Sekali lagi,
Suara seperti bunyi monoton mesin pendeteksi detak jantung yang terdengar tanpa putus di dalam kepalaku. Rasanya seperti mau pecah dan menyakitkan. Berulangkali sampai aku terbiasa akan rasa itu.
Namaku Caitlin. Jangan tanya nama belakangku, karena aku bersumpah untuk tidak memakainya lagi sampai kapanpun. Aku tinggal diruangan sempit yang kotor dan penuh dengan kejutan. Penjara.
Jika kalian bertanya kenapa aku bisa ada di tempat ini, maka aku akan menjawab kalau semua ini karena ulahku. Ya, memang seperti itu. Satu hal terjadi, menghacurkan seribu satu kebiasaan yang selalu terjadi. Hal yang membuatku membenci diri sendiri dan beberapa orang dekatku. Hal yang menyebabkan aku tidak ingin memakai nama belakang dan merasa iri melihat orang disekelilingku yang dengan bangga memamerkan nama belakang. Sama sepertiku dulu.
Seseorang akan bercerita karena ia merasa bahagia atau sedih. Sedangkan aku bercerita karena tidak merasakan apa-apa. Aku adalah orang yang egois. Menahan mulut untuk tidak bicara padahal mulutku sangat ingin berkoar-koar. Membuka telinga sekalipun yang kudengar bukan hal baik.
"Buka bajumu!"
Itu sebuah perintah. Perintah dari seorang sipir perempuan yang selalu menjagaku. Hal yang unik darinya adalah ketika ia berbicara, suara yang ia keluarkan seperti suara tikus terjepit di pintu. Jangan dibayangkan, karena itu tidak baik untuk sel otakmu. Lalu, kubuka baju tanpa suara.
"Seharusnya aku tidak berada disini. Seharusnya aku bisa duduk tenang dirumah tanpa bekerja. Seharusnya..."
Dia mengatakan kata 'seharusnya' beserta embel-embel lainnya sambil memeriksa tubuhku. Mengomel tanpa henti sambil bekerja, aku pikir itu bisa membuatnya lebih baik daripada dia diam saja. Setidaknya aku punya sesuatu yang bisa ku dengar. Dia pernah bercerita tentang anak-anaknya dan mantan suaminya. Saat itu ia mengatakan bahwa dia mencintai laki-laki yang salah dan dia merasa beruntung karena anaknya memiliki sifat yang sama dengannya, aku hanya tersenyum. Dan dia punya banyak cerita lainnya. Aku tidak ingin menceritakannya disini karena cerita ini tentang hidupku, bukan hidupnya.
Kalian tahu? Aku tidak punya teman disini. Berbicara jika petugas bertanya tentang keadaanku padahal aku sedang baik-baik saja. Jangan berfikir kalau mereka perhatian. Mereka bertanya karena itulah tugasnya. Mereka selalu memeriksa kesehatan tahanan disini agar mereka mendapat gaji. Mereka memberi kami makan karena tidak ingin repot mengurus pemakaman jika kami mati kelaparan atau penyakitan.
Aku tau dunia ini tidak sempit. Karena aku pernah ada di luasnya dunia. Aku tau seharusnya aku mengenal banyak orang disini. Tapi aku takut tidak dipedulikan lagi. Bahkan aku lebih tau seperti apa cara menghadapi dunia.
Setelah sesi pemeriksaanku selesai, aku di bawa ke dalam sel lagi.
"Kau betah disini?" Kata salah satu sipir yang paling muda.
"Tidak," Jawabku
"Aku juga. Disini terlalu banyak peraturan. Pemerintah menginginkan para tahanan mengikuti semua peraturan. Padahal seharusnya orang seperti kalian diberi kesempatan untuk melakukan hal baru agar melupakan apa yang sudah terjadi. Apalagi kalian adalah pelaku pembunuh..." Dia menutup mulut.
Ku angkat bahu, "Lanjutkan saja. Aku tidak peduli."
"Aku tidak bermaksud," Ucapnya
"Sebagian perkataanmu benar. Tapi aku rasa pemerintah ingin yang terbaik, bukan begitu? Kami adalah pelaku kejahatan, itu hukuman untuk kami."
Dia mengangguk, "Ya. Terkadang aku bosan disini. Jujur saja mereka membuatku muak." Lalu dia bercerita tentang pengalamannya saat bersekolah.
Aku selalu mendengar, tanpa minat untuk bercerita. Wanita ini bernama Claire. Dia sudah menikah dengan seorang dokter. Mereka tidak punya anak. Tetapi mereka tetap bahagia, katanya.
Setelah Claire pergi, kepalaku berdenging. Suaranya sama seperti sebelumnya. Seperti ada mesin pendeteksi jantung didalam kepalaku. Di pasang dengan volume paling keras. Lalu bayangan-bayangan yang sama seperti sebelumnya juga muncul. Seperti film yang diputar lagi padahal kau sudah bosan dan tidak ingin melihatnya. Kubenturkan kepala ke meja di sebelah tempat tidur. Dua kali. Tiga kali. Empat. Dan seterusnya. Sampai suara mesin jantung nya hilang dan berganti menjadi dengungan lebah yang sangat-sangat banyak. Kujambak rambutku sampai semua suara itu hilang.
Pukul 00.02 aku terbangun. Kupandangi sekeliling. Warna putih polos tanpa aksesoris di dinding. Hanya ada satu ranjang. Ini bukan ruang sel ku. Ruangan ini tidak asing. Aku pernah ada disini. Ruang perawatan untuk tahanan yang mengalami depresi.
Di sebelah ranjang ada nakas. Beberapa laci. Dan lampu tergantung di tengah ruangan.
Tidak sampai lima belas menit, ada suara tangisan, teriakan, suara seperti meja yang di pukul, tembakan, lalu senyap. Berkali-kali terdengar lalu menghilang. Kupukul kepalaku dengan kepalan tangan sekeras mungkin, berharap ingatan itu hilang. Tetapi sia-sia. Dengungannya semakin keras dan ingatan itu terputar dengan cepat di depan mata. Kututup mata dengan dua tangan dan menjerit. Rasanya ingin kuhancurkan apapun yang ada diruangan ini. Lalu ada beberapa tangan yang memegangi tubuh. Dan hitam.
Bisa dikatakan aku sudah sering mengalami hal ini. Menangis, meraung, memukul, menjambak dan pingsan karena suntikan. Sembuh. Lalu, terulang lagi.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik," Jawabku
"Aku senang mendengar kau baik-baik saja. Namaku annie, psikiater. Aku akan membantu agar hal ini tidak terulang lagi. Bisakah kita berteman?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Apa yang terjadi padaku?"
Wanita itu tersenyum hangat, "Kau baik-baik saja Miss Wilson. Hanya saja kita harus memperbaiki semuanya. Aku tau ini berat, tapi kita pasti akan berhasil."
"Panggil aku Caitlin." Ucapku datar
"Aku minta maaf, Caitlin." Jawab nya
Dia membereskan tasnya. Lalu duduk di atas ranjang.
"Kau mau coklat? Aku membelinya di toko langganan mertuaku. Aku sangat suka coklat," Ucapnya, menyodorkan satu kotak coklat tanpa lemak.
Ku gelengkan kepala, "Aku benci coklat."
"Oh! Maafkan aku. Aku cuma punya coklat. Atau kau ingin aku memanggil petugas agar membawakan kita teh?" balasnya
Ku gelengkan kepala, "Kurasa aku bisa sembuh jika otak ku dikeluarkan dari kepalaku."
Dia tersenyum lagi, "Aku tau. Hidup memang sangat menyebalkan. Tetapi kau harus ingat Caitlin, kita adalah perempuan. Kitalah yang melahirkan harapan. Aku ingin bercerita sedikit tentang pengalamanku. Aku adalah anak yatim piatu. Aku tidak pernah mengetahui dimana orang tuaku. Aku tidak peduli apakah mereka masih hidup atau sudah tiada," dia menghela nafas panjang, "Aku ingin sekali menjadi orang lain yang mempunyai keluarga lengkap. Tapi tidak bisa," dia tertawa renyah, "Maaf aku menambah beban padamu. Aku tidak bermaksud untuk..."
"Lanjutkan saja. Aku senang mendengar orang bercerita," jawabku saat dia terlihat menangis
"Terkadang hidup seperti memakan brokoli. Jika kau suka dan senang akan kehidupan maka kau akan menikmatinya seperti kau memakan brokoli tanpa protes, dan sebaliknya," dia menatapku, "kau punya keluarga?"
Kugelengkan kepala.
"Kita sama," Katanya sambil tersenyum, "Dimana mereka?"
Kugelengkan lagi kepalaku.
"Kita sama lagi," balasnya menyunggingkan senyum lebar.
"Pernah bertemu dengan mereka?"
Aku hanya diam.
"Aku tidak," katanya, "28 tahun 158 hari yang lalu aku lahir, tidak pernah tau dimana mereka."
Dia bercerita sambil tersenyum seolah semua itu bukan beban. Annie adalah orang yang hangat. Dia selalu tertawa dan tersenyum. Setelah dia bicara banyak, aku yakin laki-laki manapun yang bertemu dengannya akan jatuh cinta. Tubuhnya mungil, matanya bulat dan hitam.
...
Selamat datang di cerita saya yang kedua!!
Semoga suka!
With love
YOU ARE READING
Dust
RomanceKasihan para pelaku kejahatan. Dia memang bersalah, tetapi bukankah setiap manusia punya kesempatan?
