berjalan melintasi kesunyian gelapnya hutan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sesosok wanita tua berjalan melintasi kesunyian gelapnya hutan. Ia adalah sang peramal. Orang awam pasti memandang dirinya hanyalah seorang wanita tua renta. Mereka tidak tahu bahwa beliau adalah Tuan dari kaum peri dan ia sangat dihormati di kaum itu.

Wanita tua itu merupakan penghubung dunia peri, tidak itu saja kelebihan yang ia miliki. Ia juga memiliki pandangan yang super, ya mata batinnya dapat melihat apa yang akan terjadi dikemudian hari.

Tetapi beliau tidak pernah menceritakan apa yang telah ia lihat. Ia sering berpura-pura menjadi orang biasa saat berinteraksi dengan manusia, itu ia lakukan hanya untuk menutupi jati dirinya.

Kini ia sadang berdiri tegak di tengah-tegah hutan, menembus kesuyian dan kegelapan malam. Ia dapat merasakan lembutnya rerumputan yang tlah basah oleh embun pada telapak kakinya yang tak beralas.

Kini kabut terlihat samar-samar di kelilingnya, mungkin sudah menjelang fajar. Ia mendongak, matahari belum terlihat akan tetapi langit terlihat berwarna jingga, tidak lebih tepatnya berwarna merah tua mengerikan seperti aliran darah yang begitu kental di kobaran api yang berkobar dahsyat.

"Sepertinya ini waktunya." Ia menghela napas, "Akhirnya datang juga hari pembalasan bagi kaum pendosa di masa lalu. Mereka kini harus membayarnya."

Bukan itu saja, wanita tua itu juga mendapat penerawangan bila akan ada kegoyahan di dunia peri karena ada yang ingin memiliki memiliki batu mulia yang menjadi sumber kekuatan pada koloni-koloni peri.

Keseimbangan di dunia peri mulai terancam karena keserakahan manusia. Mereka (manusia) begitu terobsesi dan topeng untuk keserakahan mereka selalu mengatas nama-kan ilmu pengetahuan tapi mereka tidak sadar bila apa yang mereka lakukan selama ini hanya-lah perusakan.

Mata keemasan itu tidak sengaja melihat orang asing menjejakan kakinya di hutan. Ia tahu, orang asing tersebut adalah mahluk fana yang akan menggoyahkan dunia peri. Entah apakah perubahan itu menjadi kebaikan atau sebaliknya yang jelas semua pergolakan itu terpacu oleh sosoknya.

Dan disaat peramal itu memperdalam penglihatan batinnya, betapa terkejut dirinya. Ia melihat akan banyak jejak-jejak kaki di tanah leluhur ini. Tidak hanya satu orang namun banyak sekelompok orang yang akan tiba di sini.

Merasa ini tidak baik, ia langsung memutar balik langkah kakinya untuk kembali ke dunia peri. Setidaknya dia dapat mempertahankan apa yang menurutnya baik untuk dijaga.

🎶🎶🎶

Park Jiyeon tidak percaya dengan namanya peri. Dia selalu berfikir rasional.

Tidak ada namanya hantu atau yang sering kita sebut dengan mahluk-mahluk gentayangan. Ia bahkan tidak peduli dengan cerita mitos yang ada di kampung tempat ia melakukan penelitian. Mungkin karena dia adalah seorang arkeolog jadi dia tidak percaya dengan hal semacam itu.

Kata warga setempat bila hutan ini banyak roh-roh penasaran, ia sama sekali tidak menggubris dengan apa yang ia telah dengar.

Ia begitu percaya diri berdiri tegap di tengah-tengah hutan--sendirian, yang sering dikatakan berhantu tersebut.

Tiba-tiba Jiyeon melihat sesosok pria. Pria bertudung hitam itu berdiri di samping pohon cemara yang ada di atas bukit. Mata nan biru itu menyala dalam kegelapan. Sorot mata pria itu terlihat bingung di pandangan Jiyeon.

Jiyeon menjadi penasaran dengan sosok misterius tersebut. Ia mencoba mengejarnya tapi gagal. Sosok berjubah hitam itu telah lenyap ditelan gelapnya malam. Jiyeon kembali mengingat apa, kah dia pernah melihat beberapa warga yang mampir kesini sayangnya tidak, karena hampir seharian ini, ia sama sekali tidak melihat satu orang pun di dalam hutan sepanjang hari.

Ia sendirian sepanjang waktu. Sebenarnya observasi akan dilakukan esok hari tapi ketika Ibundanya menceritakan bila leluhur mendiang nenek buyutnya adalah seorang penyebuh di desa yang akan mereka datangi untuk observasi, Jiyeon langsung terbang sehari sebelum waktunya. Ia ingin melihat seperti apa tempat lahir beliau dan ia juga penasaran dengan cerita-cerita classic yang di kampung halaman nenek moyangnya. Siapa tahu ia mendapatkan sesuatu yang menarik di sana, pikir Jiyeon.

Cast:

Park Jiyeon

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Park Jiyeon

Gadis bermarga Park ini bekerja di bidang arkeolog. Ia begitu suka dengan namanya hal-hal yang berbau misteri. Benda-benda peradapan jaman dahulu itu kesukaan Jiyeon. Tidak ada kata takut di dalam buku kamus hidupnya.

Ia tidak percaya dengan hal yang berbau takhayul. Baginya cerita tersebut hanya ada di buku donggeng pengantar tidur.

Tetapi pemikiran itu mulai goyah di saat ia bertemu sesok misterius bertudung hitam. Netra itu bak batu safir yang menggoda dan itu membuat Jiyeon merinding dalam suatu kengerian yang menyenangkan.

-CONTINUE or End-

🎶🎶🎶

Halo semua maaf ya kalau aku mengeluarkan ff baru... dikarenakan exoo mulai mengeluarkan teaser cambekknyaa.. kan jadinya dirikuhh tergodakan juga deh wkwkwk...

Okeh deh bila banyak yang ingin lanjut baca bakalan aku buat series.. kalau dikit permintaan diriku minta maap... cerita ni akan di unpublish. Soo please dont be silent readers ya gaess ;')

WhisperTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang