"Bagaimana bisa itu terjadi Ve?" Tanya Salma dengan wajah yang sulit diartikan, mungkin dia terkejut. Oh bahkan aku lebih dari itu.
"Aku juga tidak mengerti bagaimana bisa seperti ini Sal, bagaimana dengan pendapat mu Je?" Mataku memandang Jessy yang sedari tadi hanya menunduk layaknya seorang manusia yang habis melakukan dosa besar.
"Aku tidak mengerti hal seperti itu Ve, aku pikir itu hanya ilusi. Tapi bagaimana mungkin teman ku sendiri bahkan memiliki hal yang tidak pernah kupercayai sebelumnya"
...
Aku melangkahkan kaki menuju kamar kecil untuk sekedar menghujani kepala ku, kejadian tadi malam sungguh membuat otakku bekerja lebih cepat guna menelaah apa yang sebenarnya terjadi.
Kring kring kring
"Halo" suara diseberang sana berbicara lebih dulu.
Aku bergeming, bagaimana dia bisa menelponku? Dari mana ia tau nomorku? Huh!
"Kamu pasti menghasut temanku untuk memberikan nomor ponselku padamu ya kan? Kamu memang suka sekali memaksa!" Aku berbicara dengan nada tinggi, tentu saja.
"Hey tahan emosi mu, aku hanya ingin menanyakan bagaimana kabarmu?"
"Kabar kamu bilang?! Aku baik baik saja bahkan karena aku masih bisa memarahimu!" Aku masih tak bisa menurunkan intonasi bicaraku, oh Tuhan sebenci itukah aku padanya?
"Aku sedang berada diruang tamu rumahmu. Cepat turun sekarang, ada hal yang ingin aku jelaskan padamu" Ucap Gatra dengan santainya.
Apa apaan ini? Bagaimana mungkin Gatra bisa sampai ruang tamu rumahku? Apa saja yang sudah ia bicarakan dengan ibuku? Tolong aku ya Tuhan.
Aku menuruni tangga lalu menghampiri nya masih dengan tersulut amarah, tentu saja.
"Ada apa kau kemari? Belum puas selalu mengacaukan hidupku setiap hari? Sekarang kau bahkan ingin lebih masuk ke dalam duniaku lalu menyusahkan hidupku?" Tanya ku dengan mata berapi api.
"Venus, aku tau apa yang terjadi padamu" Gatra begitu serius mengatakan itu.
"Ikut aku" ucapnya kembali.
Kalian tahu dia membawaku kemana? Gatra membawa ku memasuki pelosok hutan rimbun di ujung kota.
"Sekarang tunjukan aksimu Venus" Gatra kembali memerintah!
Aku menengok sekilas padanya, lalu kembali menatap kedepan--ranting pohon--dan mulai menitikberatkan fokusku pada benda itu dengan tangan yang menjulur ke depan mengupayakan sesuatu terjadi pada benda tersebut. Dan benar, ranting pohon itu terangkat lalu kulemparkan dengan membayangkan bahwa benda itu sudah berada di tanganku, tanpa menyentuhnya. Aku berhasil. Lalu aku terdiam.
"Dugaanku benar Venus, kamu terkena sihir"
"Omong kosong apa itu Gatra? Aku tidak pernah berbuat yang aneh aneh selain padamu. Jadi bila ada yang menyihirku itu pasti kamu" aku mengatakannya dengan jari telunjuk yang sudah mengarah pada bahu sebelah kanan Gatra. Tapi Gatra hanya menatapku diam.
...
Aku sampai dirumah diantar pulang dengan Gatra, tentu saja. Kan dia yang mengajakku berkelana tadi, dan artinya dia juga yang bertanggung jawab mengantarkan aku sampai rumah dengan selamat.
